constantly talking isn't necessary communicating (joel barish)
lagi-lagi saya mengutip quote dari eternal sunshine of the spotless mind. ini adalah quote yang dari pertama kali dengar langsung saya iyakan begitu saja. semacam sesuatu yang taken for granted bagi saya. sesuatu yang tanpa perlu mengalaminya pun, sudah saya pastikan kebenarannya. well, sebenarnya kondisi semacam ini seringkali saya alami. situasi dimana saya selalu bertemu dengan orang ini, berbicara sepanjang waktu, tapi sebenarnya tidak ada komunikasi di dalamnya. karena pada akhirnya pembicaraan itu hanyalah sebatas aktivitas pengisi kekosongan ketika kami bersama. keadaan yang terlihat baik-baik saja dari luar, tapi kosong melompong di dalam, bahkan tidak pernah baik-baik saja.
ini adalah keadaan yang benar-benar menyakitkan, sebuah hubungan yang tidak sehat. lebih menyakitkan lagi, ketika saya menyadari itulah keadaan yang selama ini saya jalani dengan mami. bagi orang lain, mungkin melihat saya adalah orang yang cukup dekat dengan mami. saya adalah orang yang tak segan mengekspresikan rasa sayang pada mami, bahkan di depan umum sekalipun. ketika yang lain merasa malu mencium ataupun dicium, memeluk ataupun dipeluk oleh ibu di depan teman-temannya, saya merasa biasa saja, justru itu adalah habit yang menyenangkan. kerapnya malah saya yang mencium dan memeluk mami duluan soalnya mami itu tipe yang sok jual mahal, hehe.
tapi itu adalah sesuatu yang sangat permukaan dan dangkal. sesuatu yang saya dan mungkin juga orang lain maknai secara berlebihan. hingga tadi malam saya disadarkan dan tersadar bahwa selama ini hubungan kami tidak baik. tadi malam, saya menangis sesenggukan di teras, dan ada mami di sebelah mendengarkan apa yang saya keluh kesahkan tentang perasaan tidak betah berada di rumah yang semakin menganga. saya menumpahkan semua uneg-uneg tentang kondisi rumah yang tidak nyaman, terutama tentang sikap salah satu adik saya yang teramat sangat menyebalkan. dan saya meminta beliau untuk memfixkan hal-hal yang saya rasa buruk untuk dibiarkan begitu saja. mami pun berkomentar bahwa beliau akan mendiskusikan itu semua, dan bahwa tidak mengetahui semua yang saya rasakan karena saya tidak pernah mengkomunikasikannya.
momen ini pun menjadi titik bagi saya untuk menyadari lebih lagi bahwa saya adalah seseorang yang sangat introvert, yang berusaha untuk menanganinya sendiri selagi mampu. sayangnya saya tidak pernah mampu menghadapinya dengan benar, apa yang kemudian saya lakukan adalah memendam dan mendiamkannya saja untuk menghindari konflik yang mungkin mencuat bila semua itu saya keluarkan dari persembunyiannya. tapi tempat persembunyian ini punya kapasitas tertentu, yang ketika sudah terlalu penuh akan meledak suatu ketika. dan suatu ketika adalah tadi malam.
tapi hal ini ternyata juga dilakukan oleh mami. betapa beliau sebenarnya punya banyak uneg-uneg juga tentang saya, dan yang lainnya. tentang sikap kami yang kerap menyakiti hati mami, tapi dipendam dan direh-reh sendiri di dalam hati untuk menghindari konflik yang lebih besar ketika itu diungkapkan yang justru akan lebih menyakiti hati beliau. pahit sekali saya mendengarnya. ketika saya berpikir bahwa saya adalah anak yang cukup baik, ternyata itu adalah pikiran yang muluk. karena pada kenyataannya saya adalah seorang egois di keluarga yang ingin semuanya terasa baik-baik saja bagi saya, tapi tidak berusaha membuat diri saya sebagai seseorang yang baik-baik saja bagi yang lain. dan apa yang bisa saya ungkapkan menanggapi uneg-uneg mami hanyalah: maaf. kata sesingkat itu tapi benar-benar tulus saya ucapkan bersama janji dalam hati untuk lebih, lebih, dan lebih berbakti.
tapi maaf itulah yang membuat mami merangkulkan tangannya, memeluk dan membiarkan saya menangis sesengggukan (lagi) di dekapan mami. personal space yang sebelumnya menjadi teman selama saya dan mami berbicara melebur saja setelah kata maaf terucap. ya tuhan, betapa mudahnya seorang ibu memaafkan..
semenjak tadi malam, semoga saya dan mami benar-benar menyadari pentingnya komunikasi, bukan sekedar berbicara dan berbicara saja. semoga selanjutnya kami memang benar-benar baik-baik saja. ich liebe dich, mutter :*
anyway, you're absolutely right, joel. thanks for your meaningful quotation.. :)
lagi-lagi saya mengutip quote dari eternal sunshine of the spotless mind. ini adalah quote yang dari pertama kali dengar langsung saya iyakan begitu saja. semacam sesuatu yang taken for granted bagi saya. sesuatu yang tanpa perlu mengalaminya pun, sudah saya pastikan kebenarannya. well, sebenarnya kondisi semacam ini seringkali saya alami. situasi dimana saya selalu bertemu dengan orang ini, berbicara sepanjang waktu, tapi sebenarnya tidak ada komunikasi di dalamnya. karena pada akhirnya pembicaraan itu hanyalah sebatas aktivitas pengisi kekosongan ketika kami bersama. keadaan yang terlihat baik-baik saja dari luar, tapi kosong melompong di dalam, bahkan tidak pernah baik-baik saja.
ini adalah keadaan yang benar-benar menyakitkan, sebuah hubungan yang tidak sehat. lebih menyakitkan lagi, ketika saya menyadari itulah keadaan yang selama ini saya jalani dengan mami. bagi orang lain, mungkin melihat saya adalah orang yang cukup dekat dengan mami. saya adalah orang yang tak segan mengekspresikan rasa sayang pada mami, bahkan di depan umum sekalipun. ketika yang lain merasa malu mencium ataupun dicium, memeluk ataupun dipeluk oleh ibu di depan teman-temannya, saya merasa biasa saja, justru itu adalah habit yang menyenangkan. kerapnya malah saya yang mencium dan memeluk mami duluan soalnya mami itu tipe yang sok jual mahal, hehe.
tapi itu adalah sesuatu yang sangat permukaan dan dangkal. sesuatu yang saya dan mungkin juga orang lain maknai secara berlebihan. hingga tadi malam saya disadarkan dan tersadar bahwa selama ini hubungan kami tidak baik. tadi malam, saya menangis sesenggukan di teras, dan ada mami di sebelah mendengarkan apa yang saya keluh kesahkan tentang perasaan tidak betah berada di rumah yang semakin menganga. saya menumpahkan semua uneg-uneg tentang kondisi rumah yang tidak nyaman, terutama tentang sikap salah satu adik saya yang teramat sangat menyebalkan. dan saya meminta beliau untuk memfixkan hal-hal yang saya rasa buruk untuk dibiarkan begitu saja. mami pun berkomentar bahwa beliau akan mendiskusikan itu semua, dan bahwa tidak mengetahui semua yang saya rasakan karena saya tidak pernah mengkomunikasikannya.
momen ini pun menjadi titik bagi saya untuk menyadari lebih lagi bahwa saya adalah seseorang yang sangat introvert, yang berusaha untuk menanganinya sendiri selagi mampu. sayangnya saya tidak pernah mampu menghadapinya dengan benar, apa yang kemudian saya lakukan adalah memendam dan mendiamkannya saja untuk menghindari konflik yang mungkin mencuat bila semua itu saya keluarkan dari persembunyiannya. tapi tempat persembunyian ini punya kapasitas tertentu, yang ketika sudah terlalu penuh akan meledak suatu ketika. dan suatu ketika adalah tadi malam.
tapi hal ini ternyata juga dilakukan oleh mami. betapa beliau sebenarnya punya banyak uneg-uneg juga tentang saya, dan yang lainnya. tentang sikap kami yang kerap menyakiti hati mami, tapi dipendam dan direh-reh sendiri di dalam hati untuk menghindari konflik yang lebih besar ketika itu diungkapkan yang justru akan lebih menyakiti hati beliau. pahit sekali saya mendengarnya. ketika saya berpikir bahwa saya adalah anak yang cukup baik, ternyata itu adalah pikiran yang muluk. karena pada kenyataannya saya adalah seorang egois di keluarga yang ingin semuanya terasa baik-baik saja bagi saya, tapi tidak berusaha membuat diri saya sebagai seseorang yang baik-baik saja bagi yang lain. dan apa yang bisa saya ungkapkan menanggapi uneg-uneg mami hanyalah: maaf. kata sesingkat itu tapi benar-benar tulus saya ucapkan bersama janji dalam hati untuk lebih, lebih, dan lebih berbakti.
tapi maaf itulah yang membuat mami merangkulkan tangannya, memeluk dan membiarkan saya menangis sesengggukan (lagi) di dekapan mami. personal space yang sebelumnya menjadi teman selama saya dan mami berbicara melebur saja setelah kata maaf terucap. ya tuhan, betapa mudahnya seorang ibu memaafkan..
semenjak tadi malam, semoga saya dan mami benar-benar menyadari pentingnya komunikasi, bukan sekedar berbicara dan berbicara saja. semoga selanjutnya kami memang benar-benar baik-baik saja. ich liebe dich, mutter :*
anyway, you're absolutely right, joel. thanks for your meaningful quotation.. :)
Komentar
Posting Komentar