Tanpa sadar aku telah merangkak keluar dari kehidupan orang-orang yang aku sayangi.
Dan ketika jarak terasa semakin jauh, seandainya bisa, aku akan berlari kembali..
(salah satu status fb)
Status fb dengan batasan maksimal 160 karakter, tulisan yang sangat singkat, tapi ketika digali maknanya bisa sangat dalam. Seperti status yang ak post beberapa hari yang lalu. Suatu titik kesadaranku yang dengan telaknya meninju ulu hati sampai lebam. Ya, bagaimana tidak lebam ketika merasa terasing sendiri, kehilangan konvoi sosial tanpa disadari..
Proksimitas, aku merindukanmu begitu terpendam. Jarak yang begitu jauh terasa menyesakkan, dan rutinitas
semakin menambah panjang saja jarak yang tercipta. Jarak bukan lagi sekedar jarak secara fisik dan ruang, tapi juga merenggangnya kelekatan dan semakin habisnya komunikasi dilahap oleh rutinitas yang membuatku melupakan komunikasi. Dan beginilah akibatnya, aku kehilangan sekian banyak teman-teman yang pernah menjadi teman dekatku dulu.
Ok, ak mengaku sajalah bahwa ak bukanlah penganut mahzab friendship forever, itu sungguh terasa muluk buatku. Menjanjikan seseorang untuk selalu terus berhubungan dekat denganku adalah suatu yang mustahil, karena suatu saat ak akan dilupakan seperti halnya ak melupakan. Tapi ketika hal ini terjadi, dan ak menyadarinya, sesak sekali rasanya. Ketika ak tersadar bahwa ak telah melupakan dan dilupakan. Seperti ada sebuah lubang, a black hole in my heart, kata seseorang dulu.
Lalu, ketika kesadaran itu menyeruak dan memborbardir otak, kata-kata inilah yang melintas berulang kali, seperti berita berjalan yang muncul di ujung bawah televisi:
Tanpa sadar aku telah merangkak keluar dari kehidupan orang-orang yang aku sayangi.
Dan ketika jarak terasa semakin jauh, seandainya bisa, aku akan berlari kembali..
Ak belajar bahwa manusia saling memberikan stimulus dan respon satu sama lain. Misalkan saja, ketika ak tersenyum pada kalian, kalian akan balas tersenyum. Tapi ketika ak masam, kalian tak akan berani menyapaku. Dan ak juga semakin urung untuk menyapa kalian. Seperti juga dalam situasi seperti ini. Melupakan dan dilupakan.
Melupakan adalah sebuah proses yang amat lambat, analoginya adalah merangkak. Ya, ak melupakan kalian tanpa sengaja, tanpa disadari, menciptakan kebisuan. Dan entah apa kalian juga dengan tak sengaja melupakanku juga atau aku yang terlalu tuli mendengar suara ketukan yang kalian ciptakan, atau justru memang kalian sengaja melupakanku, ak tidak tahu. Yang jelas kebisuan itu semakin bisu saja. Sunyi dan senyap dan ak ingin membuatnya ramai seketika. Ya, ak ingin berlari kembali pada kalian, mengorek memori hingga bisa mengingat lagi, membuatnya ramai lagi dengan riuh suara tawa kita, seandainya saja bisa......
Seandainya saja bisa, berarti tidak ada salahnya mencoba bukan? Lalu ak mencoba, mengetuk pintu kalian lagi, mencoba berlari memeluk kalian kembali, membinasakan jarak di antara kita. Sayangnya ak hanya bisa merangkak, perlahan-lahan, amat perlahan. Perlahan menghapus mili demi mili jarak di antara kita, memperpendek jalanku untuk berpulang pada kalian, bersama sebuah doa, semoga kalian masih mau menyambutku hangat..
Komentar
Posting Komentar