pernahkah merasakan rasa takut sebelum mencoba sesuatu? pesimisme yang membuncah, kegamangan untuk melangkah, ketidakyakinan pada kekuatan sendiri, serasa ingin mati saja daripada menjalani sesuatu itu? orang bilang, menyerah sebelum berperang. padahal itu semua hanya karena omongan orang betapa mengerikannya medan laga yang harus dihadapi. omongan orang yang menghambatmu untuk optimis dan berbahagia dengan jalan yang akan ditempuh.
begitu juga untuk urusan akademis. saya pernah mengalaminya berkali-kali, tapi yang teringat jelas dan sangat berkesan hanya ada dua. pertama, saat semester 3 di depan mata. semester paling hectic dan paling capek sepanjang perkuliahan. dua mata kuliah praktikum, dan itu errr menghabiskan waktu mainmu. saya ketakutan sekali, merasa tidak akan mampu melewatinya dengan selamat. ketakutan irasional yang membayang tak terelakkan. lalu hasilnya? saya masih hidup, selamat sampai tujuan dengan hasil memuaskan. ip melonjak cukup tinggi dibanding semester sebelumnya, saya tersenyum gembiraa sekali. walaupun memang semester 3 bukanlah hal yang mudah dilewati. saya pernah stress sampai nangis-nangis pas ngerjain laporan praktikum gara-gara gak ngerti apa yang saya tulis. saya merasa payah sampai pernah jatuh sakit yang lumayan mengganggu dan lama dan menghabiskan banyak biaya. saya jadi jarang banget pulang magelang, dan menyedihkannya hilang kontak dengan banyak teman sma, hal yang paling saya sesali. tapi di balik itu semua, ini adalah semester paling produktif. dengan transkrip memuaskan yang menaikkan ipk saya seperti semula, dan dua jilid laporan berhasil tersusun rapi. dan yang bikin saya lebih senang, di semester 3, saat laporan melanda, saya malah ikutan volunteer ffd yang cukup menyita waktu beberapa minggu. ketika yang lain mungkin cukup disibukkan dengan laporan, saya masih dipluskan dengan ffd. and i almost did it perfectly! semester 3, case pertama saya.
case kedua adalah psikometri. wuih, mata kuliah ini lumayan ditakuti anak psikologi karena nyetatistik dan emang susah sih. belum lagi isu penilaian dengan kurva normal yang akan selalu mengorbankan paling tidak 1 anak buat memanggul nilai e di transkripnya. belum selesai, di fakultas kami dua kelas psikometri diampu oleh salah satu dosen yang terkenal susah banget nilainya. jujur saya memang ketakutan waktu itu. oh god, psikometri, what should i do? saya takut nggak bisa, karena pas statistik yang dosennya gak pelit dan take home mlulu aja saya cuma dapet b. nah ini? gilaaaa. tapi saya juga nekat ambil kelasnya dosen yang disebut di atas. sebab, setau saya beliau emang susah nilainya, tapi materinya dapet. itu yang saya kejar, paham sama materi. di kelas ini saya bener bener usaha. dateng pagian biar dapet kursi depan, baca materi sebelum kuliah, juga belajar bareng sama temen-temen. hmm, usaha saya akhirnya terjawab di uts, memuaskan. dari situlah saya memupus ketakutan itu, lebih optimis dan terus usaha. lalu tadi, saya menemukan nilai saya di transkrip, yah saya puas. saya dapet materinya, sepaket sama nilainya. i did it again!
jadi apa? semua ketakutan itu tidak perlu diagung-agungkan. hal yang perlu dilakukan untuk semua hal adalah lakukan, bergeraklah. pada saatnya nanti waktu akan menunjukkan jerih payahmu. I proved it twice, and i'll prove it again and again. maka bergeraklah, berproseslah!
Komentar
Posting Komentar