err, saya lagi over produktif skrg, bawaannya pengen nulis mlulu. maaf ya blog jadi sering dijamah, hmm biar kamu gak jablay juga sih *apa sih nop*
kali ini saya ingin membahas tentang hidup, jalan kehidupan, tepatnya pilihan hidup. eh, tapi saya ngelantur dulu ya, hehe..
hmm, hidup itu katanya sudah ada yang menggariskan, membuatkan skenario dengan apik ciamik yang terbaik. tuhanlah sutradara kehidupan itu. mungkin tuhan adalah sutradara paling produktif karena dalam satu waktu mampu menyutradarai beribu juta skenario manusia. akan tetapi di luar itu semua, benarkah tuhan telah menggariskan semuanya? atau seberapa detail ia membuatkan jalan cerita untuk manusia? di luar benar tidaknya anggapan itu, saya berpikir bahwa manusia dengan cipta, rasa, karsa nya adalah makhluk hidup yang didesain untuk aktif menentukan pilihan, termasuk jalan hidupnya.
jalan hidup, rasanya sangat panjang dan sangat luas. tapi di jaman modern seperti ini, sepertinya jalan hidup akan dititikberatkan pada pendidikan, pekerjaan dan tak lupa pasangan hidup. saya mempercayai untuk hal seperti ini manusia lah yang aktif menentukan pilihan, menimang alternatif kehidupan yang terbayang, untuk kemudian memutuskan. mau lewat jalan yang mana. eh, tapi saya saja bingung, bukankah ketika kita menempuh perjalanan kita sudah tahu tujuan dulu? apakah tiap manusia sudah punya atau mungkin menyadari tujuan hidupnya sebelum memulai perjalanan? ataukah kehidupan ini seperti saat-saat galau saya yang suka memutari kota tanpa tujuan, memilih jalan tanpa tujuan apapun, hanya berjalan dan menikmati prosesnya?
baiklah, mari kembali tentang jalan hidup. saya berpikir tentang pendidikan awal manusia yang dipilihkan orang tua kita. pendidikan terbaik saat tk, dipilihkan tk terbaik di tempatnya. yang mungkin sudah mengajarkan banyak hal macam hitungan maupun membaca, memforsir kita untuk belajar melebihi kapasitas kita. untuk apa itu semua? tentu saja agar kita pandai, agar kita diterima di SD unggulan yang seleksi masuknya minta ampun susahnya. lalu kita diterima di SD unggulan. kembali kita belajar, tentang banyak hal, tentang matematika, bahasa indonesia, ipa, ips, bahasa inggris, karawitan, kesenian. ingatkah rasa bosannya kita di kelas mendengarkan guru mengoceh tentang hal yang tidak kita ingin ketahui, malasnya kita mengerjakan soal matematika yang susah, sementara lapangan di luar kelas sudah memanggil-manggil mengajak bermain. mengajak kita berlari-lari di atasnya, tertawa terbahak-bahak memenuhi udara di sekelilingnya, merasakan angin membelai wajah polos kita? tapi tidak, kita berusaha keras untuk mengabaikan itu semua. kita melawan bosan dan malas, karena kita harus belajar, agar pandai, agar nilai rapor tak ada yang merah. kita melawannya, mengerem menikmati masa ceria anak kecil yang selalu menyenangkan untuk dikenang. demi nilai bagus agar tidak dimarahi orang tua, agar tidak dianggap bodoh oleh guru, agar kita bisa meneruskan di SMP favorit yang juga minta ampun seleksi masuknya.
lalu kita diterima di SMP favorit. kita mengulangi siklus yang sama. belajar lebih giat dan giat lagi. demi apa? masih demi nilai yang bagus, masih agar diterima di SMA favorit agar terlihat keren.
lalu kita masuk di SMA favorit. kita kembali belajar, tapi godaan semakin besar. kita semakin tersadar ada dunia indah di luar sana, ada teman-teman yang bisa diajak bermain. asyik sekali. kita lalai belajar, mengendur tapi tetap ingin nilai bagus, agar tetap dipuji dan dianggap pintar. dengan teman-teman kita bersekongkol, kita contek-contekkan, berbuat curang demi nilai yang baik, tanpa belajar. kita merusak nilai diri dengan hal yang tidak baik. demi apa? demi nilai bagus. bahkan saat ujian nasional dan ujian masuk universitas yang lebih susah seleksi masuknya, kita pun masih contek-contekkan, tak lekas tersadar betapa buruknya hal itu dilakukan. demi apa? masih sama, demi nilai bagus dan universitas favorit.
tunggu tak hanya universitas favorit, tapi juga jurusan favorit. yang banyak digandrungi dan dicari orang. yang lapangan kerjanya luas dan banyak duitnya. oya, yang seperti keinginan orang tua, agar tak mengecewakan mereka. hanya itu yang dipikirkan, hanya itu yang diperhatikan. mengabaikan passionate, kemauan, dan keingintahuan kita. kita abaikan semuanya itu, yang penting universitas dan jurusan favorit, dengan prospek kerja yang cerah.
lalu kita kuliah. ironisnya, kita kuliah untuk mencari kerja teman, bukan mencari ilmu, menjawab rasa ingin tahu. kita belajar menjelang ujian, mengeluhi tugas, membolos lalu titip absen. mengejar dosen yang murah nilai, walau cara mengajarnya bikin mengantuk dan tidak bisa mentransfer ilmunya. yang dikejar adalah nilai-nilai yang terpampang di khs. tidak peduli kemampuan kita sebenarnya. yang penting nilai. titik.
lalu kita lulus, kita bekerja. bekerja sangat keras. dari pagi hingga malam. mencari materi sebanyak-banyaknya. untuk mempersiapkan pernikahan dengan kekasih hati yang dipuja. agar bisa memiliki keluarga yang bahagia. padahal kita juga belum tentu arti bahagia itu seperti apa. pesta pernikahan yang meriah, mengundang semua orang. lalu kita berkeluarga, memiliki anak. dan kita masih tetap bekerja keras, dari pagi hingga malam mengumpulkan pundi-pundi rupiah. untuk apa? untuk membelikan ini itu, rumah yang bagus, mobil mewah, pakaian trendi, makanan mahal, dan lain sebagainya. agar keluarga berkecukupan meungkin berlebih, agar keluarga bahagia. tapi tak semuanya merasa bahagia, tak selamnya bahagia. ada merasa yang kering kerontang atas kasih sayang. anak-anak yang dilimpahi materi untuk beli ini itu. tapi tak pernah mendapatkan kasih yang cukup, orang tua yang terlalu sibuk bekerja, hingga lupa untuk mengasihi anaknya. anak-anak malang yang mungkin berpikir seandainya ada toko yang menjual kasih sayang orang tua. anak-anak malang yang kemudian akan menjalani kehidupan yang sama dengan orang tuanya. kehilangan esensi kehidupan hanya untuk mengejar materi untuk mengkonsumsi barang-barang yang tak pernah dibutuhkan, hanya diinginkan. mengorbankan banyak hal indah dari hidup, mengabaikan passionatenya. demi apa? untuk apa? demi konsumerisme tak berujung yang akan selalu terreproduksi. then what is it for? consumerism? that's so pathetic dude!
kali ini saya ingin membahas tentang hidup, jalan kehidupan, tepatnya pilihan hidup. eh, tapi saya ngelantur dulu ya, hehe..
hmm, hidup itu katanya sudah ada yang menggariskan, membuatkan skenario dengan apik ciamik yang terbaik. tuhanlah sutradara kehidupan itu. mungkin tuhan adalah sutradara paling produktif karena dalam satu waktu mampu menyutradarai beribu juta skenario manusia. akan tetapi di luar itu semua, benarkah tuhan telah menggariskan semuanya? atau seberapa detail ia membuatkan jalan cerita untuk manusia? di luar benar tidaknya anggapan itu, saya berpikir bahwa manusia dengan cipta, rasa, karsa nya adalah makhluk hidup yang didesain untuk aktif menentukan pilihan, termasuk jalan hidupnya.
jalan hidup, rasanya sangat panjang dan sangat luas. tapi di jaman modern seperti ini, sepertinya jalan hidup akan dititikberatkan pada pendidikan, pekerjaan dan tak lupa pasangan hidup. saya mempercayai untuk hal seperti ini manusia lah yang aktif menentukan pilihan, menimang alternatif kehidupan yang terbayang, untuk kemudian memutuskan. mau lewat jalan yang mana. eh, tapi saya saja bingung, bukankah ketika kita menempuh perjalanan kita sudah tahu tujuan dulu? apakah tiap manusia sudah punya atau mungkin menyadari tujuan hidupnya sebelum memulai perjalanan? ataukah kehidupan ini seperti saat-saat galau saya yang suka memutari kota tanpa tujuan, memilih jalan tanpa tujuan apapun, hanya berjalan dan menikmati prosesnya?
baiklah, mari kembali tentang jalan hidup. saya berpikir tentang pendidikan awal manusia yang dipilihkan orang tua kita. pendidikan terbaik saat tk, dipilihkan tk terbaik di tempatnya. yang mungkin sudah mengajarkan banyak hal macam hitungan maupun membaca, memforsir kita untuk belajar melebihi kapasitas kita. untuk apa itu semua? tentu saja agar kita pandai, agar kita diterima di SD unggulan yang seleksi masuknya minta ampun susahnya. lalu kita diterima di SD unggulan. kembali kita belajar, tentang banyak hal, tentang matematika, bahasa indonesia, ipa, ips, bahasa inggris, karawitan, kesenian. ingatkah rasa bosannya kita di kelas mendengarkan guru mengoceh tentang hal yang tidak kita ingin ketahui, malasnya kita mengerjakan soal matematika yang susah, sementara lapangan di luar kelas sudah memanggil-manggil mengajak bermain. mengajak kita berlari-lari di atasnya, tertawa terbahak-bahak memenuhi udara di sekelilingnya, merasakan angin membelai wajah polos kita? tapi tidak, kita berusaha keras untuk mengabaikan itu semua. kita melawan bosan dan malas, karena kita harus belajar, agar pandai, agar nilai rapor tak ada yang merah. kita melawannya, mengerem menikmati masa ceria anak kecil yang selalu menyenangkan untuk dikenang. demi nilai bagus agar tidak dimarahi orang tua, agar tidak dianggap bodoh oleh guru, agar kita bisa meneruskan di SMP favorit yang juga minta ampun seleksi masuknya.
lalu kita diterima di SMP favorit. kita mengulangi siklus yang sama. belajar lebih giat dan giat lagi. demi apa? masih demi nilai yang bagus, masih agar diterima di SMA favorit agar terlihat keren.
lalu kita masuk di SMA favorit. kita kembali belajar, tapi godaan semakin besar. kita semakin tersadar ada dunia indah di luar sana, ada teman-teman yang bisa diajak bermain. asyik sekali. kita lalai belajar, mengendur tapi tetap ingin nilai bagus, agar tetap dipuji dan dianggap pintar. dengan teman-teman kita bersekongkol, kita contek-contekkan, berbuat curang demi nilai yang baik, tanpa belajar. kita merusak nilai diri dengan hal yang tidak baik. demi apa? demi nilai bagus. bahkan saat ujian nasional dan ujian masuk universitas yang lebih susah seleksi masuknya, kita pun masih contek-contekkan, tak lekas tersadar betapa buruknya hal itu dilakukan. demi apa? masih sama, demi nilai bagus dan universitas favorit.
tunggu tak hanya universitas favorit, tapi juga jurusan favorit. yang banyak digandrungi dan dicari orang. yang lapangan kerjanya luas dan banyak duitnya. oya, yang seperti keinginan orang tua, agar tak mengecewakan mereka. hanya itu yang dipikirkan, hanya itu yang diperhatikan. mengabaikan passionate, kemauan, dan keingintahuan kita. kita abaikan semuanya itu, yang penting universitas dan jurusan favorit, dengan prospek kerja yang cerah.
lalu kita kuliah. ironisnya, kita kuliah untuk mencari kerja teman, bukan mencari ilmu, menjawab rasa ingin tahu. kita belajar menjelang ujian, mengeluhi tugas, membolos lalu titip absen. mengejar dosen yang murah nilai, walau cara mengajarnya bikin mengantuk dan tidak bisa mentransfer ilmunya. yang dikejar adalah nilai-nilai yang terpampang di khs. tidak peduli kemampuan kita sebenarnya. yang penting nilai. titik.
lalu kita lulus, kita bekerja. bekerja sangat keras. dari pagi hingga malam. mencari materi sebanyak-banyaknya. untuk mempersiapkan pernikahan dengan kekasih hati yang dipuja. agar bisa memiliki keluarga yang bahagia. padahal kita juga belum tentu arti bahagia itu seperti apa. pesta pernikahan yang meriah, mengundang semua orang. lalu kita berkeluarga, memiliki anak. dan kita masih tetap bekerja keras, dari pagi hingga malam mengumpulkan pundi-pundi rupiah. untuk apa? untuk membelikan ini itu, rumah yang bagus, mobil mewah, pakaian trendi, makanan mahal, dan lain sebagainya. agar keluarga berkecukupan meungkin berlebih, agar keluarga bahagia. tapi tak semuanya merasa bahagia, tak selamnya bahagia. ada merasa yang kering kerontang atas kasih sayang. anak-anak yang dilimpahi materi untuk beli ini itu. tapi tak pernah mendapatkan kasih yang cukup, orang tua yang terlalu sibuk bekerja, hingga lupa untuk mengasihi anaknya. anak-anak malang yang mungkin berpikir seandainya ada toko yang menjual kasih sayang orang tua. anak-anak malang yang kemudian akan menjalani kehidupan yang sama dengan orang tuanya. kehilangan esensi kehidupan hanya untuk mengejar materi untuk mengkonsumsi barang-barang yang tak pernah dibutuhkan, hanya diinginkan. mengorbankan banyak hal indah dari hidup, mengabaikan passionatenya. demi apa? untuk apa? demi konsumerisme tak berujung yang akan selalu terreproduksi. then what is it for? consumerism? that's so pathetic dude!
Komentar
Posting Komentar