Langsung ke konten utama

#1

kemarin nyaris seharian saya onlineee mlulu, saya berwisata blog, tapi hanya satu blog. blog punya seorang agnostik yang tau banyak tentang ajaran agama-agama, yang postingannya bikin saya berpikir ulang tentang pandangan saya pada agama dan tuhan.

saya adalah pemeluk salah satu agama, tapi tidak taat. saya masih berat menjalankan semua ritual-ritualnya. menjalankan ajaran-ajaran di dalamnya. bahkan saya masih mengecap ragu dalam beragama. saya belum yakin, tapi saya masih berusaha menjalankannya. walau kadang itu semua hanya terasa seperti ritual yang kosong dan kering. saya belum menikmatinya, belum mendapatkan kepuasan di sana. entahlah saya tidak bisa meninggalkannya begitu saja, untuk seterusnya. kalau dalam hitungan hari tidak beribadah, saya pernah. tapi berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun tidak beribadah? ah membayangkan saja tak sanggup.

sebenarnya tidak ada yang salah dengan agama. tidak perlu ragu dengan agama. agama itu pedoman hidup, termaktub banyak aturan hidup, konsep-konsep kehidupan yang hebat. agama memudahkan kita membuat keteraturan. coba bayangkan kalau tidak pernah ada agama di dunia. satupun. kita harus mengkonsep segalanya sendiri. mengkonsep tentang kebaikan, kejahatan, kesabaran, kepasrahan, kedengkian, dll. padahal untuk menemukan satu konsep saja, akan butuh banyak waktu untuk mencapainya. tapi agama memudahkan, tuhan melalui agamanya, firmannya menuntun manusia untuk hidup lebih baik.

yang masih menyisakan keraguan itu, saya yakin bukan pada agama dan ajaran-ajarannya karena semua agama itu menuju kebaikan. tapi pada keterbatasan saya untuk memahaminya secara menyeluruh. yang masih menyisakan keraguan itu, justru ulah manusia lain yang menafsirkan agama dengan pede dan menganggap tafsirannya adalah yang benar. padahal itu cuma tafsiran, cuma hasil olahan persepsinya. justru ulah manusia lain yang terlalu mencintai agamanya, yang membenci agama lain, yang menganiaya sesamanya atas nama agama dan tuhan. yang menuhankan agamanya, yang menganggap dirinya tuhan dengan memutuskan mana yang dosa dan akan masuk neraka, mana yang berpahala dan dijamin masuk surga. semua ini membuat saya gamang untuk mengetahui lebih banyak tentang agama, karena saya takut akan menjadi salah seorang di antara manusia lain ini, menjadi bagian mereka.

hmm, mungkin lebih tepatnya saya bukan ragu pada agama, tapi ragu untuk beragama.

tapi di luar keraguan itu, saya sepenuhnya mantap untuk bertuhan. saya mempercayai keberadaan tuhan. tuhan yang esa, yang hanya ada satu di dunia. yang menciptakan segala hal hebat. yang mengatur semuanya agar tetap berjalan sesuai hukumnya. saya juga mantep untuk mencintainya, hmm terus belajar mencintainya lebih tepatnya.

saya percaya pada tuhan, karena saya melihat refleksinya dimana-mana. di setiap ciptaannya. di pagi hari yang dingin, di siang hari yang terik, di tengah hujan yang lebat, ataupun gerimis, di setiap situasi. di setiap manusia yang saya temui, yang menyimpan banyak cerita tentang kehidupannya. saya mencintai tuhan, tapi saya tak bisa menunjukkannya secara gamblang. saya susah untuk menunjukkan cinta melalui ritual ibadah, saya mencintainya dengan perasaan, dengan rasa syukur pada kehidupan, dengan merasa penasaran padanya, dengan selalu bertanya-tanya tentangnya, dengan memikirkannya.

memang begitulah cinta yang saya miliki. susah mendemonstrasikannya. kepada siapapun cinta itu saya tujukan. hanya tentang merasakan, memikirkan, dan penasaran. ah sudahlah, saya mencintaimu tuhan, tanpa aku bilang pun tuhan akan tahu. tak hanya tahu bahwa aku mencintainya, tapi juga tahu seberapa besar cinta itu. tuhan kan maha tahu.

*tulisan yang dibikin susah payah, dan hasilnya tidak cemerlang, tidak begitu tepat dengan apa yang terlintas*

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

menghidupkan hidup

tak bisa dipungkiri, akhir-akhir ini saya benar-benar sedang mencintai dan menikmati kehidupan yang tengah berjalan. walaupun mungkin memang, saya semakin kehilangan waktu luang untuk sekedar bermain dan berkeliling. yah, seperti kehidupan saya di semester 3 kemarin sebenarnya. namun, ada yang berbeda di sini. di semester 3 saya tidak bisa menikmati semua kegiatan yang mayoritas dipenuhi dengan mengerjakan praktikum. and truly, that's suck. saya nggak rela kehilangan waktu bermain dan berkeliling yang saya gemari karena praktikum. tapi, lain dengan sekarang, karena apa yang saya jalani saat ini adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. saya semakin enjoy dengan proses kuliah di psikologi. semakin banyak hal menarik yang didapat di perkuliahan ini. rasa tertarik yang kemudian menumbuhkan motivasi intrinsik untuk belajar secara mandiri. sungguh, ini adalah sebuah pencapaian bagi saya. ketika saya menikmati proses pembelajaran, ketika saya didorong oleh keingintahuan, ketika ...

ketakutan irasional

pernahkah merasakan rasa takut sebelum mencoba sesuatu? pesimisme yang membuncah, kegamangan untuk melangkah, ketidakyakinan pada kekuatan sendiri, serasa ingin mati saja daripada menjalani sesuatu itu? orang bilang, menyerah sebelum berperang. padahal itu semua hanya karena omongan orang betapa mengerikannya medan laga yang harus dihadapi. omongan orang yang menghambatmu untuk optimis dan berbahagia dengan jalan yang akan ditempuh. begitu juga untuk urusan akademis. saya pernah mengalaminya berkali-kali, tapi yang teringat jelas dan sangat berkesan hanya ada dua. pertama, saat semester 3 di depan mata. semester paling hectic dan paling capek sepanjang perkuliahan. dua mata kuliah praktikum, dan itu errr menghabiskan waktu mainmu. saya ketakutan sekali, merasa tidak akan mampu melewatinya dengan selamat. ketakutan irasional yang membayang tak terelakkan. lalu hasilnya? saya masih hidup, selamat sampai tujuan dengan hasil memuaskan. ip melonjak cukup tinggi dibanding sem...

Berpulang Pada Kalian

Tanpa sadar aku telah merangkak keluar dari kehidupan orang-orang yang aku sayangi. Dan ketika jarak terasa semakin jauh, seandainya bisa, aku akan berlari kembali.. (salah satu status fb) Status fb dengan batasan maksimal 160 karakter, tulisan yang sangat singkat, tapi ketika digali maknanya bisa sangat dalam. Seperti status yang ak post beberapa hari yang lalu. Suatu titik kesadaranku yang dengan telaknya meninju ulu hati sampai lebam. Ya, bagaimana tidak lebam ketika merasa terasing sendiri, kehilangan konvoi sosial tanpa disadari.. Proksimitas, aku merindukanmu begitu terpendam. Jarak yang begitu jauh terasa menyesakkan, dan rutinitas semakin menambah panjang saja jarak yang tercipta. Jarak bukan lagi sekedar jarak secara fisik dan ruang, tapi juga merenggangnya kelekatan dan semakin habisnya komunikasi dilahap oleh rutinitas yang membuatku melupakan komunikasi. Dan beginilah akibatnya, aku kehilangan sekian banyak teman-teman yan...