Langsung ke konten utama

(Bukan) Teori Menulis

saya teringat obrolan dengan salah seorang teman beberapa minggu yang lalu. obrolan ini dipicu oleh sebuah poster seminar ttg menulis artikel yang tertempel di papan pengumuman di fisipol.

teman : itu lho nov, seminar menulis. ikutan yuk.
saya : *membaca poster* err, enggak ah. aku males ikutan acara begituan.

mengapa saya males? karena saya gak mau tau dengan pakem-pakem menulis. saya takut dengan mengetahui pakem-pakem seperti ini saya jadi tidak menikmati proses menulis itu sendiri. saya takut menjadi terlalu terikat dengan aturan, munculnya pikiran-pikiran, pertanyaan-pertanyaan dalam proses pembuatan tulisan yang justru menghambat saya untuk merampungkan tulisan. pertanyan-pertanyaan seperti: apa tulisanku udah bener ya? apa tulisanku membosankan ya? apa tulisanku bermutu? pertanyaan yang mematikan dan menjatuhkan kepercayaan diri, yang membuat saya tidak pernah bisa merampungkan sebuah tulisan. bahkan sebuah paragraf pun mungkin tidak mampu.

lagipula saya berpandangan bahwa tidak ada cara baku untuk menulis dengan benar. setelah membaca poster itu, saya langsung teringat oleh tulisan putu wijaya tentang konsep menulis. putu wijaya, salah satu penulis favorit saya mengatakan bahwa tidak ada konsep menulis yang baku yang harus diikuti untuk menjadi penulis hebat. bagaimana menulis yang baik sebenarnya hanyalah pandangan subjektif tiap individu. ini menunjukkan bahwa panduan-panduan how to write seperti ini tidaklah mutlak benar atau cocok untuk setiap orang. oke mungkin itu diperlukan, tapi saya merasa belum membutuhkannya.

kalau kata putu wijaya ketika ditanya: mengapa menulis? ia menjawab: karena kebelet. ya pada tataran itulah saya ingin menulis. menikmati proses menulis itu sendiri. menulis karena ingin. menulis sebagai sebuah passionate.

saya pernah terpaksa menulis karena sebuah tugas. saya stres. saya pernah menulis untuk diikutkan dalam lomba. saya gagal. bukan hanya gagal dalam artian tidak menang, tapi juga gagal merasakan kenyamanan ketika menulis. ini sih karena ketika menulis, saya merasa terkekang dengan tema karir yang diajukan panitia lomba padahal saya tidak suka berbicara tentang karir (maksud saya karir dalam perusahaan, karena lomba menulis ini memang diadakan bersamaan dengan event job-fair). saya juga terpaku pada keinginan untuk dapat duit yang membuat saya menulis dengan sedikit dipaksakan agar sesuai dengan tema, padahal itu bertentangan dengan apa yang saya percayai dan rasakan. setelah peristiwa ini saya menyadari bahwa ketika menulis, menulislah untuk sebuah kesenangan. menulislah karena ingin, karena kebelet untuk nulis.

hal lain tentang menulis saya dapat dari djenar maesa ayu. dalam prakatanya di novel terbaru djenar berjudul 1 perempuan 14 laki-laki, ia menuturkan bahwa teori yang paling sederhana dari menulis adalah dengan menulis. di sini saya mengamini betul apa yang djenar bilang. percuma rasanya mengetahui seableg teori tentang bagaimana menulis dengan benar kalau saya tidak pernah menulis. oke, bukan tidak pernah, tapi jarang menulis. hal terbaik untuk menulis dengan lebih baik adalah dengan terus, terus, terus, dan terus menulis. menulislah setiap hari. orang bilang: practice makes perfect. begitu pula dengan menulis, agar bisa menulis dengan baik ya menulislah. jadi saya memutuskan untuk melakukan itu dulu sebelum beranjak pada teori teori kepenulisan. toh saya tidak berniat mencari penghidupan dari menulis. saya hanya ingin menulis untuk kesenangan pribadi, jadi sah-sah saja kalau pada nantinya saya menulis apa adanya. tanpa aturan, tanpa pakem. mungkin ini justru akan menjadi voice tulisan saya.

ngomong-ngomong tentang voice, istilah ini saya dapat dari salah satu postingan blog raditya dika yang berjudul tiga elemen penulisan kreatif blog. katanya salah satu hal yang menarik dalam tulisan blog adalah ketika seseorang telah mempunyai voice tulisan yang membuatnya berbeda dengan tulisan orang lain. voice membuat tulisan mudah dikenali siapa yang menulis. voice akan membuat orang langsung mengetahui bahwa itu adalah tulisanmu bahkan ketika mereka baru membaca satu paragraf pembuka.

hahaha merasakan sesuatu yang kontradiktif kah? di awal saya bilang gak ada aturan baku dalam menulis, lah ini malah saya ngomongin tiga elemen penulisan kreatif blog-nya raditya dika yang bisa juga dikategorikan sebagai sebuah 'aturan' how to write. sebenarnya saya juga gak anti banget kok sama hal-hal seperti ini, toh saya pernah juga membaca beberapa panduan menulis seperti mengarang itu gampang (arwendo atmowiloto), konsep menulis (putu wijaya), terus tiga elemen penulisan kreatif blog (raditya dika). saya hanya ingin bilang bahwa aturan seperti itu subjektif, tidak usah terpaku, yang penting: teruslah menulis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

birthday

sekarang sudah tanggal 8 agustus. 2 hari lalu adalah 6 agustus. hari yang biasanya saya nanti sejak satu minggu sebelumnya. lalu anehnya, saya melupakannya begitu saja. lupa selupa lupanya. bahkan kalau saya nggak buka fb hari ini pun, saya yakin saya gak inget inget juga. kalo 6 agustus kamu ulang tahun. ritual tahunanku dengan mendoakanmu dalam hening tanpa kebingaran, luput juga tahun ini. semuanya terasa aneh. saya bingung. saya senang karena sepertinya saya sudah benar-benar terbebas. sekaligus sedih, kenapa terbebas itu sepertinya identik dengan melupakan. tak bisakah saya terbebas dengan tetap mengingatmu. menunjukkan betapa ikhlas saya tentang kamu, apapun itu. ah ikhlas, bukankah itu adalah tahap yang sangat sulit untuk dicengkeram, bahkan sekedar digenggam ataupun diletakkan di atas telapak tangan?

Berpulang Pada Kalian

Tanpa sadar aku telah merangkak keluar dari kehidupan orang-orang yang aku sayangi. Dan ketika jarak terasa semakin jauh, seandainya bisa, aku akan berlari kembali.. (salah satu status fb) Status fb dengan batasan maksimal 160 karakter, tulisan yang sangat singkat, tapi ketika digali maknanya bisa sangat dalam. Seperti status yang ak post beberapa hari yang lalu. Suatu titik kesadaranku yang dengan telaknya meninju ulu hati sampai lebam. Ya, bagaimana tidak lebam ketika merasa terasing sendiri, kehilangan konvoi sosial tanpa disadari.. Proksimitas, aku merindukanmu begitu terpendam. Jarak yang begitu jauh terasa menyesakkan, dan rutinitas semakin menambah panjang saja jarak yang tercipta. Jarak bukan lagi sekedar jarak secara fisik dan ruang, tapi juga merenggangnya kelekatan dan semakin habisnya komunikasi dilahap oleh rutinitas yang membuatku melupakan komunikasi. Dan beginilah akibatnya, aku kehilangan sekian banyak teman-teman yan...

menghidupkan hidup

tak bisa dipungkiri, akhir-akhir ini saya benar-benar sedang mencintai dan menikmati kehidupan yang tengah berjalan. walaupun mungkin memang, saya semakin kehilangan waktu luang untuk sekedar bermain dan berkeliling. yah, seperti kehidupan saya di semester 3 kemarin sebenarnya. namun, ada yang berbeda di sini. di semester 3 saya tidak bisa menikmati semua kegiatan yang mayoritas dipenuhi dengan mengerjakan praktikum. and truly, that's suck. saya nggak rela kehilangan waktu bermain dan berkeliling yang saya gemari karena praktikum. tapi, lain dengan sekarang, karena apa yang saya jalani saat ini adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. saya semakin enjoy dengan proses kuliah di psikologi. semakin banyak hal menarik yang didapat di perkuliahan ini. rasa tertarik yang kemudian menumbuhkan motivasi intrinsik untuk belajar secara mandiri. sungguh, ini adalah sebuah pencapaian bagi saya. ketika saya menikmati proses pembelajaran, ketika saya didorong oleh keingintahuan, ketika ...