![]() |
| Judul : Slam Dunk (Deluxe) Pengarang : Takehiko Inoue Tebal: 24 volume; 276 chapter Penerbit : Elex Media Komputindo |
All Hail Slam Dunk! All Hail Inoue Sensei!
--
Slam Dunk centers around Hanamichi Sakuragi, who starts as a delinquent outcast, becoming the leader of a gang. Hanamichi, being very unpopular with girls, has been rejected by them fifty times. Yet, he finds out that Haruko Akagi is the girl of his dreams, and is happy when she's not scared of him like all the other girls he has asked out.
Haruko Akagi, who recognizes Hanamichi's athleticism, introduces him to the Shohoku basketball team. Hanamichi was reluctant to join the team at first because he had no previous background in any sports and thought that basketball was a game for losers (also because the fiftieth girl rejected him for a basketball player). Sakuragi, despite his immaturity and hot temper, proves to be a natural athlete with potential and joins the team in order to impress Haruko and prove that he is worthy of her. Later on, Sakuragi realizes that his love for the sport equals that of his crush on Haruko. Kaede Rukawa — Sakuragi's bitter rival (both on the basketball court and love, even when Rukawa doesn't acknowledge Haruko's crush on him), the star rookie and a "girl magnet" - joins the team at the same time. Hisashi Mitsui, an ex-junior high school MVP, and Ryota Miyagi, a short but fast player, both also rejoin the team and together these four struggle to complete team captain Takenori Akagi's dream of making Shohoku the national champion. Together, these misfits gain publicity and the once little known Shohoku basketball team becomes an all-star contender in Japan.
*diambil dari wikipedia
--
Slam Dunk adalah manga yang terbit untuk pertama kalinya di tahun 90'an-entah tahun berapa pastinya-dan masih dicetak ulang hingga sekarang, setidaknya di Indonesia. Pada bulan Januari 2014 ini, cetakan terbaru Slam Dunk Deluxe telah berakhir hingga volume 24. Saya cukup terkejut mengetahui Slam Dunk terbaru hanya sampai 24 volume, sebab cetakan lawasnya bisa sampai 31. Mungkin diperbanyak chapternya per volume.
Pertama kali membaca Slam Dunk di volume-volume awal, saya pikir manga ini sangat nyeleneh. Sikap Sakuragi yang sangat percaya diri sekaligus konyol; persaingannya dengan Rukawa dalam hal basket ataupun cinta yang sebenarnya hanya ada dalam imajinasinya, sukses membuat saya terbahak-bahak. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, karakter Sakuragi ini berkembang seiring dengan tumbuhnya kecintaan pada basket. Sakuragi yang pada awalnya melulu ngocol, tumbuh menjadi sosok yang mampu menyadari posisinya sendiri, bertanggung jawab, bekerja keras, dan pantang menyerah. Bahkan di beberapa pertandingan, Sakuragi justru menjadi sosok karismatik di lapangan yang mengubah mood dan arah pertandingan. Padahal justru kebanyakan hal ini terjadi sebagai buah dari aksi-aksinya yang nekat, konyol,dan tidak dipikirkan masak-masak. Namun, saya punya kesimpulan bahwa sebenarnya tindakan-tindakan itu diambil karena memang Sakuragi mempunyai refleks yang luar biasa di saat-saat genting. Sakuragi pun perlahan-lahan mulai menyedot perhatian kawan, lawan, suporter, pelatih, dan pengamat! Cerita-cerita yang mampu mengungkap perubahan psikologis karakternya adalah salah satu poin ciamik yang bisa dengan mudahnya membuat saya betul-betul jatuh cinta pada sebuah karya.
Akhirnya, setelah menamatkan semua volume Slam Dunk, as Haha said: "Slam Dunk is like a bible for me." Di saat apapun saya merasa telah mencapai batas maksimal dan keinginan menyerah begitu kuat, Slam Dunk lah yang saya ingat. Perkataan pak Anzai pada Mitsui di menit terakhir pertandingan, ataupun pak Anzai pada Shohoku saat tertinggal jauh dengan Sannoh, mengingatkan saya untuk terus berjuang sekuat tenaga dan memelihara harapan yang nyaris punah. "Do not give up until the very end. If you give up now, the game will be over." Sesempit apapun waktu yang saya punya, selelah apapun saya berjuang, saya tidak bisa menyerah. Tidak bisa, tidak boleh menyerah. Mengapa? Sebab, di detik saya menyerah, maka saya telah menihilkan sekelumit kesempatan yang masih ada.
Lalu, ketika apa yang saya inginkan terasa begitu jauh, ketika saya sudah merasa tidak ada harapan, scene ini yang saya ingat. Ketika skor tertinggal dari tim lawan, maka hal inilah yang diucapkan oleh para pemain basket di Slam Dunk: "Ayo rebut satu bola dulu!". Meskipun untuk mencapai kemenangan masih dibutuhkan lima bola atau bahkan lebih, aturannya tetap sama: kita harus bisa memasukkan satu bola dulu. Satu demi satu, langkah demi langkah, proses demi proses. Tidak ada yang instan. Semangat itu dinyalakan untuk menggapai langkah terdekat, lalu meniti setiap titik menuju apa yang ditargetkan. Dan, semuanya tidak selalu berjalan mulus. Saat satu bola berhasil diraih, sangatlah mungkin tim lawan menyerang balik dan memasukkan satu bola lagi. Membentangkan kembali jarak yang telah berhasil kita perpendek. Maka tidak bisa tidak, bola tetap harus direbut lagi, begitu seterusnya hingga waktu benar-benar habis. Fighting spirit yang tidak boleh dilalaikan. Dan, saya juga mengingat satu perkataan dari pak Anzai yang menggaungkan kembali pemikiran saya sebagai tameng diri dari rasa putus asa: “Berpikir terlalu jauh itu nggak baik! Sebab, akan menghentikan langkah kita!”
Selain pertumbuhan karakter Sakuragi, Slam Dunk juga menyoroti pertumbuhan Shohoku sebagai sebuah tim tak dikenal yang menunjukkan kekuatannya dan membuat gempar dunia basket SMA di Jepang. Tentunya, perkembangan Shohoku ini pun tak lepas dari kontribusi Sakuragi yang kerap menyebut dirinya sebagai si jenius basket. Hahahaha. Shohoku adalah tim kuat yang didukung oleh pemain-pemain hebat dan semangat tinggi untuk menang. Semangat pantang menyerah Shohoku dalam menghadapi berbagai pertandingan-bahkan yang tampak mustahil-membuat saya terharu. Apalagi perlawanan keras Shohoku saat bertanding dengan Sannoh Kogyo, si legenda juara interhigh. Perlawanan yang membuat pelatih Sannoh, yaitu Pak Domoto berpikir seperti ini: “Shohoku, harus berapa kali lagi kami menekanmu agar kalian menyerah?” Fighting spirit ini menjadi semacam referensi bagi saya untuk bersikap dan bertindak dalam berbagai tantangan.
Hal lain yang saya sukai dari Slam Dunk adalah banyaknya karakter dalam manga ini yang dijelaskan dengan cukup detail. Setiap karakter berkembang dengan baik secara konsisten. Bahkan kadang latar belakang tokoh-tokoh ini dipaparkan dalam cara yang relevan. Misal, pertandingan dini dan timpang antara tokoh Sawakita dan ayahnya yang membuat si ace dari Sannoh ini tidak pantang menyerah dan justru tertantang dengan tekanan Shohoku yang tidak diduganya. Meskipun bila saya pikir-pikir, beberapa karakter sebetulnya mirip-mirip, baik dari sifat pribadi maupun ciri fisik. Sisi Sawakita yang sudah saya sebut sebelumnya, mirip dengan Sendoh-ace Ryonan yang muncul di awal volume. Diungkapkan oleh pelatih Ryonan bahwa saat menghadapi perlawanan sengit dari Rukawa dan Sakuragi, Sendoh justru terlihat bahagia. Sebab, selama ini sangatlah langka bagi Sendoh untuk menemukan lawan yang sebanding dengan kemampuannya. Alasan sama yang berlaku untuk Sawakita yang bersemangat menghadapi Rukawa. Namun, sebenarnya wajar juga kemiripan antar tokoh ini pada sisi tertentu. Di dunia nyata kan juga begitu. Karakter Sakuragi si tokoh utama pun agak mirip dengan Kiyota dari Kainan ataupun Hiroshi dari Meiho Kogyo. Dalam hal fisik, fisiologis Akagi dan Uozomi tak jauh beda, bahkan agak identik. Memang dibutuhkan kreativitas tingkat dewa untuk mengilustrasikan tiap tokoh secara unik. Terpujilah Tuhan dalam segenap ke-Maha-an-Nya yang menciptakan manusia dalam beraneka rupa fisik melalui kekreatifanNya membuat susunan DNA yang maha rumit; juga keluasan imaginasi-Nya dalam menciptakan berbagai latar belakang yang menumbuhkan keragaman sisi psikis manusia. Amin.
Satu lagi hal yang saya sukai dari Slam Dunk adalah akhir cerita yang tidak seindah harapan. Ternyata, Slam Dunk tidaklah semelodramatis itu dengan memberikan akhir yang sangat bahagia pada Shohoku ataupun Sakuragi. Sayangnya, kekalahan Shohoku hanya diceritakan sepintas lalu, tanpa menunjukkan pertandingannya. Mungkin gara-gara Sakuragi tidak ikut bermain. Sebenarnya saya berharap pertandingan itu akan diceritakan walau berujung pada kekalahan, seperti saat pertandingan Shohuku sebelumnya dengan Kainan. Satu hal yang saya soroti dari terbitan Slam Dunk Deluxe karena cukup mengganggu adalah banyaknya salah ketik di teks-teksnya. Duh, editornya teledor sekali. Semoga saja bila suatu saat dicetak ulang, kesalahan seperti ini tidak terjadi lagi.
Lalu, ketika apa yang saya inginkan terasa begitu jauh, ketika saya sudah merasa tidak ada harapan, scene ini yang saya ingat. Ketika skor tertinggal dari tim lawan, maka hal inilah yang diucapkan oleh para pemain basket di Slam Dunk: "Ayo rebut satu bola dulu!". Meskipun untuk mencapai kemenangan masih dibutuhkan lima bola atau bahkan lebih, aturannya tetap sama: kita harus bisa memasukkan satu bola dulu. Satu demi satu, langkah demi langkah, proses demi proses. Tidak ada yang instan. Semangat itu dinyalakan untuk menggapai langkah terdekat, lalu meniti setiap titik menuju apa yang ditargetkan. Dan, semuanya tidak selalu berjalan mulus. Saat satu bola berhasil diraih, sangatlah mungkin tim lawan menyerang balik dan memasukkan satu bola lagi. Membentangkan kembali jarak yang telah berhasil kita perpendek. Maka tidak bisa tidak, bola tetap harus direbut lagi, begitu seterusnya hingga waktu benar-benar habis. Fighting spirit yang tidak boleh dilalaikan. Dan, saya juga mengingat satu perkataan dari pak Anzai yang menggaungkan kembali pemikiran saya sebagai tameng diri dari rasa putus asa: “Berpikir terlalu jauh itu nggak baik! Sebab, akan menghentikan langkah kita!”
Bahkan saat menulis ini saya baru terpikir satu hal lagi tentang fighting spirit dari teknik basket rebound yang menjadi keahlian Sakuragi. Rebound adalah teknik untuk merebut kembali bola yang tidak berhasil dimasukkan ke dalam ring, baik oleh pihak kawan atau lawan. Saat bola itu berada di ring sendiri, maka rebound dibutuhkan untuk menyerang balik sekaligus mematahkan usaha lawan untuk mempertahankan bola. Saat bola di ring lawan, maka rebound digunakan untuk mempertahankan dan membuka kembali peluang untuk menyerang, sekaligus mematahkan usaha lawan untuk menyerang. Bagi saya, ini adalah sebuah aturan umum. Saat kita berjuang dan gagal, maka rebound lah yang harus dilakukan. Pepatah klise dari rebound adalah bangkit dari kegagalan. Tentu saja tanpa teknik pasti seperti dalam permainan basket.
Saat mengajarkan rebound pada Sakuragi, Akagi berkata bahwa pemain yang menguasai rebound-lah yang menguasai pertandingan. Begitu pula hidup, orang yang berhasil justru merekalah yang bangkit delapan kali saat terjatuh tujuh kali-pepatah klise lagi. Keduanya sama, tidak membiarkan mata buta pada kesempatan.
Memang hidup bisa dianalogikan dengan apa saja, tak terkecuali permainan basket. Dan, Slam Dunk membukakan pemikiran saya tentang itu. Dari Slam Dunk saya belajar tentang pentingnya berjuang. Titik lemah saya yang sebenarnya mudah merasa tidak bisa, tidak mampu. Yah, walaupun pada praktiknya saya tidak selalu berhasil mencapai target yang saya canangkan melalui fighting spirit ini, tapi hal ini membantu saya untuk lebih tenang dan optimis. Saya menghargai itu, masih lebih baik daripada gagal dalam selubung pesimisme. Hehe.


tolong infonya buat slam dunk mulai main di interhigh mulai volume berapa? trimakasih
BalasHapusvolume 18 atau 19 kalau tidak salah ingat.
BalasHapus