Aku tahu sebenarnya diam yang aku pilih sekarang tidak membawaku ke arah yang lebih baik, lebih buruk malah. Aku tahu rasa kecewa dan marah yang telah lama terselubungi, berhasil menyelinap ke luar menampakkan wujudnya secara nyata. Ia tidak lagi sekedar menyingkap lalu mengintip, memberiku tanda bahwa ia ada di bawah sana. Berkerukup selimut keseharian yang menyibukkan.
Kecewa dan marah itu muncul, bukan oleh satu peristiwa besar. hanya peristiwa kecil, yang sebenarnya tidak cukup menjadi momentum diamku. diam yang gila.
aku gila, karena dalam diamku aku tak sepenuhnya diam. ada dialog, perdebatan mungkin antar ego dan ego yang lain. aku tahu kecewaku tak seharusnya dipupuk, harusya aku memaafkan, mengikhlaskan. bukannya seperti haus pujian. tapi aku pun belum rela mengambil pilihan itu, karena jauh aku menyadari adalah percuma memaafkan saat tidak ada yang menyadari bahwa ada yang perlu dimaafkan. karena suatu saat nanti, akan terjadi perputaran lagi yang membawa kembali ke titik yang sama.
aku sedang gila, mencari pijakan, mengurai kemungkinan jawaban.
sebuah nafas yang ditarik panjang, lalu dihembuskan tak kalah panjang. semoga membukakan pintu kebenaran.
Kecewa dan marah itu muncul, bukan oleh satu peristiwa besar. hanya peristiwa kecil, yang sebenarnya tidak cukup menjadi momentum diamku. diam yang gila.
aku gila, karena dalam diamku aku tak sepenuhnya diam. ada dialog, perdebatan mungkin antar ego dan ego yang lain. aku tahu kecewaku tak seharusnya dipupuk, harusya aku memaafkan, mengikhlaskan. bukannya seperti haus pujian. tapi aku pun belum rela mengambil pilihan itu, karena jauh aku menyadari adalah percuma memaafkan saat tidak ada yang menyadari bahwa ada yang perlu dimaafkan. karena suatu saat nanti, akan terjadi perputaran lagi yang membawa kembali ke titik yang sama.
aku sedang gila, mencari pijakan, mengurai kemungkinan jawaban.
sebuah nafas yang ditarik panjang, lalu dihembuskan tak kalah panjang. semoga membukakan pintu kebenaran.
Komentar
Posting Komentar