Sore ini saya merasakan marah yang berdengung tidak henti. Seringnya berdengung, kadang juga berkecamuk. Marah itu mengamuk di dalam tempurung kepala, dan terasa porak porandanya di sekitar tulang rusuk. Dua area ini, yang disebut otak dan hati memberontak, memerintahkan tangan kananku untuk menarik gas lebih dalam, menyiagakan tangan kiriku untuk menekan rem kapan pun dibutuhkan secara mendadak. Mereka juga menyuruh mataku untuk menajamkan pandangan, membuat mulutku memaki keras. Motorku melaju, bukan di atas kecepatan normal. Hanya saja, nekat meski dengan gerakan patah-patah. Marah masih mengaktifkan kewaspadaanku. Bahkan kesadaranku sepenuhnya terbangun untuk berpikir, terus berefleksi. Refleksi yang kadang bisa meredam, sekaligus mengobarkan lagi.
Marah itu tidak enak, karena terasa mendesak. Bagiku marah mendesak, dari dalam menuju luar.
Marah tidak melesak, bukan dari luar menuju ke dalam.
Itulah kenapa sepertinya aku lebih suka konsep dalam Buddha, untuk secara sadar melepaskan keterikatan dengan nafsu. Buddha yang menanamkan bahwa musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri, yang dikalahkan oleh diri sendiri pula. Perang di dalam diri. Berdamai dalam diri. Spiritualitas tak kasat mata.
Itulah kenapa aku sangat resisten dengan istilah bisikan setan yang mengasosikan hal buruk berasal dari luar diri. Dan kita harus melawan sesuatu yang asing itu agar tidak masuk, agar tidak marah.
ah kacau sekian saja.
Marah itu tidak enak, karena terasa mendesak. Bagiku marah mendesak, dari dalam menuju luar.
Marah tidak melesak, bukan dari luar menuju ke dalam.
Itulah kenapa sepertinya aku lebih suka konsep dalam Buddha, untuk secara sadar melepaskan keterikatan dengan nafsu. Buddha yang menanamkan bahwa musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri, yang dikalahkan oleh diri sendiri pula. Perang di dalam diri. Berdamai dalam diri. Spiritualitas tak kasat mata.
Itulah kenapa aku sangat resisten dengan istilah bisikan setan yang mengasosikan hal buruk berasal dari luar diri. Dan kita harus melawan sesuatu yang asing itu agar tidak masuk, agar tidak marah.
ah kacau sekian saja.
Komentar
Posting Komentar