pikiran itu cepat sekali beralih, dan itulah yang saya alami sekarang. pemikiran-pemikiran yang meloncat ke sana kemari, sebegitu cepatnya hingga saya kesulitan untuk memerangkapnya dalam kata-kata tertulis. tak peduli seberapa sulitnya itu, saya akan mencoba menuliskannya, dan mempublishnya. apapun yang tertulis, yah that's it. semoga tulisan ini akan terselesaikan dan tidak menemui takdir seperti tulisan-tulisan saya lainnya. setengah jadi, dan masuk ke draft. haha.
pertama, tentang kemampuan saya dalam mempelajari bahasa. rasanya saya adalah seorang pembelajar yang baik dan cepat, tapi sepertinya tidak untuk bidang ini. dari dulu SD sampai sekarang kuliah belajar bahasa Inggris, saya masih saja sangat kesulitan untuk berkomunikasi menggunakan bahasa inggris fluently. menyedihkan sebenarnya, mengingat saya juga pernah mengambil kursus di Pare selama 1 bulan. lalu sekarang bahasa jerman, saya sudah level 3 lho. namun tetap saja saya merasa stagnan di bahasa yang satu ini. rasanya kok susah sekali yah buat menghapal kosakatanya, memahami teks-teks pendeknya, membuat kalimat-kalimatnya dengan spontan, apalagi melakukan sebuah percakapan dalam bahasa jerman! dibandingkan dengan teman-teman sekelas di A3, kemampuan bahasa Jerman saya tertinggal jauh. sejujurnya, ini membuat saya sedikit frustasi, mengingat dulu di A1, saya bisa belajar dengan cepat.
kalau direnungkan, mungkin yang menyebabkan segala kesulitan ini adalah ketidakuletan saya dalam belajar. bukankah bahasa itu tumbuh dan berkembang dalam kebiasaan? nah itu masalahnya, saya tidak membuat kedua bahasa ini menjadi sebuah kebiasaan! saya jarang berbicara menggunakan dua bahasa ini, apalagi menulisnnya. ah i'm just too awkward to write in English or Deutsch :( jangankan untuk berbicara dan menulis yang termasuk dalam aktifitas aktif berbahasa, untuk aktifitas pasif seperti mendengarkan dan membaca pun bukan kebiasaan yang tertanam dalam keseharian saya. mungkin ini akan menjadi semacam resolusi tahun ini, eh?
sekilas tenntang resolusi, saya tidak merasa cukup nyaman dengan sesuatu semacam resolusi. seringnya ia hanya seperti sebuah omongkosong bagi saya. resolusi itu semacam bualan omong kosong. namun, saya juga merasa itu perlu, seperti membuat rencana agar lebih teratur dan sebagai pegangan agar tidak kehilangan arah. entahlah, saya belum menentukan sikap tegas terkait resolusi.
selanjutnya adalah tentang menulis. kemarin mahasiswa sempat geger gara-gara surat edaran dari pak dirjen dikti yang menjadikan penerbitan artikel ilmiah sebagai syarat kelulusan. benar-benar kebijakan yang semena-mena tanpa pertimbangan yang matang. sejujurnya, saya cukup ragu dengan kebijakan ini, mengingat jangankan untuk menulis artikel ilmiah, membuat sebuah makalah pun kami para mahasiswa masih amburadul. dari konten makalah, referensi makalah hingga struktur kalimat maupun eyd yang tidak diindahkan. lalu dengan serta merta kami dituntut mempublikasikan penelitian dalam artikel ilmiah? kualitas seperti apa yang anda harapkan wahai pak dirjen? mbok ya apa-apa itu dibikin bertahap. berproses, hobinya kok ya yang instan-instan. benerin dulu itu kemampuan kami buat menulis dalam bahasa indonesia yang baik dan benar. wong buat hal sepele seperti membedakan penulisan di- dan ke- sebagai kata depan dan imbuhan saja masih banyak yang gak bener, langsung dibruki PR segitu gedenya.
saya mencoba berkaca dengan tugas-tugas kuliah yang telah saya buat lalu memikirkan keputusan pak dirjen ini, saya cuma ingin berteriak: bapaaak saya belum siap! dan mungkin teman-teman saya yang lain juga akan berteriak seperti itu. hehe saya jadi geli sendiri, mengingat pengalaman saya belajar untuk ujian kemarin dari makalah-makalah yang dibuat temen-temen. jujur saya pusing sendiri bacanya! gak ngerti ini maksudnya apa, padahal pakai bahasa indonesia. mending-mending baca text book tebel bahasa inggris deh, hehe maap ya temen-temen. hmm, dan hasil makalah kelompok saya pun sama saja bikin pusing kok *smirk
saya juga menyadari bahwa menulis bukanlah perkara mudah buat saya. lagi-lagi ini soal kebiasaan. saya belum bisa ulet dan tekun untuk menyelesaikan sebuah tulisan saja setiap harinya. eh apakah ini akan jadi semacam resolusi lagi? hahaha
apalagi yang akan saya kicaukan ya? student exchange? ini adalah pengalaman yang sangat berharga, saya juga sempat menggebu-gebu menjadikan ini sebagai salah satu impian terbesar. bahkan saya berencana melanjutkan S2 di luar negeri saja, jerman mungkin? tapi semakin ke sini, saya justru semakin terombang-ambing apakah luar negeri benar-benar pilihan terbaik? bukan sekedar demi sebuah gengsi dan prestise? ini masih menjadi sebuah pergulatan pilihan dalam alam pikiran. ya iyalah saya masih s1, baru juga mau kkn dan skripsi! oh kkn oh skripsi, kalian benar-benar sebuah pengingat bahwa saya semakin tua saja!
ngomong-ngomong tentang skripsi, saya pengen pakai metode kualitatif untuk penelitian skripsi. mengapa? karena (sampai sekarang) saya pikir bahwa metode kualitatif lebih memiliki banyak kesempatan untuk berinteraksi, dan belajar. tapi, saya juga belum ambil matkul MPK (Metode Penelitian Kualitatif), insyaallah semester 7 baru akan saya ambil. yup, dengan demikian tidak mungkin saya memulai skripsi di semester 7, paling cepat ya semester 8. bagi saya itu tidak masalah, toh saya tidak berniat lulus cepat, yang penting bikin skripsinya cepat! amin.
oh ya, saya sudah menemukan satu judul untuk skripsi, tapi sepertinya metodenya akan kuantitatif. tentang kaitan antara peran gender feminim dan androgini dengan psychological well being pada wanita dewasa muda. tapi saya masih mencari alternatif lainnya, toh saya juga masih menemukan banyak celah buat menggolkan penelitian ini. tenang saja nov, masih ada 1 semester untuk mencari judul-judul lainnya :)
pada akhirnya, just enjoy it. enjoy it, enjoy it! nikmati saja setiap masa sekarang yang sedang dilalui, kerjakan dan selesaikan, karena semuanya akan baik-baik saja. yup semuanya akan baik-baik saja, dan hidup akan terus berlanjut dengan caranya yang unik, jadi nikmati sajalah. cheers.
pertama, tentang kemampuan saya dalam mempelajari bahasa. rasanya saya adalah seorang pembelajar yang baik dan cepat, tapi sepertinya tidak untuk bidang ini. dari dulu SD sampai sekarang kuliah belajar bahasa Inggris, saya masih saja sangat kesulitan untuk berkomunikasi menggunakan bahasa inggris fluently. menyedihkan sebenarnya, mengingat saya juga pernah mengambil kursus di Pare selama 1 bulan. lalu sekarang bahasa jerman, saya sudah level 3 lho. namun tetap saja saya merasa stagnan di bahasa yang satu ini. rasanya kok susah sekali yah buat menghapal kosakatanya, memahami teks-teks pendeknya, membuat kalimat-kalimatnya dengan spontan, apalagi melakukan sebuah percakapan dalam bahasa jerman! dibandingkan dengan teman-teman sekelas di A3, kemampuan bahasa Jerman saya tertinggal jauh. sejujurnya, ini membuat saya sedikit frustasi, mengingat dulu di A1, saya bisa belajar dengan cepat.
kalau direnungkan, mungkin yang menyebabkan segala kesulitan ini adalah ketidakuletan saya dalam belajar. bukankah bahasa itu tumbuh dan berkembang dalam kebiasaan? nah itu masalahnya, saya tidak membuat kedua bahasa ini menjadi sebuah kebiasaan! saya jarang berbicara menggunakan dua bahasa ini, apalagi menulisnnya. ah i'm just too awkward to write in English or Deutsch :( jangankan untuk berbicara dan menulis yang termasuk dalam aktifitas aktif berbahasa, untuk aktifitas pasif seperti mendengarkan dan membaca pun bukan kebiasaan yang tertanam dalam keseharian saya. mungkin ini akan menjadi semacam resolusi tahun ini, eh?
sekilas tenntang resolusi, saya tidak merasa cukup nyaman dengan sesuatu semacam resolusi. seringnya ia hanya seperti sebuah omongkosong bagi saya. resolusi itu semacam bualan omong kosong. namun, saya juga merasa itu perlu, seperti membuat rencana agar lebih teratur dan sebagai pegangan agar tidak kehilangan arah. entahlah, saya belum menentukan sikap tegas terkait resolusi.
selanjutnya adalah tentang menulis. kemarin mahasiswa sempat geger gara-gara surat edaran dari pak dirjen dikti yang menjadikan penerbitan artikel ilmiah sebagai syarat kelulusan. benar-benar kebijakan yang semena-mena tanpa pertimbangan yang matang. sejujurnya, saya cukup ragu dengan kebijakan ini, mengingat jangankan untuk menulis artikel ilmiah, membuat sebuah makalah pun kami para mahasiswa masih amburadul. dari konten makalah, referensi makalah hingga struktur kalimat maupun eyd yang tidak diindahkan. lalu dengan serta merta kami dituntut mempublikasikan penelitian dalam artikel ilmiah? kualitas seperti apa yang anda harapkan wahai pak dirjen? mbok ya apa-apa itu dibikin bertahap. berproses, hobinya kok ya yang instan-instan. benerin dulu itu kemampuan kami buat menulis dalam bahasa indonesia yang baik dan benar. wong buat hal sepele seperti membedakan penulisan di- dan ke- sebagai kata depan dan imbuhan saja masih banyak yang gak bener, langsung dibruki PR segitu gedenya.
saya mencoba berkaca dengan tugas-tugas kuliah yang telah saya buat lalu memikirkan keputusan pak dirjen ini, saya cuma ingin berteriak: bapaaak saya belum siap! dan mungkin teman-teman saya yang lain juga akan berteriak seperti itu. hehe saya jadi geli sendiri, mengingat pengalaman saya belajar untuk ujian kemarin dari makalah-makalah yang dibuat temen-temen. jujur saya pusing sendiri bacanya! gak ngerti ini maksudnya apa, padahal pakai bahasa indonesia. mending-mending baca text book tebel bahasa inggris deh, hehe maap ya temen-temen. hmm, dan hasil makalah kelompok saya pun sama saja bikin pusing kok *smirk
saya juga menyadari bahwa menulis bukanlah perkara mudah buat saya. lagi-lagi ini soal kebiasaan. saya belum bisa ulet dan tekun untuk menyelesaikan sebuah tulisan saja setiap harinya. eh apakah ini akan jadi semacam resolusi lagi? hahaha
apalagi yang akan saya kicaukan ya? student exchange? ini adalah pengalaman yang sangat berharga, saya juga sempat menggebu-gebu menjadikan ini sebagai salah satu impian terbesar. bahkan saya berencana melanjutkan S2 di luar negeri saja, jerman mungkin? tapi semakin ke sini, saya justru semakin terombang-ambing apakah luar negeri benar-benar pilihan terbaik? bukan sekedar demi sebuah gengsi dan prestise? ini masih menjadi sebuah pergulatan pilihan dalam alam pikiran. ya iyalah saya masih s1, baru juga mau kkn dan skripsi! oh kkn oh skripsi, kalian benar-benar sebuah pengingat bahwa saya semakin tua saja!
ngomong-ngomong tentang skripsi, saya pengen pakai metode kualitatif untuk penelitian skripsi. mengapa? karena (sampai sekarang) saya pikir bahwa metode kualitatif lebih memiliki banyak kesempatan untuk berinteraksi, dan belajar. tapi, saya juga belum ambil matkul MPK (Metode Penelitian Kualitatif), insyaallah semester 7 baru akan saya ambil. yup, dengan demikian tidak mungkin saya memulai skripsi di semester 7, paling cepat ya semester 8. bagi saya itu tidak masalah, toh saya tidak berniat lulus cepat, yang penting bikin skripsinya cepat! amin.
oh ya, saya sudah menemukan satu judul untuk skripsi, tapi sepertinya metodenya akan kuantitatif. tentang kaitan antara peran gender feminim dan androgini dengan psychological well being pada wanita dewasa muda. tapi saya masih mencari alternatif lainnya, toh saya juga masih menemukan banyak celah buat menggolkan penelitian ini. tenang saja nov, masih ada 1 semester untuk mencari judul-judul lainnya :)
pada akhirnya, just enjoy it. enjoy it, enjoy it! nikmati saja setiap masa sekarang yang sedang dilalui, kerjakan dan selesaikan, karena semuanya akan baik-baik saja. yup semuanya akan baik-baik saja, dan hidup akan terus berlanjut dengan caranya yang unik, jadi nikmati sajalah. cheers.
Komentar
Posting Komentar