saya bukan pengguna aktif twitter. dulu sempet punya dan aktif di sana, tapi jenuh, lalu deactivate akun. berbulan-bulan kemudian, saya bikin lagi untuk memenuhi kebutuhan informasi seperti kompas.com dan lain-lain. tidak ada tendensi untuk berteman ataupun ngetwit katarsisan. tapi sudah berbulan-bulan juga dari sekarang, saya tidak pernah membuka akun twitter. saya bersyukur tidak lagi menjadi pengguna aktif twitter. walau masih suka buka twitter tanpa sign in buat sekedar stalking kepo-kepo an *pengakuan dosa* :D
twitter, ia menyederhanakan segala hal dalam 140 huruf. begitu cepat, singkat, dan sangat sederhana. iaseperti melegalkanmu untuk menuliskan apapun dalam 140 huruf, hmm 2-3 kalimat saja mungkin? memperbolehkanmu untuk menuliskan perasaanmu yang paling absurd, kegiatanmu yang sangat tidak penting untuk diketahui orang lain, hingga pemikiran geniusmu yang sayang sekali berpotensi tereduksi maknanya dalam 140 huruf. itulah wajah twitter yang justru mempesonai para penggunanya.
twitter itu bisa melumpuhkan filter dalam diri kita. kita jadi semakin tidak selektif untuk memilah konten-konten yang pantas untuk dipublikasikan. mungkin saja juga membuat kita semakin emosional. Dalam arti ketika ada sebuah kejadian yang membuatmu meletup, entah meletup kesenangan, kemarahan, atau kesedihan, secara spontan saja dan mungkin telah menjadi kebutuhan laten untuk sesegera mungkin untuk ngetwit. apa untungnya? seperti katarsis mungkin.
tadi itu salah satunya, sisi lain twitter adalah ia menyebabkan kemandulan untuk bercerita panjang lebar dalam tulisan. beberapa sampel telah membuktikan. orang-orang yang sepengetahuan saya sangat bagus dan brilian ketika menulis di blog, kemudian menjadi sangat jarang hingga vakum mengurus blognya. ini tidak sekedar dari pengamatan, tapi juga pengakuan oknum-oknum terkait juga. twitter telah melenakan mereka. padahal, saya kan kangen tulisan-tulisan bermutu mereka :(
saya pikir, twitter telah mengubah budaya dan paradigma tentang menulis. tidak hanya twitter sepertinya, tapi juga jejaring sosial lainnya. ia membuat kegiatan menulis dan bercerita panjang menjadi sesuatu yang sangat asing untuk dilakukan. berbeda sekali dengan jaman saya sd dulu, ketika jejaring sosial belum ada, dan sahabat pena adalah alternatif yang asyik untuk menjalin pertemanan. surat-menyurat adalah aktivitas yang saya akrabi, begitu pula bertutur dalam tulisan yang lumayan panjang. sayangnya, budaya surat ini telah luntur sejak handphone mewabah, terlebih saat jejaring sosial diluncurkan. bahkan beberapa anak sudah tidak tahu lho fungsinya amplop untuk apa. sekedar intermezo, ini adalah sebuah percakapan yang sangat tidak biasa antara saya dengan seorang anak berumur 9 tahun.
Sy : D, apakah amplop itu?
D : Amplop kui, *hening cukup lama, terlihat berpikir* amplop kui, ah ra ngerti mbak.
Sy : Pasti bisa, ayo dicoba, amplop kui apa?
D : *berpikir* nganu mbak, tempat buat ngasih uang ke orang-orang miskin.
selanjutnya simpulkan saja sendiri *tersenyum miris
twitter, ia menyederhanakan segala hal dalam 140 huruf. begitu cepat, singkat, dan sangat sederhana. iaseperti melegalkanmu untuk menuliskan apapun dalam 140 huruf, hmm 2-3 kalimat saja mungkin? memperbolehkanmu untuk menuliskan perasaanmu yang paling absurd, kegiatanmu yang sangat tidak penting untuk diketahui orang lain, hingga pemikiran geniusmu yang sayang sekali berpotensi tereduksi maknanya dalam 140 huruf. itulah wajah twitter yang justru mempesonai para penggunanya.
twitter itu bisa melumpuhkan filter dalam diri kita. kita jadi semakin tidak selektif untuk memilah konten-konten yang pantas untuk dipublikasikan. mungkin saja juga membuat kita semakin emosional. Dalam arti ketika ada sebuah kejadian yang membuatmu meletup, entah meletup kesenangan, kemarahan, atau kesedihan, secara spontan saja dan mungkin telah menjadi kebutuhan laten untuk sesegera mungkin untuk ngetwit. apa untungnya? seperti katarsis mungkin.
tadi itu salah satunya, sisi lain twitter adalah ia menyebabkan kemandulan untuk bercerita panjang lebar dalam tulisan. beberapa sampel telah membuktikan. orang-orang yang sepengetahuan saya sangat bagus dan brilian ketika menulis di blog, kemudian menjadi sangat jarang hingga vakum mengurus blognya. ini tidak sekedar dari pengamatan, tapi juga pengakuan oknum-oknum terkait juga. twitter telah melenakan mereka. padahal, saya kan kangen tulisan-tulisan bermutu mereka :(
saya pikir, twitter telah mengubah budaya dan paradigma tentang menulis. tidak hanya twitter sepertinya, tapi juga jejaring sosial lainnya. ia membuat kegiatan menulis dan bercerita panjang menjadi sesuatu yang sangat asing untuk dilakukan. berbeda sekali dengan jaman saya sd dulu, ketika jejaring sosial belum ada, dan sahabat pena adalah alternatif yang asyik untuk menjalin pertemanan. surat-menyurat adalah aktivitas yang saya akrabi, begitu pula bertutur dalam tulisan yang lumayan panjang. sayangnya, budaya surat ini telah luntur sejak handphone mewabah, terlebih saat jejaring sosial diluncurkan. bahkan beberapa anak sudah tidak tahu lho fungsinya amplop untuk apa. sekedar intermezo, ini adalah sebuah percakapan yang sangat tidak biasa antara saya dengan seorang anak berumur 9 tahun.
Sy : D, apakah amplop itu?
D : Amplop kui, *hening cukup lama, terlihat berpikir* amplop kui, ah ra ngerti mbak.
Sy : Pasti bisa, ayo dicoba, amplop kui apa?
D : *berpikir* nganu mbak, tempat buat ngasih uang ke orang-orang miskin.
selanjutnya simpulkan saja sendiri *tersenyum miris
Komentar
Posting Komentar