Langsung ke konten utama

Keluarga kecilku

mutiara tiada tara adalah keluarga

ini adalah sebuah lirik lagu dari sinetron keluarga cemara, lirik yang pernah dinyanyikan oleh seseorang yang pernah dan masih signifikan di hidup saya ketika dia membolos di kantin dan kebetulan saya juga lagi di kantin *mulaingelanturlagi

saya sih seiya sekata dengan lirik tadi. bagi saya ya memang benar keluarga adalah mutiara yang tidak ternilai harganya, the most precious thing that i have kalau kata saya mah. keluarga adalah tempat saya selalu bisa berpulang dan merasa diterima. tempat untuk melepaskan jengah dan vakum sejenak dari kehidupan sosial yang terkadang terasa membelit. keluarga adalah tempat ternyaman yang tidak akan pernah hilang.


ada babe yang sabar sekaligus jail, mami yang bijak dan hobi jual mahal, mbak nana yang asik tapi tukang pamer, upik yang yahud mijetin walau pelit, dan lili yang lucu sabar ringan tangan tapi sensitif. semuanya adalah warna dalam keluarga kami, yang tanpa salah satu dari mereka kami bukanlah keluarga yang utuh.

mereka adalah orang-orang penting di hidup saya. mereka menyumbangkan begitu banyak hal pada saya. dari merekalah saya belajar. belajar menyayangi mencintai. belajar menerima dan menghargai. belajar tertawa bersama. belajar menyemangati dan mengusap air mata. oke saya mulai lebai ini hahaha

saya belajar apa artinya berserah diri dan lila legawa dari babe. bagaimana mengikhlaskan segala hal padaNya dan selalu menikmati hidup pelan-pelan. slow wae masbro mbaksist, mungkin itu yang akan dikatakan babe dalam bahasa gaulnya.

saya belajar bagaimana senantiasa merasa berkecukupan dan berpikir lurus dari mami. berkecukupan meski tak berkelimpahan. semuanya sudah ditakar dengan pas oleh yang maha tahu. ditakar seberapa banyak yang dibutuhkan dan ditakar waktu yang pas untuk diberikan. selalu berpikir lurus dan menghindari hal-hal curang dalam hidup. semua yang diusahakan dengan cara yang baik akan berbuah pada kebaikan pula. sebuah wejangan bijak yang tidak sekedar tersampaikan secara verbal, tapi juga melalui sebuah teladan. dari beliau juga saya belajar tentang prioritas dan membuat pilihan melalui kepercayaan yang beliau berikan pada kami. beliau adalah mami yang hebat.

saya belajar untuk terus belajar dari mbak nana. mbak nana yang tahu banyak, yang banyak menulari pengetahuannya pada saya. dari yang remeh hingga tak temeh. yang menyadarkan saya bahwa banyak hal di dunia ini yang belum saya ketahui, dan saya harus mencari tahu. dari mbak nana juga saya belajar tentang kemandirian. menyelesaikan segalanya sendiri selagi mampu.

eh saya belajar apa ya dari upik? hahaha, kejem banget. mungkin, saya belajar untuk lebih terbuka dengan orang lain? entahlah saya tidak terlalu yakin.

nah kalau dari lili saya belajar untuk selalu ringan tangan. membantu tanpa beban. menjadi orang yang selalu dirindukan. itulah lili, tapi saya gak tahu apa saya mampu mencapai taraf seperti lili.

mungkin dari apa yang saya ceritakan, keluarga saya sepertinya adalah keluarga sempurna tanpa cela. tapi percayalah, keluarga yang saya miliki bukanlah keluarga sempurna yang diidam-idamkan warga seluruh dunia. kami bukan keluarga yang selalu hangat, selalu damai sejahtera. ini adalah hasil persepsi saya tentang keluarga. dan bagaimanapun keadaan keluarga yang kita miliki, itu adalah harta paling berharga di dunia, yang harus selalu dijaga.

keluarga adalah sesuatu yang akan selalu saya rindukan. tak peduli bagaimana keadaan saya, dimana saya berada. mereka akan selalu saya rindukan, karena keluarga lah tempat berpulang yang paling nyaman.

*dengan penuh cinta untuk keluarga kecilku yang menyenangkan. untuk babe, mami, mbak nana, upik, dan lili peluk dan cium untuk kalian semua. terimakasih dan maaf..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

menghidupkan hidup

tak bisa dipungkiri, akhir-akhir ini saya benar-benar sedang mencintai dan menikmati kehidupan yang tengah berjalan. walaupun mungkin memang, saya semakin kehilangan waktu luang untuk sekedar bermain dan berkeliling. yah, seperti kehidupan saya di semester 3 kemarin sebenarnya. namun, ada yang berbeda di sini. di semester 3 saya tidak bisa menikmati semua kegiatan yang mayoritas dipenuhi dengan mengerjakan praktikum. and truly, that's suck. saya nggak rela kehilangan waktu bermain dan berkeliling yang saya gemari karena praktikum. tapi, lain dengan sekarang, karena apa yang saya jalani saat ini adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. saya semakin enjoy dengan proses kuliah di psikologi. semakin banyak hal menarik yang didapat di perkuliahan ini. rasa tertarik yang kemudian menumbuhkan motivasi intrinsik untuk belajar secara mandiri. sungguh, ini adalah sebuah pencapaian bagi saya. ketika saya menikmati proses pembelajaran, ketika saya didorong oleh keingintahuan, ketika ...

ketakutan irasional

pernahkah merasakan rasa takut sebelum mencoba sesuatu? pesimisme yang membuncah, kegamangan untuk melangkah, ketidakyakinan pada kekuatan sendiri, serasa ingin mati saja daripada menjalani sesuatu itu? orang bilang, menyerah sebelum berperang. padahal itu semua hanya karena omongan orang betapa mengerikannya medan laga yang harus dihadapi. omongan orang yang menghambatmu untuk optimis dan berbahagia dengan jalan yang akan ditempuh. begitu juga untuk urusan akademis. saya pernah mengalaminya berkali-kali, tapi yang teringat jelas dan sangat berkesan hanya ada dua. pertama, saat semester 3 di depan mata. semester paling hectic dan paling capek sepanjang perkuliahan. dua mata kuliah praktikum, dan itu errr menghabiskan waktu mainmu. saya ketakutan sekali, merasa tidak akan mampu melewatinya dengan selamat. ketakutan irasional yang membayang tak terelakkan. lalu hasilnya? saya masih hidup, selamat sampai tujuan dengan hasil memuaskan. ip melonjak cukup tinggi dibanding sem...

Berpulang Pada Kalian

Tanpa sadar aku telah merangkak keluar dari kehidupan orang-orang yang aku sayangi. Dan ketika jarak terasa semakin jauh, seandainya bisa, aku akan berlari kembali.. (salah satu status fb) Status fb dengan batasan maksimal 160 karakter, tulisan yang sangat singkat, tapi ketika digali maknanya bisa sangat dalam. Seperti status yang ak post beberapa hari yang lalu. Suatu titik kesadaranku yang dengan telaknya meninju ulu hati sampai lebam. Ya, bagaimana tidak lebam ketika merasa terasing sendiri, kehilangan konvoi sosial tanpa disadari.. Proksimitas, aku merindukanmu begitu terpendam. Jarak yang begitu jauh terasa menyesakkan, dan rutinitas semakin menambah panjang saja jarak yang tercipta. Jarak bukan lagi sekedar jarak secara fisik dan ruang, tapi juga merenggangnya kelekatan dan semakin habisnya komunikasi dilahap oleh rutinitas yang membuatku melupakan komunikasi. Dan beginilah akibatnya, aku kehilangan sekian banyak teman-teman yan...