Langsung ke konten utama

Katanya tabu

Saya tak menyangka sebuah ide iseng untuk nonton film Korea di TV malah membuat saya memikirkan tentang hal yang katanya masih tabu, seks-dalam perspektif yang agak berbeda. Saya menonton film ini sudah di tengah jalan, karena iseng saja saat memindah-mindah saluran. Sayangnya, saya juga tidak rampung menontonnya; di tengah-tengah film saluran diganti oleh adik karena ada adegan seorang laki-laki yang diam-diam mencoba melepas celana dalam seorang perempuan-sepertinya akan memperkosanya. padahal sebenarnya film ini cukup menarik, dan entah seperti apa kelanjutan adegan tersebut, menurut saya adegan tersebut layak berada di film tersebut karena berada dalam konteks yang pas. sinopsis film ini bisa dicek di sini atau thrillernya di sini.

Adegan-adegan yang mengarah ke hubungan seksual sebenarnya cukup mudah ditemui dalam sebuah film, baik buatan lokal atau luar. Bagi sebagian orang ini menjadi daya tarik tersendiri, sebagian yang lain justru dianggap menjijikkan-dan adik saya mungkin termasuk golongan ini. saya sendiri berada di kedua posisi ini, kadang justru menarik, kadang juga menjijikkan, tergantung dalam konteks apa adegan itu muncul dalam sebuah film. apakah sebagai bumbu untuk membangun kekompleksan cerita? atau sebagai bahan utama berkedok bumbu untuk menarik perhatian penonton-penonton mesum? hal kedua ini sangat mudah ditemui dalam horor-horor kacrut bikinan punjabi bersaudara.

kembali ke film, sebenarnya saya tidak keberatan sama sekali untuk melanjutkan menonton film tadi. memang agak berjengit karena sepertinya akan memperkosa, tapi itu kan wajar dalam setting cerita seperti itu. dari beberapa menit menonton, saya juga melihat bukan itu yang ditonjolkan, justru pergulatan batin dan intrik para pemainnya yang menculik perhatian saya untuk bertahan menonton hingga harus dipindah oleh adik saya.

nah ini juga yang saya tidak pahami, mengapa hanya dengan satu adegan tersebut ia langsung mengganti film ini sambil berkata "mbak ganti yo, njijiki". apakah satu adegan itu langsung memunculkan asumsi di benak adik saya bahwa film ini akan menjadi film yang menjijikkan? padahal berbagai adegan sebelum adegan tersebut bagi saya menunjukkan pergulatan batin yang kuat. apakah ia tidak bisa mengabaikan satu adegan untuk bertahan melihat akhir cerita dan mencernanya dalam suatu kesatuan-yang bisa bermakna atau tidak? benarkan seks sebegitu menjijikkan?

--

saya tahu seks bagi banyak orang masih dianggap tabu. tapi sesuatu yang tabu justru berpeluang besar menjerumuskan pada pengertian yang salah karena label tabu menutup arus informasi, menjegal manusia untuk berpikir secara bebas. karena tabu inilah, pengertian tentang seks pun menjadi sangat dikotomis, antara nikmat dan maksiat, antara senang dan jijik.

dalam ketabuannya, seks dianggap sesuatu yang rahasia, yang tidak boleh disebut secara lugas tapi diganti disamarkan sebagai 'begituan'. dalam ketabuannya, orang-orang malu untuk secara terbuka mengakui rasa penasarannya juga tidak mau terlihat mengetahui. dalam ketabuannya, lebih aman untuk berada di kubu 'menjijikkan' daripada dicerca di kubu 'nikmat' yang dianggap pemuja hawa nafsu.

--

bercerita tentang diri saya, saya adalah individu yang sudah terpapar konten-konten sarat muatan seksual di usia dini lewat media. Di SD saya tahu bahwa di masa SMP dan SMA remaja laki-laki dan perempuan berciuman dari komik-komik serial cantik. Di SMP saya tahu bahwa di usia 20an menuju 30an laki-laki dan perempuan lajang tanpa ikatan pernikahan berhubungan seks dari novel-novel chicklit. bahkan hal ini pun pernah saya baca di novel islami yang secara implisit mengisyaratkannya dalam kisah tentang tentang pasangan muda yang pada suatu malam membuat ranjang bergoyang dalam ikhtiarnya meneruskan keturunan. Di SMA saya menemuinya juga dalam sekelumit cerita karya-karya sastra macam Putu Wijaya. Di SMA juga topik ini mulai malu-malu dibicarakan dengan teman satu kelas. Di perkuliahan, saya menemukan bahwa seks bukan semata-mata sebuah perilaku, tapi juga sebuah konsep yang perlu dibangun maknanya oleh tiap individu lewat buku-buku Ayu Utami. 

Saya berubah. awalnya saya menganggap seks sebagai hal yang dilarang dilakukan tanpa ikatan pernikahan, murni melihatnya dalam kacamata agama. lalu saya tahu bahwa nilai agama juga bisa berbeda dengan nilai budaya. saya menganggap budaya barat bertentangan dengan nilai agama yang saya anut, sedangkan budaya timur lah yang selaras. lalu saya tahu ada nilai lain yang lebih mengakar tinimbang pemisahan budaya barat dan timur, yaitu budaya patriarkis. dan di luar agama dan budaya, saya juga melihat seks dari pandangan ilahiah.

--

Pada titik inilah saya menyimpulkan bahwa terdapat banyak sudut yang bisa digunakan untuk mengambil suatu perspektif, tidak melulu menjijikkan. Apakah akan dianggap menjijikkan juga sesuatu yang telah dilakukan oleh sebagian besar makhluk tuhan? Apakah akan dianggap menjijikkan yang bila tanpanya tak akan pernah ada diri sendiri?  Apakah akan dianggap menjijikkan ketentuanNya dalam proses penciptaan?

--

ps. tentu saja pemaknaan ini tidak bisa lepas dari pengalaman dan keyakinan pribadi tiap individu. paragraf terakhir adalah pemaknaan subjektif saya sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

birthday

sekarang sudah tanggal 8 agustus. 2 hari lalu adalah 6 agustus. hari yang biasanya saya nanti sejak satu minggu sebelumnya. lalu anehnya, saya melupakannya begitu saja. lupa selupa lupanya. bahkan kalau saya nggak buka fb hari ini pun, saya yakin saya gak inget inget juga. kalo 6 agustus kamu ulang tahun. ritual tahunanku dengan mendoakanmu dalam hening tanpa kebingaran, luput juga tahun ini. semuanya terasa aneh. saya bingung. saya senang karena sepertinya saya sudah benar-benar terbebas. sekaligus sedih, kenapa terbebas itu sepertinya identik dengan melupakan. tak bisakah saya terbebas dengan tetap mengingatmu. menunjukkan betapa ikhlas saya tentang kamu, apapun itu. ah ikhlas, bukankah itu adalah tahap yang sangat sulit untuk dicengkeram, bahkan sekedar digenggam ataupun diletakkan di atas telapak tangan?

Berpulang Pada Kalian

Tanpa sadar aku telah merangkak keluar dari kehidupan orang-orang yang aku sayangi. Dan ketika jarak terasa semakin jauh, seandainya bisa, aku akan berlari kembali.. (salah satu status fb) Status fb dengan batasan maksimal 160 karakter, tulisan yang sangat singkat, tapi ketika digali maknanya bisa sangat dalam. Seperti status yang ak post beberapa hari yang lalu. Suatu titik kesadaranku yang dengan telaknya meninju ulu hati sampai lebam. Ya, bagaimana tidak lebam ketika merasa terasing sendiri, kehilangan konvoi sosial tanpa disadari.. Proksimitas, aku merindukanmu begitu terpendam. Jarak yang begitu jauh terasa menyesakkan, dan rutinitas semakin menambah panjang saja jarak yang tercipta. Jarak bukan lagi sekedar jarak secara fisik dan ruang, tapi juga merenggangnya kelekatan dan semakin habisnya komunikasi dilahap oleh rutinitas yang membuatku melupakan komunikasi. Dan beginilah akibatnya, aku kehilangan sekian banyak teman-teman yan...

menghidupkan hidup

tak bisa dipungkiri, akhir-akhir ini saya benar-benar sedang mencintai dan menikmati kehidupan yang tengah berjalan. walaupun mungkin memang, saya semakin kehilangan waktu luang untuk sekedar bermain dan berkeliling. yah, seperti kehidupan saya di semester 3 kemarin sebenarnya. namun, ada yang berbeda di sini. di semester 3 saya tidak bisa menikmati semua kegiatan yang mayoritas dipenuhi dengan mengerjakan praktikum. and truly, that's suck. saya nggak rela kehilangan waktu bermain dan berkeliling yang saya gemari karena praktikum. tapi, lain dengan sekarang, karena apa yang saya jalani saat ini adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. saya semakin enjoy dengan proses kuliah di psikologi. semakin banyak hal menarik yang didapat di perkuliahan ini. rasa tertarik yang kemudian menumbuhkan motivasi intrinsik untuk belajar secara mandiri. sungguh, ini adalah sebuah pencapaian bagi saya. ketika saya menikmati proses pembelajaran, ketika saya didorong oleh keingintahuan, ketika ...