Langsung ke konten utama

Looking For Alibrandi

Judul : Looking For Alibrandi
Pengarang : Melina Marchetta
Tahun : 2004
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 328 hlm
--
Josephine Alibrandi berumur tujuh belas tahun, duduk di bangku terakhir SMU. Hidup bersama ibunya yang single parent dan nenek yang kuno dan kolot yang bikin sakit kepala, belum lagi melakukan persiapan untuk menghadapi ujian akhir. Tapi itu belum apa-apa. Josie masih harus menghadapi kenyataan bahwa ternyata tidak semua rencana yang disusunnya dengan begitu saksama dapat terwujud seluruhnya. Tanpa terduga dia harus menghadapi kenyataan bertemu dengan ayahnya untuk pertama kalinya seumur hidup, jatuh cinta, dan membongkar rahasia keluarganya di masa lalu.

Terlepas dari semua kekalutan itu, tahun ini pula Josie belajar memahami bahwa kebebasan bukan berarti melupakan masa lalu. Ada kalanya, kau harus menjadi diri sendiri untuk dapat membebaskan dirimu…
--
Looking for Alibrandi sebenarnya adalah novel lama, sepertinya saya membacanya saat SMP-sekarang saya sudah kuliah S1 semester 9. Novel teenlit pula, genre yang sudah saya tinggalkan sejak awal SMA. Namun, hari ini saya membacanya lagi setelah meminjam dari teman. Sebenarnya tidak berniat membaca, tapi kebetulan bertemu teman kampus yang punya koleksi teenlit. Lalu seru saja membicarakan teenlit-teenlit jaman dulu, termasuk Looking for Alibrandi.  Kami berdua sepakat bahwa novel ini termasuk teenlit yang bagus, walau saya sebenarnya juga lupa apa yang diceritakan di teenlit ini.  Namun, saya seyakin-yakinnya berkata pada teman saya bahwa novel ini mengesankan saya dulu. Saya pun jadi penasaran lagi, dan saya meminjamnya. 

Pada awalnya, saya juga agak penasaran, apa saya masih bisa terkesan dengan novel ini? 

Jujur saja, pada tahap ini saya menganggap teenlit itu sampah. Maaf untuk penggemar teenlit. Di umur saya yang setua ini, saya sudah tidak cocok dengan bacaan macam teenlit.  Namun, saya juga memahami betapa mengasyikkan cerita-cerita teenlit bagi kalian yang masih duduk di bangku sekolah, seperti apa yang terjadi pada diri saya dulu di SMP. Saya tidak bermaksud memojokkan teenlit, tapi kan wajar selera orang berubah. Sesuatu yang juga sangat mungkin terjadi pada kalian nanti.

Dan, pertanyaan saya terjawab. Ya masih seperti dulu. Saya tidak tahan melihat teenlit ini menganggur saja di meja, maka saya bergegas menyelesaikan pekerjaan dan membaca. Sekali tuntas. Hal ini adalah salah satu indikator apakah saya menyukai sebuah buku atau tidak, saking penasarannya. 

Saya kagum dengan kompleksitas cerita ini yang tidak seperti cerita-cerita teenlit kebanyakan, tapi tetap kental dengan kehidupan khas remaja. Looking for Alibrandi mengangkat berbagai masalah remaja secara menyeluruh. Tidak sebatas masalah tokoh ini suka dengan siapa, dan harus bersaing dengan siapa. Bukan  sekedar tentang berteman dengan siapa, dan pengkhianatan atau kesalahpahaman antar teman. Walau mungkin memang hanya itu yang kebanyakan dihadapi banyak remaja sekarang. Meskipun demikian, masalah demi masalah yang dihadapi Jossie pun bukan hal yang mustahil dihadapi remaja saat ini. Adakah remaja yang harus menghadapi berbagai stigma tentang statusnya sebagai anak haram? Tentu ada. Adakah seorang remaja yang tidak bisa akur dengan neneknya? Banyak, terlebih di masyarakat dengan struktur extended family. Hal inilah yang sering didengungkan sebagai gap-generation. Adakah remaja yang mengalami krisis identitas, kebingungan dengan pijakannya saat ia hidup di masyarakat yang berbeda kultur dengannya? Saat ia hidup di suatu masyarakat tertentu, tapi di tubuhnya ia tahu mengalir darah masyarakat lain yang jauh tak terjangkau yang sebenarnya adalah akar dari dirinya sendiri. Tentu saja ada. Di Indonesia pun ada, orang-orang keturunan Cina misalnya. 

Hal inilah yang saya apresiasi dari Looking for Alibrandi, yaitu masalah yang dihadapi Jossie menyentuh sisi kemanusiaan yang luas dan universal. Hal yang jarang saya temui di teenlit lainnya. Bayangkan saja bila banyak teenlit mempunyai jalan cerita semacam ini, mampu memotret isu-isu sosial dengan cara yang menyenangkan. Isu yang bila dikemas di berita televisi mungkin tidak menarik remaja karena hanya berisi data faktual tentang apa yang dipermasalahkan, kapan dan dimana itu terjadi, siapa saja yang terlibat, dan sebagainya. Bayangkan bila satu berita saja yang melibatkan masalah masyarakat luas-misal, rasisme seperti di novel ini-disempitkan menjadi masalah personal seorang remaja yang dikisahkan secara lebih detail, melibatkan persepsi remaja tersebut terhadap masalah itu, bagaimana ia merasa terganggu dan bagaimana ia memecahkan masalah itu. Pembaca teenlit bisa merasakan apa yang menimpa tokoh itu, mungkin memahami dan berempati. Terlebih lagi, bisa saja justru menumbuhkan kesadaran pada remaja pembaca teenlit bahwa masalah seperti itu memang benar-benar ada dan berpengaruh pada kehidupan remaja sebagai seorang individu. Bisa jadi ia menjadi lebih peka dengan realita sosial di sekitarnya, bisa jadi menumbuhkan sikap politiknya, bisa jadi ia tergerak untuk melakukan sesuatu tentangnya. Mungkin terkesan muluk dan banyak berharap, tapi apa salahnya toh ini adalah sebuah peluang yang bisa berhasil atau tidak.

Looking for Alibrandi: Mencari Jati Diri. Buku yang sesuai dengan masa remaja sebagai periode "storm and strees" yang membuat remaja mempertanyakan dirinya sendiri. Berbagai perubahan dan tantangan baru dihadapi saat individu memasuki remaja, dan ia harus kembali mengevaluasi diri sendiri setelahnya. Remaja mulai menyadari berbagai kelebihan dan kekurangan melalui standar yang berbeda. Lalu, memutuskan bagaimana ia bersikap pada dirinya? Begitu pula yang dihadapi Josie, saat ia mulai menyadari tentang lontaran-lontaran yang diucapkan orang-orang tentang ketidakjelasan ayahnya ataupun dirinya yang keturunan Italia dan harus mewarisi budaya Italia yang berbeda dengan budaya di Australia. Bagaimana Josie menemukan jalan bagi dirinya untuk menerima berbagai hal yang ada di dirinya. Bagaimana Josie akhirnya menyadari bahwa fakta-fakta aktual tentang dirinya sendiri tidak akan menjadi masalah bagi dirinya sendiri selama ia menyadari hal tersebut dan memiliki sikap tegas tentangnya. Ia memang keturunan Italia yang tinggal di Australia, tapi itu tidak bisa menyurutkan keyakinannya bahwa ia tetaplah warga negara Australia yang memiliki hak seperti orang lain dan memiliki kebebasan untuk tetap berpegang pada akar budayanya sendiri. Sebuah aturan umum yang bisa dipelajari dari novel ini dan dapat diaplikasikan pada apapun keadaan atau masalah yang dihadapi.

Oh ya, dalam bagian akhir novel ini ada sebuah kutipan yang asyik sekali. "Seseorang akan terus belajar mengetahui kebenaran setelah meninggalkan usia tujuh belas, dan aku ingin terus mengetahui kebenaran hingga hari aku meninggal kelak. Sama halnya seperti itu akan mengenal siapa diriku sebenarnya saat aku meninggal." Mengenali dunia adalah pekerjaan seumur hidup.  Begitu juga mengenali diri sendiri bukanlah tugas istimewa yang hanya diemban di masa remaja, tapi seumur hidup.

Sanjungan terakhir tentang novel ini adalah akhir yang membahagiakan dalam porsi yang sesuai. Bukan tentang Josie yang mendapatkan semua yang diinginkannya, bukan tentang akhirnya ia masih bahagia berpacaran dengan siapa, bukan tentang memiliki keluarga utuh yang harmonis, dan sebagainya.  Akan tetapi, ketika ia menemukan apa yang selama ini dicarinya untuk kembali melanjutkan hidupnya yang tidak akan selalu mudah dengan tantangan-tantangan baru lainnya. 

Ngomong-ngomong, saya baru menyadarinya saat membaca saat ini, tentang judul teenlit ini.  Looking for Alibrandi. Saya menyadari bahwa ini bisa jadi sebuah metafora tentang kebenaran di keluarganya dan pandangan yang ia temukan di akhir cerita. Keren!

Sayangnya, teenlit ini tidak dicetak ulang lagi, dan sepertinya sulit untuk mendapatkannya sekarang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

birthday

sekarang sudah tanggal 8 agustus. 2 hari lalu adalah 6 agustus. hari yang biasanya saya nanti sejak satu minggu sebelumnya. lalu anehnya, saya melupakannya begitu saja. lupa selupa lupanya. bahkan kalau saya nggak buka fb hari ini pun, saya yakin saya gak inget inget juga. kalo 6 agustus kamu ulang tahun. ritual tahunanku dengan mendoakanmu dalam hening tanpa kebingaran, luput juga tahun ini. semuanya terasa aneh. saya bingung. saya senang karena sepertinya saya sudah benar-benar terbebas. sekaligus sedih, kenapa terbebas itu sepertinya identik dengan melupakan. tak bisakah saya terbebas dengan tetap mengingatmu. menunjukkan betapa ikhlas saya tentang kamu, apapun itu. ah ikhlas, bukankah itu adalah tahap yang sangat sulit untuk dicengkeram, bahkan sekedar digenggam ataupun diletakkan di atas telapak tangan?

Berpulang Pada Kalian

Tanpa sadar aku telah merangkak keluar dari kehidupan orang-orang yang aku sayangi. Dan ketika jarak terasa semakin jauh, seandainya bisa, aku akan berlari kembali.. (salah satu status fb) Status fb dengan batasan maksimal 160 karakter, tulisan yang sangat singkat, tapi ketika digali maknanya bisa sangat dalam. Seperti status yang ak post beberapa hari yang lalu. Suatu titik kesadaranku yang dengan telaknya meninju ulu hati sampai lebam. Ya, bagaimana tidak lebam ketika merasa terasing sendiri, kehilangan konvoi sosial tanpa disadari.. Proksimitas, aku merindukanmu begitu terpendam. Jarak yang begitu jauh terasa menyesakkan, dan rutinitas semakin menambah panjang saja jarak yang tercipta. Jarak bukan lagi sekedar jarak secara fisik dan ruang, tapi juga merenggangnya kelekatan dan semakin habisnya komunikasi dilahap oleh rutinitas yang membuatku melupakan komunikasi. Dan beginilah akibatnya, aku kehilangan sekian banyak teman-teman yan...

menghidupkan hidup

tak bisa dipungkiri, akhir-akhir ini saya benar-benar sedang mencintai dan menikmati kehidupan yang tengah berjalan. walaupun mungkin memang, saya semakin kehilangan waktu luang untuk sekedar bermain dan berkeliling. yah, seperti kehidupan saya di semester 3 kemarin sebenarnya. namun, ada yang berbeda di sini. di semester 3 saya tidak bisa menikmati semua kegiatan yang mayoritas dipenuhi dengan mengerjakan praktikum. and truly, that's suck. saya nggak rela kehilangan waktu bermain dan berkeliling yang saya gemari karena praktikum. tapi, lain dengan sekarang, karena apa yang saya jalani saat ini adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. saya semakin enjoy dengan proses kuliah di psikologi. semakin banyak hal menarik yang didapat di perkuliahan ini. rasa tertarik yang kemudian menumbuhkan motivasi intrinsik untuk belajar secara mandiri. sungguh, ini adalah sebuah pencapaian bagi saya. ketika saya menikmati proses pembelajaran, ketika saya didorong oleh keingintahuan, ketika ...