hallo blog, aku datang lagi untuk mengabarkan satu berita duka, satu anjuran, dan satu keresahan. mari aku uraikan satu per satu kabar ini. satu beruta duka adalah meninggalnya bapak taufik kiemas kemarin. satu anjuran datang hari ini dari pak sby untuk mengibarkan bendera setengah tiang atas berita duka kemarin. satu keresahan menyambar diriku dan membutuhkan media penyampaian yang mumpuni untuk menumpahkannya. dan aku memilih mu. mari beri aku kesempatan untuk menyampaikan apa yang aku resahkan.
kabar kematian taufik kiemas memang cukup tak terduga, sebab setahuku tidak pernah ada kabar tentang sakitnya atau apapun atau aku yang ketinggalan berita. kabar terakhir yang kudapat tentang bapak taufik kiemas aku baca beberapa hari kemarin sebenarnya, tapi itu adalah berita bertahun-tahun lalu yang baru ku simak tanpa kecermatan kemarin. sayangnya kabar ini adalah lembar hitam bapak taufik kiemas. kabar ini tertuang dalam berita tentang wikileaks yang mengendus informasi tak sedap tentang terpilihnya sby untuk kali kedua beberapa tahun yang lalu. jadi apa yag aku tangkap saat membaca itu adalah isu tentang korupsi yang dilakukan oleh bapak taufik kiemas yang diputus rantai pengadilannya oleh pak sby. sekali lagi itu dari wikileaks, tidak tahu apa benar atau salah. sekali lagi aku tegaskan aku tidak mencermati berita tersebut, tidak menindaklanjutinya dengan kekepoan yang biasa aku lakukan. jadi pengetahuanku tentang beliau ya sekelumit pun masih sangat kurang.
lalu hari ini aku mengetahui bahwa pak sby menganjurkan pengibaran bendera setengah tiang sebagai tanda duka cita atas kepergian bapak taufik kiemas. tak pelak tanda tanya langsung terbersitkan: untuk apa? pantaskan beliau mendapatkan kehormatan sedemikian rupa?
anjuran bapak sby ini saya baca di lini masa twitter, entah apakah pak sby juga menyampaikannya dalam pidato resmi yang biasanya disiarkan di tivi-tivi. maklum saya sedang puasa nonton tivi karena baik di kost atau di rumah sedang tidak ada fasilitas ini. jadi, saya hanya memantau dari lini masa twitter, baik tentang ajuran itu juga tanggapan yang muncul dari para pengguna twitter terhadap anjuran tersebut. tak dipungkiri pro kontra aku temui. ada yang setuju-setuju saja bahkan ikut menganjurkan orang lain untuk mengibarkan bendera setengah tiang sebagai bentuk duka cita. tapi ada juga yang secara tegas menolak, beliau bukan pahlawan yang pantas mendapat penghormatan seperti itu. ada juga satu twit yang menyatakan masih jaman nggak ya ngibarin bendera setengah tiang setiap ada berita kematian pejabat tinggi. twit ini menggelitik rasa ingin tahuku, memang ada ya tradisi seperti ini. kapan? orba ya? semoga ada kesempatan untuk menelusuri hal ini.
lalu apa yang aku resahkan? aku resah terhadap posisiku, mendukung anjuran itu atau menolaknya? bila diminta memilih, dengan pengetahuanku yang amat terbatas tentang bapak taufik kiemas, aku memilih untuk menolak anjuran tersebut. bagiku bendera setengah tiang adalah suatu bentuk penghormatan yang amat besar, dan sakral. pantas dikibarkan bagi mereka yang tertimpa tragedi bencana alam juga kemanusiaan, bagi para pahlawan dan negarawan. ini pandangan pribadiku lho ya kutegaskan sekali lagi. untuk kriteria pertama, jelas bendera setengah tiang dianjurkan dikibarkan tidak untuk alasan itu. untuk yang kedua? aku ragu, masih terlalu prematur untuk menyatakan apakah beliau pahlawan/negarawan atau tidak. sekilas pandang sih sepertinya tidak, beliau ini bagi saya sebatas pejabat, politisi. ya dengan selentingan dari wikileaks pun sudah sepantasnya keraguan itu muncul, tidak bijak serta merta mengibarkan bendera setengah tiang. maka saya akan memantau saja lah perkembangan ulasan tentang taufik kiemas beberapa hari ke depan.
satu hal lagi yang saya resahkan adalah pada mereka yang serta merta mengiyakan anjuran pak sby. apakah telah terpikirkan oleh mereka untuk bersikap sedikit kritis terhadap anjuran ini hingga dapat mengiyakan? atau sekedar nggah nggih nggah nggih tanpa alasan yang kuat? ini lho yang saya resah akhir-akhir ini, ketidakmautauan kita yang muda-muda untuk menelusuri sejarah bangsa, untuk memantau tindak tanduk para pejabat di atas sana yang memang sangat tidak terjangkau oleh individu-individu kecil seperti kita. tapi itu semua bukan berarti sebagai pembenaran terhadap sikap apatis ini. aku pun sedang belajar untuk lebih membuka mata hati telinga terhadap berbagai sejarah bangsa dan aroma politik sekarang. sebab sejarah tak bisa lepas dari diri kita teman. sejarah lah yang menentukan diri kita sekarang, kita pun sedang bermain peran menuliskan sejarah bagi anak cucu dan kehidupan kita kelak. cuma itu yang aku yakini sekarang untuk mau peduli, dan menarik yang lain berdiskusi untuk peduli karena sungguh sia-sia sejarah yang tidak pernah dipelajari.
begitulah blog keresahanku di minggu pagi yang kelabu. maaf ya aku tidak bisa mengakhiri perpisahan dengan manis. sampai jumpa lagi ya.
kabar kematian taufik kiemas memang cukup tak terduga, sebab setahuku tidak pernah ada kabar tentang sakitnya atau apapun atau aku yang ketinggalan berita. kabar terakhir yang kudapat tentang bapak taufik kiemas aku baca beberapa hari kemarin sebenarnya, tapi itu adalah berita bertahun-tahun lalu yang baru ku simak tanpa kecermatan kemarin. sayangnya kabar ini adalah lembar hitam bapak taufik kiemas. kabar ini tertuang dalam berita tentang wikileaks yang mengendus informasi tak sedap tentang terpilihnya sby untuk kali kedua beberapa tahun yang lalu. jadi apa yag aku tangkap saat membaca itu adalah isu tentang korupsi yang dilakukan oleh bapak taufik kiemas yang diputus rantai pengadilannya oleh pak sby. sekali lagi itu dari wikileaks, tidak tahu apa benar atau salah. sekali lagi aku tegaskan aku tidak mencermati berita tersebut, tidak menindaklanjutinya dengan kekepoan yang biasa aku lakukan. jadi pengetahuanku tentang beliau ya sekelumit pun masih sangat kurang.
lalu hari ini aku mengetahui bahwa pak sby menganjurkan pengibaran bendera setengah tiang sebagai tanda duka cita atas kepergian bapak taufik kiemas. tak pelak tanda tanya langsung terbersitkan: untuk apa? pantaskan beliau mendapatkan kehormatan sedemikian rupa?
anjuran bapak sby ini saya baca di lini masa twitter, entah apakah pak sby juga menyampaikannya dalam pidato resmi yang biasanya disiarkan di tivi-tivi. maklum saya sedang puasa nonton tivi karena baik di kost atau di rumah sedang tidak ada fasilitas ini. jadi, saya hanya memantau dari lini masa twitter, baik tentang ajuran itu juga tanggapan yang muncul dari para pengguna twitter terhadap anjuran tersebut. tak dipungkiri pro kontra aku temui. ada yang setuju-setuju saja bahkan ikut menganjurkan orang lain untuk mengibarkan bendera setengah tiang sebagai bentuk duka cita. tapi ada juga yang secara tegas menolak, beliau bukan pahlawan yang pantas mendapat penghormatan seperti itu. ada juga satu twit yang menyatakan masih jaman nggak ya ngibarin bendera setengah tiang setiap ada berita kematian pejabat tinggi. twit ini menggelitik rasa ingin tahuku, memang ada ya tradisi seperti ini. kapan? orba ya? semoga ada kesempatan untuk menelusuri hal ini.
lalu apa yang aku resahkan? aku resah terhadap posisiku, mendukung anjuran itu atau menolaknya? bila diminta memilih, dengan pengetahuanku yang amat terbatas tentang bapak taufik kiemas, aku memilih untuk menolak anjuran tersebut. bagiku bendera setengah tiang adalah suatu bentuk penghormatan yang amat besar, dan sakral. pantas dikibarkan bagi mereka yang tertimpa tragedi bencana alam juga kemanusiaan, bagi para pahlawan dan negarawan. ini pandangan pribadiku lho ya kutegaskan sekali lagi. untuk kriteria pertama, jelas bendera setengah tiang dianjurkan dikibarkan tidak untuk alasan itu. untuk yang kedua? aku ragu, masih terlalu prematur untuk menyatakan apakah beliau pahlawan/negarawan atau tidak. sekilas pandang sih sepertinya tidak, beliau ini bagi saya sebatas pejabat, politisi. ya dengan selentingan dari wikileaks pun sudah sepantasnya keraguan itu muncul, tidak bijak serta merta mengibarkan bendera setengah tiang. maka saya akan memantau saja lah perkembangan ulasan tentang taufik kiemas beberapa hari ke depan.
satu hal lagi yang saya resahkan adalah pada mereka yang serta merta mengiyakan anjuran pak sby. apakah telah terpikirkan oleh mereka untuk bersikap sedikit kritis terhadap anjuran ini hingga dapat mengiyakan? atau sekedar nggah nggih nggah nggih tanpa alasan yang kuat? ini lho yang saya resah akhir-akhir ini, ketidakmautauan kita yang muda-muda untuk menelusuri sejarah bangsa, untuk memantau tindak tanduk para pejabat di atas sana yang memang sangat tidak terjangkau oleh individu-individu kecil seperti kita. tapi itu semua bukan berarti sebagai pembenaran terhadap sikap apatis ini. aku pun sedang belajar untuk lebih membuka mata hati telinga terhadap berbagai sejarah bangsa dan aroma politik sekarang. sebab sejarah tak bisa lepas dari diri kita teman. sejarah lah yang menentukan diri kita sekarang, kita pun sedang bermain peran menuliskan sejarah bagi anak cucu dan kehidupan kita kelak. cuma itu yang aku yakini sekarang untuk mau peduli, dan menarik yang lain berdiskusi untuk peduli karena sungguh sia-sia sejarah yang tidak pernah dipelajari.
begitulah blog keresahanku di minggu pagi yang kelabu. maaf ya aku tidak bisa mengakhiri perpisahan dengan manis. sampai jumpa lagi ya.
Komentar
Posting Komentar