Sebagai kota yang memiliki berbagai
potensi budaya Yogyakarta sudah menjadi salah satu tujuan wisata yang banyak
dikunjungi baik oleh turis lokal maupun mancanegara. Sayangnya, terdapat beberapa
kelemahan dalam wisata di Jogja.
Salah satu kelemahan wisata di Jogja
adalah pemanfaatan pedestrian yang tidak tepat yaitu justru digunakan sebagai
tempat parkir, maupun tempat berdagang. Akibatnya, banyak turis yang justru
menggunakan sisi jalan raya untuk berjalan. Sekalipun ada yang menggunakan
trotoar akan merasakan ketidaknyamanan. Hal ini jelas terlihat di area
sepanjang Malioboro. Malioboro sebagai salah satu ikon wisata di Jogja memang
memiliki daya tarik yang unik. Namun apa jadinya bila keunikan Malioboro
tersebut tertutupi oleh pedestrian yang tidak dimanfaatkan sesuai dengan
fungsinya?
Sebelum menjawab pertanyaan ini, perlu
ditelisik terlebih dahulu: apa yang menarik dari malioboro? Kenapa tempat tersebut menjadi salah satu pusat
wisata di Jogja?
Malioboro adalah suatu jalan yang menghubungkan beberapa tempat tujuan
wisata di pusat kota Jogja. Di antaranya
adalah Pasar Bringharjo, Kraton Yogyakarta, Benteng Vredeburg, Taman Sari,
serta daerah penjualan souvenir khas Jogja. Namun Malioboro bukanlah sekedar jalan biasa, tapi
juga pusat perbelanjaan yang menjual berbagai barang dan makanan khas
Jogja. Selain toko-toko yang berjajar,
Malioboro juga diramaikan oleh banyaknya pedagang emperan di sepanjang
jalannya. Akan tetapi, untuk menikmati keunikan ini seharusnya
Malioboro ditunjang oleh pedestrian yang nyaman. Tidak seperti kondisi sekarang dimana
Malioboro justru penuh sesak oleh parkir kendaraan. Tidak berfungsinya pedestrian sebagaimana
mestinya akan mengurangi nilai atraksi Malioboro. Oleh karena itu, dibutuhkan
solusi untuk mengembalikan fungsi pedestrian di Malioboro. Street
of Art merupakan sebuah solusi untuk menjawab persoalan ini. Selain itu,
konsep street of art juga dapat menambah
potensi atraksi di daerah Malioboro.
Konsep street of art ini sebenarnya
sama dengan pameran serta atraksi seni di jalan. Hanya saja konsep art yang diangkat lebih beragam serta dibuat
tertata. Seperti peletakan benda hasil karya seni di daerah sepanjang
Malioboro, maupun atraksi seni seperti musik, tari, dan lukisan, serta
penjualan barang-barang seni. Selain itu, tujuan lainnya adalah menjadikan
kawasan Malioboro sebagai tempat ’nongkrong’ komunitas-komunitas yang ada di Jogja.
Selain menikmati secara visual ataraksi di sepanjang Malioboro, wisatawan
juga berkesempatan untuk ikut terlibat langsung dan mencoba beberapa hal yang
ada seperti memainkan alat musik, ikut bernyanyi, menari, atau mencoba membuat
barang kerajinan langsung di tempat. Kunci dari konsep ini adalah penataan
atraksi secara tepat dan pemanfaatan pedestrian agar tetap nyaman digunakan untuk
berjalan kaki.
Selain di daerah pusat kota Yogyakarta
sendiri, tempat wisata juga banyak terdapat di daerah pinggir kota. Misalnya,
wisata agro dan lava tour di kawasan
utara, maupun wisata pantai di kawasan selatan.
Yogyakarta juga memiliki museum-museum yang tersebar di berbagai sudut
kota. Akan tetapi, informasi tentang
daerah wisata ini kurang banyak tersebar dan diketahui, terutama oleh turis
asing. Selain itu, akomodasi untuk menuju tempat-tempat wisata tersebut juga belum
terinformasikan dengan baik. Olah karena itu dibutuhkan pembuatan peta
wisata terintegrasi.
Konsep peta wisata terintegrasi merupakan
sebuah peta yang memuat daerah Yogyakarta dan sekitarnya, disertai dengan landmark destinasi wisata, jalur menuju
tempat-tempat wisata, serta akomodasi yang dapat digunakan untuk menuju termpat
wisata tersebut (seperti jalur bus). Pada
masing-masing tempat wisata diberi simbol serta keterangan singkat tentang tempat
wisata tersebut. Tak sebatas itu, peta ini juga memuat jalur-jalur dan modal transportasi
yang menghubungkan antara satu tempat wisata ke tempat wisata lainnya. Peta inilah yang akan menjadi panduan bagi
para wisatawan untuk berkunjung ke tempat-tempat wisata di Jogja.
Peta ini memiliki fungsi krusial dalam
pengembangan Yogyakarta sebagai daerah tujuan wisata, sebab peta ini akan
memudahkan wisatawan ketika berwisata menikmati keunikan Yogyakarta. Terlebih, bagi para wisatawan yang menggunakan
cara backpacker, keberadaan peta wisata
terintegrasi yang memuat berbagai informasi wisata dan akomodasi menjadi hal
yang sangat berguna. Diharapkan dengan adanya informasi destinasi
wisata dan akomodasi akan menjadi faktor penarik bagi wisatawan untuk
menghabiskan waktu liburannya dengan menikmati aneka wisata di Yogyakarta.
Komentar
Posting Komentar