Langsung ke konten utama

Langkah Awal

rasanya baru kemarin, belum dulu saya berada di tengah keceriaan selebrasi SMA.  tapi sekarang, saya sudah berada di ujung semester 7, berjalan menjemput selebrasi yang lain.  waktu memang akan terus berjalan mantap menghampiri, tapi apakah saya juga akan terus bergerak maju? jujur, saya agak sangsi.

selebrasi ini hanya bisa didapat bila saya berhasil menyelesaikan skripsi dan lulus ujian pendadaran, dan merampungkan bagian-bagian yang direvisi.  di sini saya bisa mendeskripsikannya dalam satu kalimat, tapi untuk menjalaninya dan benar-benar menyelesaikannya saya yakin akan butuh banyak kalimat untuk memotivasi diri, hingga muak mungkin rasanya dengan kalimat-kalimat tersebut.

ada satu masa yang harus dihadapi setiap mahasiswa tingkat akhit saya rasa, yaitu masa galau akademik, galau skripsi.  mungkin bisa menjadi salah satu isu perkembangan kontemporer, bisa juga untuk merevisi tahap perkembangan, ahahaha ini bercanda.  kakak tingkat pernah bertanya pada saya: piye dek wes galau skripsi durung? (bagaimana dek sudah galau skripsi belum?) pertanyaan ini diajukan beberapa bulan yang lalu, awal semester 7 sepertinya.  saya menanggapinya dengan tertawa seraya menjawab mantap: belum.  memang saat itu belum, saya masih santai-santai, tapi saya yakin suatu saat saya pasti akan menghadapi masa ini.  sebuah fase yang harus saya terima dan jalani. fase yang telah datang belakangan ini, walau belum akut.

awal november saya benar-benar bersemangat untuk memulai, rajin ke perpus, membaca literatur-literatur dalam rangkan memperluas pengetahuan dan cakrawala berpikir.  tapi kemudian kesibukan tiada henti, lalu mandeg, lalu saya galau. target akhir november mendapatkan judul dan latar belakang melayang sudah.  jujur saya merasa gagal.

malam ini, saya berusaha memulai lagi. kembali mengulik-ulik dan mencoba meresapi kebahagiaan.  hasilnya? saya memang belum mendapat insight yang benar-benar membantu untuk skripsi, tapi i'm inspired much! belajar tentang kebahagiaan adalah belajar tentang kehidupan.  berteguh untuk menggunakan topik ini sebagai tema skripsi boleh dikatakan adalah sesuatu yang idealis, passionate. karena sebenarnya, dengan target lulus agustus saya bisa mengambil judul yang lebih mudah, tapi saya tidak ingin.  bagi saya hasil memang penting, memenuhi target adalah penting, tapi yang paling utama adalah proses mencapainya.

malam ini, lonceng kesadaran saya dibunyikan.  kebahagiaan bukanlah tentang rasa senang yang sederhana, ataupun ketiadaan depresi, ataupun pencapaian hasil.  kebahagiaan adalah bagaimana kita mengevaluasi dan menilai kehidupan kita.  kebahagiaan adalah sebuah proses yang tiada henti, ia bukanlah sebuah tujuan, tapi perjalanan yang kita nikmati itulah kebahagiaan.

maka di malam ini pula saya memutuskan untuk tetap berpegang pada tema kebahagiaan, sembari menikmati perjalanannya dengan bahagia. semoga ini tidak sekedar serapah idealis, tapi sebuah janji yang harus dipenuhi.  ah tapi apa itu bahagia, apa definisiku sendiri tentang bahagia?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

menghidupkan hidup

tak bisa dipungkiri, akhir-akhir ini saya benar-benar sedang mencintai dan menikmati kehidupan yang tengah berjalan. walaupun mungkin memang, saya semakin kehilangan waktu luang untuk sekedar bermain dan berkeliling. yah, seperti kehidupan saya di semester 3 kemarin sebenarnya. namun, ada yang berbeda di sini. di semester 3 saya tidak bisa menikmati semua kegiatan yang mayoritas dipenuhi dengan mengerjakan praktikum. and truly, that's suck. saya nggak rela kehilangan waktu bermain dan berkeliling yang saya gemari karena praktikum. tapi, lain dengan sekarang, karena apa yang saya jalani saat ini adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. saya semakin enjoy dengan proses kuliah di psikologi. semakin banyak hal menarik yang didapat di perkuliahan ini. rasa tertarik yang kemudian menumbuhkan motivasi intrinsik untuk belajar secara mandiri. sungguh, ini adalah sebuah pencapaian bagi saya. ketika saya menikmati proses pembelajaran, ketika saya didorong oleh keingintahuan, ketika ...

ketakutan irasional

pernahkah merasakan rasa takut sebelum mencoba sesuatu? pesimisme yang membuncah, kegamangan untuk melangkah, ketidakyakinan pada kekuatan sendiri, serasa ingin mati saja daripada menjalani sesuatu itu? orang bilang, menyerah sebelum berperang. padahal itu semua hanya karena omongan orang betapa mengerikannya medan laga yang harus dihadapi. omongan orang yang menghambatmu untuk optimis dan berbahagia dengan jalan yang akan ditempuh. begitu juga untuk urusan akademis. saya pernah mengalaminya berkali-kali, tapi yang teringat jelas dan sangat berkesan hanya ada dua. pertama, saat semester 3 di depan mata. semester paling hectic dan paling capek sepanjang perkuliahan. dua mata kuliah praktikum, dan itu errr menghabiskan waktu mainmu. saya ketakutan sekali, merasa tidak akan mampu melewatinya dengan selamat. ketakutan irasional yang membayang tak terelakkan. lalu hasilnya? saya masih hidup, selamat sampai tujuan dengan hasil memuaskan. ip melonjak cukup tinggi dibanding sem...

Berpulang Pada Kalian

Tanpa sadar aku telah merangkak keluar dari kehidupan orang-orang yang aku sayangi. Dan ketika jarak terasa semakin jauh, seandainya bisa, aku akan berlari kembali.. (salah satu status fb) Status fb dengan batasan maksimal 160 karakter, tulisan yang sangat singkat, tapi ketika digali maknanya bisa sangat dalam. Seperti status yang ak post beberapa hari yang lalu. Suatu titik kesadaranku yang dengan telaknya meninju ulu hati sampai lebam. Ya, bagaimana tidak lebam ketika merasa terasing sendiri, kehilangan konvoi sosial tanpa disadari.. Proksimitas, aku merindukanmu begitu terpendam. Jarak yang begitu jauh terasa menyesakkan, dan rutinitas semakin menambah panjang saja jarak yang tercipta. Jarak bukan lagi sekedar jarak secara fisik dan ruang, tapi juga merenggangnya kelekatan dan semakin habisnya komunikasi dilahap oleh rutinitas yang membuatku melupakan komunikasi. Dan beginilah akibatnya, aku kehilangan sekian banyak teman-teman yan...