Langsung ke konten utama

i'm on my way to mental health

hari ini adalah hari kesehatan mental buat saya.  kejadian yang mengalir, emosi yang naik turun, percakapan yang bergulir, pemahaman baru yang melegakan.

hari ini diawali dengan bangun kesiangan, terus ngerjain tugas kesmen. ini point yang nggak penting sebenarnya  hahaha

lalu makan ke bungong sama nadia (halo nad :p), lalu ngobrol tentang psikologi dan tetek bengeknya.  dari mata kuliah, dosen-dosen nggak jelas, skripsi, rencana semester depan, minat dan konsentrasi bidang psikologi, dll, dan keluarga.  keluarga adalah bibit.

sampai di kost, saya ngobrol sama putri.  bisa dibilang curhat, sekaligus belajar psikologi lagi.  kami saling menggalaukan diri tentang hubungan di keluarga masing-masing.  tentang kekecewaan, kemarahan, juga kerinduan.  kami saling belajar tentang mengambil perspektif lain, meregulasi emosi-emosi negatif, bagaimana menerapkan psikologi untuk diri sendiri.  khusus buat saya, entah buat putri iya apa enggak, saya belajar tentang hubungan terapeutik, unconditional (self, others, life) acceptance, self-disclosure and the real empathy.  tidak ketinggalan juga, tentang self-awareness.  saya tidak akan menuliskan konten obrolan kami tadi, yang jelas saya belajar banyak hal.  terimakasih put :)

lalu tibalah entah kenapa kami nyasar ngomongin koruptor.  bahwa koruptor itu merajalela, karena banyaknya keluarga-keluarga patologis yang menghasilkan individu-individu patologis.  parahnya, mereka tidak sadar bahwa mereka itu sebenarnya patologis.  bahwa semua analisa dan kritik tentang sistem pemerintahan dan birokrasi adalah sesuatu yang pointless bila ia berdiri sendiri.  bahwa ada sesuatu yang sebenarnya lebih esensial dan mendalam tinimbang pembenahan budaya organisasi, yaitu mengusahakan terwujudnya keluarga-keluarga sehat untuk individu-individu yang sehat.  individu sehat untuk sebuah bangsa dan negara yang sehat.  obrolan yang menguatkan keinginan saya untuk membuat program edukasi pra-nikah untuk pasangan-pasangan muda.

dua jam saya ngobrol sama putri, membuat saya menunda kepulangan ke magelang beberapa jam.  tapi worth it lah.

sampai di rumah, rasanya lega dan senang.  lalu jam 9an malam, emosi saya memuncak. lagi-lagi saya merasakan kekecewaan dan kemarahan.  lagi-lagi saya merasa oversensitif dalam mempersepsi masalah.  lagi-lagi saya berusaha menyangkal emosi yang meluap, merasa bahwa emosi ini tidak sepantasnya ada, kejadian yang baru saja terjadi tak semestiya menjadi sebuah masalah yang berarti.  saya lebay sekali kali ini.  rasanya menyakitkan, seperti bergulat dengan diri sendiri.  namun kali ini saya membiarkan emosi ini ada, menerima keberadaannya, saya menangis sesenggukan, merasakan segala rasa marah, kecewa, dan sedih. saya menangis di bawah selimut, sendiri.

mami datang dan bertanya ada apa setelah sebelumnya saya membentak beliau tanpa bermaksud begitu.  ah ibu, sosok yang benar-benar merepresentasikan apa itu cinta dan kasih sayang.  beliau masih mau peduli setelah mungkin merasa tersakiti.  beliau memilih untuk mendengarkan daripada membiarkan segala prasangka itu ada dan bertumbuh di benaknya.  terimakasih mam, telah menjadi ibu yang sebenar-benarnya ibu.

saya tidak menjawab, masih menangis termehek-mehek.  emosi ini masih terlalu banyak bercongkol di dalam, saya tidak akan mampu menjelaskan.  saya terus menangis, mami tiduran di sebelah saya, mainan hape, menunggu saya membuka mulut.  saya berhenti menangis, tapi saya masih belum siap.  saya memilih untuk sholat dulu, lalu berbicara pada mami tentang apa yang saya rasakan, tentu saja diselingi tangisan dan sesak napas. seperti orang bengek saja kalau dipikir sekarang haha

saya berbicara tentang kemarahan, kekecewaan yang sekali lagi terpantik.  tapi, saya tidak ingin lagi membiarkannya menjadi sampah yang mengotori diri.  sudah terlalu banyak sampah-sampah psikologis tertimbun di sini, saya tidak rela menjadikan diri sendiri sebagai tempat pembuangan akhir lagi.  saya ingin semuanya diselesaikan.  maka saya berdialog dengan mami, sesulit apapun itu untuk diutarakan, semenyakitkan apapun itu untuk dirasakan kembali.  sememalukan apapun itu untuk diketahui, seperti menelanjangi diri sendiri. tidak mudah, dan tidak menyenangkan.  berkali-kali saya jatuh bangun dalam siklus menangis-tenang-menangis lagi.  entah berapa kali saya kesulitan bernafas tadi, dan rasa pening yang masih saja menggelanyuti hingga saya mengetik tulisan ini.  saya menggali dan membuka diri, mencoba asertif.

plong.

tersampaikan sudah uneg-uneg selama ini.  tersalurkanlah semua emosi tak sehat ini.  senangnya mami pun bisa mengerti dan berempati. lucuya, kenapa kalimat saya jadi berima -i? seperti puisi. eh pantun.

di kaca saya melihat diri sendiri, bukannya narsis, tetapi saya merasa cantik :) rambut saya awut-awutan, mata saya sembab mbendul-mbendul nggak karuan, tapi bibir dan sudut mata saya bisa berkompromi membuat senyum yang sangat menyenangkan.  Dunschen smile kah itu namanya? saya lebih bahagia, merasa lebih "sehat"

oya, setelah saya benar-benar tenang dan sebelum obrolan dengan mami berakhir, kami membicarakan tentang keluarga.  pentingnya keluarga sebagai madrasah tiap pribadi, besarnya peran orang tua sebagai pendidik, keluarga sebagai awal tumbuh kembang dunia dan rendahnya kesadaran masyarakat akan hal ini.  lagi-lagi ini menguatkan saya untuk membuat program edukasi pra-nikah.  mami sangat mendukung, katanya itu dibikin skripsi saja. ah mami, ternyata beliau ingat kalau saya sudah mau skripsi :p

fiuh.  hari ini adalah sesuatu banget.  terimaksih tuhan untuk setiap hari yang engkau rancangkan. hari ini adalah salah satu rancangan terbaikmu, terimakasih sekali... :)

hmm, tulisan ini sudah sangat panjang.  tapi saya mau ngobrol sebentar tentang judul postingan ini : i'm on my way to mental health.  sebenarnya, mental health itu bukanlah tujuan, ia bukanlah pencapaian, tapi sebuah proses.  bisa dibilang, sebuah tujuan yang tak berakhir.  jadi ya berproseslah menuju kesehatan mental. dan menurut saya, manusia itu adalah seorang pejalan yang tak pernah usai menapaki dan meresapi dirinya sendiri.

yup, saatnya kembali belajar kognitif, semoga selalu berbahagia!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

birthday

sekarang sudah tanggal 8 agustus. 2 hari lalu adalah 6 agustus. hari yang biasanya saya nanti sejak satu minggu sebelumnya. lalu anehnya, saya melupakannya begitu saja. lupa selupa lupanya. bahkan kalau saya nggak buka fb hari ini pun, saya yakin saya gak inget inget juga. kalo 6 agustus kamu ulang tahun. ritual tahunanku dengan mendoakanmu dalam hening tanpa kebingaran, luput juga tahun ini. semuanya terasa aneh. saya bingung. saya senang karena sepertinya saya sudah benar-benar terbebas. sekaligus sedih, kenapa terbebas itu sepertinya identik dengan melupakan. tak bisakah saya terbebas dengan tetap mengingatmu. menunjukkan betapa ikhlas saya tentang kamu, apapun itu. ah ikhlas, bukankah itu adalah tahap yang sangat sulit untuk dicengkeram, bahkan sekedar digenggam ataupun diletakkan di atas telapak tangan?

Berpulang Pada Kalian

Tanpa sadar aku telah merangkak keluar dari kehidupan orang-orang yang aku sayangi. Dan ketika jarak terasa semakin jauh, seandainya bisa, aku akan berlari kembali.. (salah satu status fb) Status fb dengan batasan maksimal 160 karakter, tulisan yang sangat singkat, tapi ketika digali maknanya bisa sangat dalam. Seperti status yang ak post beberapa hari yang lalu. Suatu titik kesadaranku yang dengan telaknya meninju ulu hati sampai lebam. Ya, bagaimana tidak lebam ketika merasa terasing sendiri, kehilangan konvoi sosial tanpa disadari.. Proksimitas, aku merindukanmu begitu terpendam. Jarak yang begitu jauh terasa menyesakkan, dan rutinitas semakin menambah panjang saja jarak yang tercipta. Jarak bukan lagi sekedar jarak secara fisik dan ruang, tapi juga merenggangnya kelekatan dan semakin habisnya komunikasi dilahap oleh rutinitas yang membuatku melupakan komunikasi. Dan beginilah akibatnya, aku kehilangan sekian banyak teman-teman yan...

menghidupkan hidup

tak bisa dipungkiri, akhir-akhir ini saya benar-benar sedang mencintai dan menikmati kehidupan yang tengah berjalan. walaupun mungkin memang, saya semakin kehilangan waktu luang untuk sekedar bermain dan berkeliling. yah, seperti kehidupan saya di semester 3 kemarin sebenarnya. namun, ada yang berbeda di sini. di semester 3 saya tidak bisa menikmati semua kegiatan yang mayoritas dipenuhi dengan mengerjakan praktikum. and truly, that's suck. saya nggak rela kehilangan waktu bermain dan berkeliling yang saya gemari karena praktikum. tapi, lain dengan sekarang, karena apa yang saya jalani saat ini adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. saya semakin enjoy dengan proses kuliah di psikologi. semakin banyak hal menarik yang didapat di perkuliahan ini. rasa tertarik yang kemudian menumbuhkan motivasi intrinsik untuk belajar secara mandiri. sungguh, ini adalah sebuah pencapaian bagi saya. ketika saya menikmati proses pembelajaran, ketika saya didorong oleh keingintahuan, ketika ...