![]() |
| Idols - Bam Mastro |
kesedihan bukan diukur dari air mata
Sebuah frase yang aku temukan di video musik “Idols” milik Bam Mastro (the sexiest man alive wkwk). Frase ini merupakan graffiti di sebuah tembok yang dijadikan latar belakang pengambilan beberapa scene di video “Idols”
Ketika melihat video ini, frase ini langsung menarik perhatian dan membuatku tersenyum, hmm, miris mungkin ya. Sebab, air mata merupakan salah satu ekpresi yang genuine dari kesedihan. Meskipun bukan satu-satunya. Namun, ketika air mata tidak cukup menjadi indikator kesedihan seseorang, maka muncul pertanyaan: Ada apa? Kenapa bisa begitu?
Bagiku, frase ini semakin menegaskan betapa dibatasinya ekspresi emosi negatif di negeri ini. Betapa air mata, kesedihan, seringkali dianggap sebagai pertanda sebuah kelemahan. Konsekuensinya, lebih baik disembunyikan. Air mata disembunyikan untuk menyembunyikan kesedihan dan menghindari dicap sebagai orang yang lemah.
Penegasan ini membuatku sedih. Walau tidak sampai mengeluarkan air mata. Bukan karena aku menahan air mata, tapi karena kesedihan yang ditimbulkan tidak cukup dalam.
Kalau kesedihan itu mendalam, air mata akan keluar secara otomatis. Dan menahannya sebetulnya hanya menyesakkan saja. Dan juga kadang membuat kita kehilangan signal seberapa dalam kesedihan yang sebenarnya kita rasakan.
Padahal, setiap emosi menyimpan sebuah informasi berharga tentang apa coping yang paling dibutuhkan untuk menghadapi sebuah situasi. Misal, rasa sedih memberikan pertanda bahwa saat ini kita membutuhkan dukungan dari orang lain. Seberapa besar dukungan yang kita perlukan tentunya bergantung pada seberapa dalam kesedihan tersebut. Semakin dalam kesedihan, maka semakin banyak dukungan yang diperlukan agar kita bisa pulih dari kondisi tersebut.
Aku menggunakan kata pulih untuk memberikan penekanan bahwa bukan saja kondisi tersebut berlalu, atau terlewati, tapi juga tidak berdampak pada munculnya luka yang masih menyakitkan meski peristiwa yang membuat sedih itu telah berlalu. Analoginya, misal kita mendapatkan luka bakar di betis akibat terkena knalpot yang masih panas-panasnya, maka luka itu benar-benar dibasuh air lalu dikasih salep sampai luka bakarnya mengering dan membuat kita tetap nyaman berjalan seperti sebelum terkena knalpot; alih-alih hanya menutupinya dengan celana panjang agar tidak terlihat oleh orang lain tapi kita masih merasa kesakitan dan sangat tidak nyaman ketika berjalan.
Oleh sebab itu, bayangkanlah ketika kita mengalami peristiwa yang sangat mengguncang, misal putus setelah pacaran 8 tahun, maka wajar bila kita merasa sangat sedih dan membuat kita menangis. Menangis bukan pertanda bahwa kita lemah, tapi signal bahwa kita membutuhkan dukungan dari orang lain untuk menghadapi sulitnya beradaptasi dengan kondisi paska putus. Ketika kita memperbolehkan diri kita menangis, kita mengetahui seberapa dalam kesedihan yang kita rasakan, dan kita akan mencari dukungan seperti yang kita butuhkan.
Bayangkan bila kita tidak memperbolehkan diri menangis agar terlihat kuat dan tegar, atau menjaga gengsi di depan mantan dan teman-temannya. Ya, kita bisa saja jadi mengabaikan untuk melihat seberapa dalam kesedihan yang kita rasakan dan memahami seberapa besar dukungan yang kita butuhkan. Apalagi ditambah gengsi, maka justru akan semakin menghambat kita untuk mendapatkan dukungan seperti yang kita butuhkan. Maka jangan heran ya kalau lihat orang yang sepertinya tegar dan kuat habis putus tapi sebenarnya gagal move on sampe lama banget. Ya karena itu, kesedihannya hanya ditutupi tapi tidak dipulihkan.
Siapa yang rugi? Mantan lah yang mutusin kita! Wkwkwk gak nyambung blas!
Pesan sponsor: biarkan air mata membantumu mengukur kesedihanmu. Because it’s really okay not to be okay :)

Komentar
Posting Komentar