Langsung ke konten utama

Trilogi Warna: Review Singkat

Judul : Trilogi Warna
Pengarang : Kim Dong Hwa
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

--
Trilogi Warna merupakan kisah tentang perempuan dari dua generasi berbeda, Ehwa dan ibunya yang seorang janda. Ehwa merupakan gadis cilik yang sedang bertumbuh dewasa. Seiring dengan itu, Ehwa mulai menyadari seksualitasnya dan meresapi dirinya sebagai seorang perempuan. Hal ini tentunya tidaklah lepas dari peran Ibunya dalam mendampingi Ehwa menghadapi kedewasaannya. Selain itu, Ehwa pun mulai mengenal dan belajar memahami apa itu cinta. Uniknya, pada saat yang sama ibu Ehwa juga sedang jatuh cinta pada tukang gambar keliling meski di usianya yang semakin tua. Keduanya kemudian saling berbagi rasa dan cerita tentang perasaan cintanya dengan menggunakan berbagai unsur alam sebagai objek simbolisasi, seperti bunga, kupu-kupu,hujan, bulan hingga angin.

Kisah Ehwa dan ibunya mengambil latar belakang kehidupan di Korea pada akhir abad ke-19. Dalam trilogi ini banyak ditemukan berbagai pandangan masyarakat Korea saat itu tentang perempuan, termasuk stigma tentang janda. Bisa dikatakan, Trilogi Warna sukses menunjukkan nilai-nilai di masa itu yang masih menganggap perempuan sebagai warga kelas dua. Meskipun demikian, di sisi lain karya ini menunjukkan perlawanannya melalui pernyataan-pernyataan ibu Ehwa yang berani meredefinisikan perempuan menurut perspektifnya, juga melalui penggambaran beberapa tokoh laki-laki yang bersikap menghormati perempuan. Trilogi Warna merupakan sebuah karya dengan pendekatan feminis yang cemerlang.

Kisah Ehwa dan Ibunya ini disajikan dalam bentuk novel grafis yang terdiri dari Warna Tanah, Warna Air, dan Warna Langit. Berbagai pujian diterima Kim Dong Hwa atas kemampuannya mengolah manhwa yang mampu menyajikan lanskap-lanskap menawan dalam garis-garis yang indah dan halus. Kim Dong Hwa juga piawai dalam memanfaatkan ruang-ruang dalam panel gambar dan memadukannya dengan teks-teks yang puitis. Sebuah perpaduan yang membuat kisah ini lebih terasa indah daripada bila disajikan dalam bentuk narasi semata.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

birthday

sekarang sudah tanggal 8 agustus. 2 hari lalu adalah 6 agustus. hari yang biasanya saya nanti sejak satu minggu sebelumnya. lalu anehnya, saya melupakannya begitu saja. lupa selupa lupanya. bahkan kalau saya nggak buka fb hari ini pun, saya yakin saya gak inget inget juga. kalo 6 agustus kamu ulang tahun. ritual tahunanku dengan mendoakanmu dalam hening tanpa kebingaran, luput juga tahun ini. semuanya terasa aneh. saya bingung. saya senang karena sepertinya saya sudah benar-benar terbebas. sekaligus sedih, kenapa terbebas itu sepertinya identik dengan melupakan. tak bisakah saya terbebas dengan tetap mengingatmu. menunjukkan betapa ikhlas saya tentang kamu, apapun itu. ah ikhlas, bukankah itu adalah tahap yang sangat sulit untuk dicengkeram, bahkan sekedar digenggam ataupun diletakkan di atas telapak tangan?

Berpulang Pada Kalian

Tanpa sadar aku telah merangkak keluar dari kehidupan orang-orang yang aku sayangi. Dan ketika jarak terasa semakin jauh, seandainya bisa, aku akan berlari kembali.. (salah satu status fb) Status fb dengan batasan maksimal 160 karakter, tulisan yang sangat singkat, tapi ketika digali maknanya bisa sangat dalam. Seperti status yang ak post beberapa hari yang lalu. Suatu titik kesadaranku yang dengan telaknya meninju ulu hati sampai lebam. Ya, bagaimana tidak lebam ketika merasa terasing sendiri, kehilangan konvoi sosial tanpa disadari.. Proksimitas, aku merindukanmu begitu terpendam. Jarak yang begitu jauh terasa menyesakkan, dan rutinitas semakin menambah panjang saja jarak yang tercipta. Jarak bukan lagi sekedar jarak secara fisik dan ruang, tapi juga merenggangnya kelekatan dan semakin habisnya komunikasi dilahap oleh rutinitas yang membuatku melupakan komunikasi. Dan beginilah akibatnya, aku kehilangan sekian banyak teman-teman yan...

menghidupkan hidup

tak bisa dipungkiri, akhir-akhir ini saya benar-benar sedang mencintai dan menikmati kehidupan yang tengah berjalan. walaupun mungkin memang, saya semakin kehilangan waktu luang untuk sekedar bermain dan berkeliling. yah, seperti kehidupan saya di semester 3 kemarin sebenarnya. namun, ada yang berbeda di sini. di semester 3 saya tidak bisa menikmati semua kegiatan yang mayoritas dipenuhi dengan mengerjakan praktikum. and truly, that's suck. saya nggak rela kehilangan waktu bermain dan berkeliling yang saya gemari karena praktikum. tapi, lain dengan sekarang, karena apa yang saya jalani saat ini adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. saya semakin enjoy dengan proses kuliah di psikologi. semakin banyak hal menarik yang didapat di perkuliahan ini. rasa tertarik yang kemudian menumbuhkan motivasi intrinsik untuk belajar secara mandiri. sungguh, ini adalah sebuah pencapaian bagi saya. ketika saya menikmati proses pembelajaran, ketika saya didorong oleh keingintahuan, ketika ...