Langsung ke konten utama

Apa kabar? (part I)

Halo Novia, apa kabarmu hari ini? Minggu ini? Bulan ini? Tahun ini?

Menyapa diri sendiri melalui tulisan sudah lama sekali tidak pernah kulakukan. Rasanya aku hanya tenggelam dalam aktivitas dan aktivitas tanpa memberi kesempatan untuk sengaja berhenti sejenak dan bercermin pada diri sendiri. Berefleksi seperti sebuah kemewahan saja. Hasilnya, aku bosan. Aku tidak merasakan adanya pertumbuhan diri. Kehidupanku tidal lagi terasa rewarding. 

Sebenarnya sejak tahun 2014 bermulai, berbagai hal hebat terjadi dan bergumul dalam diriku sendiri. Pertama, aku menyelesaikan skripsiku setelah nyaris selama setahun bergulat dengannya. Perjalananku menuju titik akhir kesarjanaanku benar-benar berakhir. Aku merasa bangga pada diriku sendiri. Aku tahu aku adalah orang yang suka belajar. Aku punya locus internal. Aku mampu mengeset standarku sendiri dan bergerak secara mandiri. Meskipun dosen pembimbingku termasuk tak acuh, aku masih bisa menjaga semangatku untuk terus menyelesaikan skripsiku. Meskipun pada perjalanan sebelumnya aku mengalami pasang surut perasaan, aku bisa mengatasinya dan belajar darinya. Aku pernah merasa tidak kompeten. Aku pernah sangat bersemangat. Aku mengamini semua hal ini sebagai proses yang pasti menuju titik akhir. And this is it. Skripsiku siap diujikan. Aku deg-degan iya, takut terdapat kesalahan  fatal, iya. Namun, inilah pertanggungjawabanku. Aku harus berani berargumentasi terhadap berbagai pilihanku, keputusanku, analisisku, juga kesimpulanku. Aku harus siap menemui kesalahan dan menjadikannya sebagai bagian dari belajar. Kemudian hari sidang akhirnya datang, dan Tuhan memberi jalan yang lebih mudah. Salah satu dosen pengujiku tiba-tiba vertigo dan berhalangan hadir sehingga sidangku hanya dihadiri dosen pembimbing dan satu dosen penguji. Sidangku pun hanya berlangsung selama satu jam. Tidak ada hal mendasar tentang proses penelitianku yang dikritisi. Lancar saja dan aku bisa memberikan jawaban pada pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Aku merasa sangat berterimakasih meskipun di sisi lain aku merasa kecewa terhadap ketidakhadiran satu pengujiku. Aku merasa aku kurang ditantang. Namun apapun yang terjadi itu adalah jalan terbaik. Pernyataan seandainya, what if akan selalu muncul, tapi apa guna bila sudah terjadi?

Skripsi telah selesai hingga revisi disetujui, lalu berlanjut pada persiapan wisuda. Berbagai persyaratan administratif aku penuhi. Tak disangka, saat mengambil toga yaitu satu minggu sebelum wisuda bapak diminta opname untuk persiapan operasi di hari wisudaku. Saat diberi tahu hal itu, aku sedih membayangkan wisuda tanpa babe dan mami. Aku sudah berkaca-kaca di lorong poliklinik. Suaraku sudah tercekat saat akan menimpali informasi ini. Ada rasa tidak rela di situ. Namun, aku menyadari bahwa aku harus bisa menentukan prioritas. Maka, aku pun berusaha berbesar hati dan mengatakan pada babe dan mami untuk melanjutkan rencana operasi untuk kesehatan babe segera. Aku tidak apa-apa wisuda tanpa orang tua, itu tidak esensial karena aku tahu dukungan babe dan mami selama aku kuliah dan skripsi sudah lebih dari cukup. Inilah saatnya aku menegosiasikan egoku dan menunjukkan bakti. Aku pun tahu bahwa babe dan mami sebenarnya ingin menghadiri dan sedih karena tidak bisa mendampingiku. Namun, keadaanku membuat kami harus memnuat pilihan. Dan, aku memilih dengan penuh kebanggaan.

Hari wisuda berlangsung. Hambar rasanya mengikuti prosesi di GSP lalu berlanjut ke Fakultas. Wisuda kali ini rasanya sangat sepi. Adakah kebahagiaan saat itu? Adakah sukacita? Bisa dikatakan hanya sedikit. Aku tidak merasa murung, tapi tidak juga senang. Biasa saja. Lalu prosesi wisuda di fakultas berakhir. Teman-teman kemudian datang, mengucap selamat, membawa bunga, membawa coklat, si nandan malah membawa rambuta, hahaha. Saat inilah aku mulai merasa senang, menghargai perhatian yang mereka tunjukkan. Saat melihat foto wisudaku dengan hana, rasanya aku benar-benar tersenyum, benar-benar tertawa di situ. Momen yang cukup singkat bila dibandingkan dengan seluruh prosesi wisuda, tapi terasa paling berarti. Setelah itu, aku bergegas ke sarjito. Tidak ada foto keluarga di studio, yang ada adalah foto di rumah sakit dengan babe terbaring di rumah sakit. Syukurnya, hari operasi diundurkan besok sehingga saat aku sampai di rumah sakit babe masih segar. Masih bisa lihat aku dengan kebaya dan full make up, masih bisa foto-foto dengan gembira. Lalu, nyep dan eyi datang ke sarjito dan dengan bodohnya kami foto-foto di lorong rumah sakit sampai dilihat perawat. rasanya mali dan nggak enak tapi ya sudahlah.

Hingga masa itu, berbagai perasaan positif tentang diriku banyak muncul. Aku mungkin tidak bisa bilang bahwa aku bahagia, tapi aku puas dengandiriku sendiri. Sampai kemudian  fase selanjutnya dimulai, perasaan positif dan negatif benar-benar datang silih berganti dan membuatku seperti tidak mengenal diriku lagi. Siapa aku ini? Apakah aku yang dulu kukenal itu semu? Peristiwa-peristiwa terjadi yang membuatku kembali mempertanyakan diriku, makna ku, eksistensiku. I'll tell you more tomorrow because I really have to go now, see you soon, myself. I love you, and I still learn to love you more and more...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

birthday

sekarang sudah tanggal 8 agustus. 2 hari lalu adalah 6 agustus. hari yang biasanya saya nanti sejak satu minggu sebelumnya. lalu anehnya, saya melupakannya begitu saja. lupa selupa lupanya. bahkan kalau saya nggak buka fb hari ini pun, saya yakin saya gak inget inget juga. kalo 6 agustus kamu ulang tahun. ritual tahunanku dengan mendoakanmu dalam hening tanpa kebingaran, luput juga tahun ini. semuanya terasa aneh. saya bingung. saya senang karena sepertinya saya sudah benar-benar terbebas. sekaligus sedih, kenapa terbebas itu sepertinya identik dengan melupakan. tak bisakah saya terbebas dengan tetap mengingatmu. menunjukkan betapa ikhlas saya tentang kamu, apapun itu. ah ikhlas, bukankah itu adalah tahap yang sangat sulit untuk dicengkeram, bahkan sekedar digenggam ataupun diletakkan di atas telapak tangan?

Berpulang Pada Kalian

Tanpa sadar aku telah merangkak keluar dari kehidupan orang-orang yang aku sayangi. Dan ketika jarak terasa semakin jauh, seandainya bisa, aku akan berlari kembali.. (salah satu status fb) Status fb dengan batasan maksimal 160 karakter, tulisan yang sangat singkat, tapi ketika digali maknanya bisa sangat dalam. Seperti status yang ak post beberapa hari yang lalu. Suatu titik kesadaranku yang dengan telaknya meninju ulu hati sampai lebam. Ya, bagaimana tidak lebam ketika merasa terasing sendiri, kehilangan konvoi sosial tanpa disadari.. Proksimitas, aku merindukanmu begitu terpendam. Jarak yang begitu jauh terasa menyesakkan, dan rutinitas semakin menambah panjang saja jarak yang tercipta. Jarak bukan lagi sekedar jarak secara fisik dan ruang, tapi juga merenggangnya kelekatan dan semakin habisnya komunikasi dilahap oleh rutinitas yang membuatku melupakan komunikasi. Dan beginilah akibatnya, aku kehilangan sekian banyak teman-teman yan...

menghidupkan hidup

tak bisa dipungkiri, akhir-akhir ini saya benar-benar sedang mencintai dan menikmati kehidupan yang tengah berjalan. walaupun mungkin memang, saya semakin kehilangan waktu luang untuk sekedar bermain dan berkeliling. yah, seperti kehidupan saya di semester 3 kemarin sebenarnya. namun, ada yang berbeda di sini. di semester 3 saya tidak bisa menikmati semua kegiatan yang mayoritas dipenuhi dengan mengerjakan praktikum. and truly, that's suck. saya nggak rela kehilangan waktu bermain dan berkeliling yang saya gemari karena praktikum. tapi, lain dengan sekarang, karena apa yang saya jalani saat ini adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. saya semakin enjoy dengan proses kuliah di psikologi. semakin banyak hal menarik yang didapat di perkuliahan ini. rasa tertarik yang kemudian menumbuhkan motivasi intrinsik untuk belajar secara mandiri. sungguh, ini adalah sebuah pencapaian bagi saya. ketika saya menikmati proses pembelajaran, ketika saya didorong oleh keingintahuan, ketika ...