Halo Novia, apa kabarmu hari ini? Minggu ini? Bulan ini? Tahun ini?
Menyapa diri sendiri melalui tulisan sudah lama sekali tidak pernah kulakukan. Rasanya aku hanya tenggelam dalam aktivitas dan aktivitas tanpa memberi kesempatan untuk sengaja berhenti sejenak dan bercermin pada diri sendiri. Berefleksi seperti sebuah kemewahan saja. Hasilnya, aku bosan. Aku tidak merasakan adanya pertumbuhan diri. Kehidupanku tidal lagi terasa rewarding.
Sebenarnya sejak tahun 2014 bermulai, berbagai hal hebat terjadi dan bergumul dalam diriku sendiri. Pertama, aku menyelesaikan skripsiku setelah nyaris selama setahun bergulat dengannya. Perjalananku menuju titik akhir kesarjanaanku benar-benar berakhir. Aku merasa bangga pada diriku sendiri. Aku tahu aku adalah orang yang suka belajar. Aku punya locus internal. Aku mampu mengeset standarku sendiri dan bergerak secara mandiri. Meskipun dosen pembimbingku termasuk tak acuh, aku masih bisa menjaga semangatku untuk terus menyelesaikan skripsiku. Meskipun pada perjalanan sebelumnya aku mengalami pasang surut perasaan, aku bisa mengatasinya dan belajar darinya. Aku pernah merasa tidak kompeten. Aku pernah sangat bersemangat. Aku mengamini semua hal ini sebagai proses yang pasti menuju titik akhir. And this is it. Skripsiku siap diujikan. Aku deg-degan iya, takut terdapat kesalahan fatal, iya. Namun, inilah pertanggungjawabanku. Aku harus berani berargumentasi terhadap berbagai pilihanku, keputusanku, analisisku, juga kesimpulanku. Aku harus siap menemui kesalahan dan menjadikannya sebagai bagian dari belajar. Kemudian hari sidang akhirnya datang, dan Tuhan memberi jalan yang lebih mudah. Salah satu dosen pengujiku tiba-tiba vertigo dan berhalangan hadir sehingga sidangku hanya dihadiri dosen pembimbing dan satu dosen penguji. Sidangku pun hanya berlangsung selama satu jam. Tidak ada hal mendasar tentang proses penelitianku yang dikritisi. Lancar saja dan aku bisa memberikan jawaban pada pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Aku merasa sangat berterimakasih meskipun di sisi lain aku merasa kecewa terhadap ketidakhadiran satu pengujiku. Aku merasa aku kurang ditantang. Namun apapun yang terjadi itu adalah jalan terbaik. Pernyataan seandainya, what if akan selalu muncul, tapi apa guna bila sudah terjadi?
Skripsi telah selesai hingga revisi disetujui, lalu berlanjut pada persiapan wisuda. Berbagai persyaratan administratif aku penuhi. Tak disangka, saat mengambil toga yaitu satu minggu sebelum wisuda bapak diminta opname untuk persiapan operasi di hari wisudaku. Saat diberi tahu hal itu, aku sedih membayangkan wisuda tanpa babe dan mami. Aku sudah berkaca-kaca di lorong poliklinik. Suaraku sudah tercekat saat akan menimpali informasi ini. Ada rasa tidak rela di situ. Namun, aku menyadari bahwa aku harus bisa menentukan prioritas. Maka, aku pun berusaha berbesar hati dan mengatakan pada babe dan mami untuk melanjutkan rencana operasi untuk kesehatan babe segera. Aku tidak apa-apa wisuda tanpa orang tua, itu tidak esensial karena aku tahu dukungan babe dan mami selama aku kuliah dan skripsi sudah lebih dari cukup. Inilah saatnya aku menegosiasikan egoku dan menunjukkan bakti. Aku pun tahu bahwa babe dan mami sebenarnya ingin menghadiri dan sedih karena tidak bisa mendampingiku. Namun, keadaanku membuat kami harus memnuat pilihan. Dan, aku memilih dengan penuh kebanggaan.
Hari wisuda berlangsung. Hambar rasanya mengikuti prosesi di GSP lalu berlanjut ke Fakultas. Wisuda kali ini rasanya sangat sepi. Adakah kebahagiaan saat itu? Adakah sukacita? Bisa dikatakan hanya sedikit. Aku tidak merasa murung, tapi tidak juga senang. Biasa saja. Lalu prosesi wisuda di fakultas berakhir. Teman-teman kemudian datang, mengucap selamat, membawa bunga, membawa coklat, si nandan malah membawa rambuta, hahaha. Saat inilah aku mulai merasa senang, menghargai perhatian yang mereka tunjukkan. Saat melihat foto wisudaku dengan hana, rasanya aku benar-benar tersenyum, benar-benar tertawa di situ. Momen yang cukup singkat bila dibandingkan dengan seluruh prosesi wisuda, tapi terasa paling berarti. Setelah itu, aku bergegas ke sarjito. Tidak ada foto keluarga di studio, yang ada adalah foto di rumah sakit dengan babe terbaring di rumah sakit. Syukurnya, hari operasi diundurkan besok sehingga saat aku sampai di rumah sakit babe masih segar. Masih bisa lihat aku dengan kebaya dan full make up, masih bisa foto-foto dengan gembira. Lalu, nyep dan eyi datang ke sarjito dan dengan bodohnya kami foto-foto di lorong rumah sakit sampai dilihat perawat. rasanya mali dan nggak enak tapi ya sudahlah.
Hingga masa itu, berbagai perasaan positif tentang diriku banyak muncul. Aku mungkin tidak bisa bilang bahwa aku bahagia, tapi aku puas dengandiriku sendiri. Sampai kemudian fase selanjutnya dimulai, perasaan positif dan negatif benar-benar datang silih berganti dan membuatku seperti tidak mengenal diriku lagi. Siapa aku ini? Apakah aku yang dulu kukenal itu semu? Peristiwa-peristiwa terjadi yang membuatku kembali mempertanyakan diriku, makna ku, eksistensiku. I'll tell you more tomorrow because I really have to go now, see you soon, myself. I love you, and I still learn to love you more and more...
Menyapa diri sendiri melalui tulisan sudah lama sekali tidak pernah kulakukan. Rasanya aku hanya tenggelam dalam aktivitas dan aktivitas tanpa memberi kesempatan untuk sengaja berhenti sejenak dan bercermin pada diri sendiri. Berefleksi seperti sebuah kemewahan saja. Hasilnya, aku bosan. Aku tidak merasakan adanya pertumbuhan diri. Kehidupanku tidal lagi terasa rewarding.
Sebenarnya sejak tahun 2014 bermulai, berbagai hal hebat terjadi dan bergumul dalam diriku sendiri. Pertama, aku menyelesaikan skripsiku setelah nyaris selama setahun bergulat dengannya. Perjalananku menuju titik akhir kesarjanaanku benar-benar berakhir. Aku merasa bangga pada diriku sendiri. Aku tahu aku adalah orang yang suka belajar. Aku punya locus internal. Aku mampu mengeset standarku sendiri dan bergerak secara mandiri. Meskipun dosen pembimbingku termasuk tak acuh, aku masih bisa menjaga semangatku untuk terus menyelesaikan skripsiku. Meskipun pada perjalanan sebelumnya aku mengalami pasang surut perasaan, aku bisa mengatasinya dan belajar darinya. Aku pernah merasa tidak kompeten. Aku pernah sangat bersemangat. Aku mengamini semua hal ini sebagai proses yang pasti menuju titik akhir. And this is it. Skripsiku siap diujikan. Aku deg-degan iya, takut terdapat kesalahan fatal, iya. Namun, inilah pertanggungjawabanku. Aku harus berani berargumentasi terhadap berbagai pilihanku, keputusanku, analisisku, juga kesimpulanku. Aku harus siap menemui kesalahan dan menjadikannya sebagai bagian dari belajar. Kemudian hari sidang akhirnya datang, dan Tuhan memberi jalan yang lebih mudah. Salah satu dosen pengujiku tiba-tiba vertigo dan berhalangan hadir sehingga sidangku hanya dihadiri dosen pembimbing dan satu dosen penguji. Sidangku pun hanya berlangsung selama satu jam. Tidak ada hal mendasar tentang proses penelitianku yang dikritisi. Lancar saja dan aku bisa memberikan jawaban pada pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Aku merasa sangat berterimakasih meskipun di sisi lain aku merasa kecewa terhadap ketidakhadiran satu pengujiku. Aku merasa aku kurang ditantang. Namun apapun yang terjadi itu adalah jalan terbaik. Pernyataan seandainya, what if akan selalu muncul, tapi apa guna bila sudah terjadi?
Skripsi telah selesai hingga revisi disetujui, lalu berlanjut pada persiapan wisuda. Berbagai persyaratan administratif aku penuhi. Tak disangka, saat mengambil toga yaitu satu minggu sebelum wisuda bapak diminta opname untuk persiapan operasi di hari wisudaku. Saat diberi tahu hal itu, aku sedih membayangkan wisuda tanpa babe dan mami. Aku sudah berkaca-kaca di lorong poliklinik. Suaraku sudah tercekat saat akan menimpali informasi ini. Ada rasa tidak rela di situ. Namun, aku menyadari bahwa aku harus bisa menentukan prioritas. Maka, aku pun berusaha berbesar hati dan mengatakan pada babe dan mami untuk melanjutkan rencana operasi untuk kesehatan babe segera. Aku tidak apa-apa wisuda tanpa orang tua, itu tidak esensial karena aku tahu dukungan babe dan mami selama aku kuliah dan skripsi sudah lebih dari cukup. Inilah saatnya aku menegosiasikan egoku dan menunjukkan bakti. Aku pun tahu bahwa babe dan mami sebenarnya ingin menghadiri dan sedih karena tidak bisa mendampingiku. Namun, keadaanku membuat kami harus memnuat pilihan. Dan, aku memilih dengan penuh kebanggaan.
Hari wisuda berlangsung. Hambar rasanya mengikuti prosesi di GSP lalu berlanjut ke Fakultas. Wisuda kali ini rasanya sangat sepi. Adakah kebahagiaan saat itu? Adakah sukacita? Bisa dikatakan hanya sedikit. Aku tidak merasa murung, tapi tidak juga senang. Biasa saja. Lalu prosesi wisuda di fakultas berakhir. Teman-teman kemudian datang, mengucap selamat, membawa bunga, membawa coklat, si nandan malah membawa rambuta, hahaha. Saat inilah aku mulai merasa senang, menghargai perhatian yang mereka tunjukkan. Saat melihat foto wisudaku dengan hana, rasanya aku benar-benar tersenyum, benar-benar tertawa di situ. Momen yang cukup singkat bila dibandingkan dengan seluruh prosesi wisuda, tapi terasa paling berarti. Setelah itu, aku bergegas ke sarjito. Tidak ada foto keluarga di studio, yang ada adalah foto di rumah sakit dengan babe terbaring di rumah sakit. Syukurnya, hari operasi diundurkan besok sehingga saat aku sampai di rumah sakit babe masih segar. Masih bisa lihat aku dengan kebaya dan full make up, masih bisa foto-foto dengan gembira. Lalu, nyep dan eyi datang ke sarjito dan dengan bodohnya kami foto-foto di lorong rumah sakit sampai dilihat perawat. rasanya mali dan nggak enak tapi ya sudahlah.
Hingga masa itu, berbagai perasaan positif tentang diriku banyak muncul. Aku mungkin tidak bisa bilang bahwa aku bahagia, tapi aku puas dengandiriku sendiri. Sampai kemudian fase selanjutnya dimulai, perasaan positif dan negatif benar-benar datang silih berganti dan membuatku seperti tidak mengenal diriku lagi. Siapa aku ini? Apakah aku yang dulu kukenal itu semu? Peristiwa-peristiwa terjadi yang membuatku kembali mempertanyakan diriku, makna ku, eksistensiku. I'll tell you more tomorrow because I really have to go now, see you soon, myself. I love you, and I still learn to love you more and more...
Komentar
Posting Komentar