Aku adalah sebuah titik kecil di dunia ini yg menjelajahi sekelumit semesta. titik yang menyadari dirinya sendiri. dan terkadang menyadari semestanya yang sangat besar. tak terjangkau garis batasnya. titik yang seringkali resah dan kehilangan arah. karena setiap aku mencapai suatu makna, pencapaian itu tidak bertahan lama. entah terlupakan. entah kuragukan. titik yang terus mencari, memperluas batas kebenarannya.
aku adalah titik yang hidup dalam kurun waktu sementara. mengisi seruas rentang waktu dalam peradaban bumi; peradaban yang semakin menua, tapi apakah lebih dewasa? kesementaraan yang aku pun benar-benar tak tahu apakah berguna? untuk apa titik ini hidup, sebentar, lalu mati? apa tujuannya? adakah tujuan atau sekedar eksistensi yang absurd? lalu aku mati, kenapa harus mati? apakah aku setelah mati?
aku tahu pasti, raga akan kehilangan bentuknya setelah mati. entah membusuk dalam tanah bila aku dikubur. entah meruap bersama udara dan sebagian abunya bersatu dengan tanah, sebagian lagi bertahan dalam kendi atau bersatu dengan laut bila aku dikremasi. atau, dihanyutkan di sungai. terbawa ke laut lalu jadi makanan hiu bila aku mati dibunuh dan dibuang ke sungai. dengan berbagai cara tubuhku akan menyatu lagi dengan alam, menjadi bagian alam yang tak punya kesadaran. lalu dimana kesadaranku yang tak lagi melekat pada molekul-molekul ragaku?
adakah hidup setelah mati, tempat kesadaranku mempertahankan dirinya? menjelma menjadi ruh tak terikat badan. kesadaran yang tidak punya objek untuk berpikir tentang penampilan, fashion atau make up; yang begitu diagungkan di sini, yang ironisnya mendominasi kesadaran titik-titik di sini, mengambil alih porsi kesadaran yang lebih esensial. keberadaan diri dan semesta, dan kesadaran tentang hidup sendiri. apa yang dilakukan kesadaranku di sana? apakah ia punya suatu tujuan atau sekedar eksistensi absurd? apakah ia juga sementara atau kekal?
semua pertanyaan ini terus bergumul, mendesakku untuk memahami kompleksitasnya. akankah mencapai kesimpulan akhir? tidak, tidak akan. karena kebenaran adalah sekedar batas penalaran kita, batas sementara, batas yang nyatanya bergerak terus memperluas diri juga*. pertanyaan, pencarian yang tidak diragukan akan melelahkan di suatu titik tertentu, adalah untuk memahami kompleksitas, begitu saja.
*Pengantar Bambang Sugiharto dalam Dunia Sophie.
aku adalah titik yang hidup dalam kurun waktu sementara. mengisi seruas rentang waktu dalam peradaban bumi; peradaban yang semakin menua, tapi apakah lebih dewasa? kesementaraan yang aku pun benar-benar tak tahu apakah berguna? untuk apa titik ini hidup, sebentar, lalu mati? apa tujuannya? adakah tujuan atau sekedar eksistensi yang absurd? lalu aku mati, kenapa harus mati? apakah aku setelah mati?
aku tahu pasti, raga akan kehilangan bentuknya setelah mati. entah membusuk dalam tanah bila aku dikubur. entah meruap bersama udara dan sebagian abunya bersatu dengan tanah, sebagian lagi bertahan dalam kendi atau bersatu dengan laut bila aku dikremasi. atau, dihanyutkan di sungai. terbawa ke laut lalu jadi makanan hiu bila aku mati dibunuh dan dibuang ke sungai. dengan berbagai cara tubuhku akan menyatu lagi dengan alam, menjadi bagian alam yang tak punya kesadaran. lalu dimana kesadaranku yang tak lagi melekat pada molekul-molekul ragaku?
adakah hidup setelah mati, tempat kesadaranku mempertahankan dirinya? menjelma menjadi ruh tak terikat badan. kesadaran yang tidak punya objek untuk berpikir tentang penampilan, fashion atau make up; yang begitu diagungkan di sini, yang ironisnya mendominasi kesadaran titik-titik di sini, mengambil alih porsi kesadaran yang lebih esensial. keberadaan diri dan semesta, dan kesadaran tentang hidup sendiri. apa yang dilakukan kesadaranku di sana? apakah ia punya suatu tujuan atau sekedar eksistensi absurd? apakah ia juga sementara atau kekal?
semua pertanyaan ini terus bergumul, mendesakku untuk memahami kompleksitasnya. akankah mencapai kesimpulan akhir? tidak, tidak akan. karena kebenaran adalah sekedar batas penalaran kita, batas sementara, batas yang nyatanya bergerak terus memperluas diri juga*. pertanyaan, pencarian yang tidak diragukan akan melelahkan di suatu titik tertentu, adalah untuk memahami kompleksitas, begitu saja.
---
*Pengantar Bambang Sugiharto dalam Dunia Sophie.
Komentar
Posting Komentar