rasanya aku sedang mati perlahan-perlahan, dibunuh hampa. aku tidak punya kegiatan lain selain ngerjain skripsi. kegiatan yang benar-benar memberikan kehidupan buatku. hanya skripsi, mengerjakan, malas mengerjakan, cemas, mengerjakan skripsi lagi. namun akhir-akhir ini skripsi pun tidak tersentuh, membuat hidupku semakin kering kerontang. penghiburanku untuk mengkamuflasekan rasa bosan dengan kehidupanku yang mencapai puncaknya satu bulan terakhir adalah nonton dan membaca. itu pun aku jarang berefleksi setelahnya, hanya sepintas lalu. huh.
aku juga khawatir dengan pikiranku yang menumpul. aku tidak berpikir tentang apapun. aku tidak punya keresahan. aku tidak merasa ingin tahu. ini akut. dulu, ada masanya aku bergumul dengan pemikiranku sendiri tentang agama dan tuhan. aku pernah resah dengan gender. aku mencari apa itu bahagia. bahkan di masa SMA pun aku sibuk membentuk teori tentang diriku, yang kemudian aku tahu bahwa psikologi menyebutnya sebagai konsep diri. aku tidak lagi reflektif. aku benar-benar berduka untuk itu.
tak hanya itu, aku merasa terbenam, tidak lagi berpijak dan menggapai-menggapai. aku tenggelam. rasanya aku tidak lagi mengenal apa yang ingin aku pegang sebagai prinsip hidupku. apa yang ingin aku capai di masa depan. dulu, aku pernah bermimpi punya perpustakaan dan sekolah. mimpi besar yang aku taksir bisa tercapai di usia empat atau lima puluh. aku ingin kerja di LSM yang berkutat di pendidikan anak usia dini. aku menggebu-gebu lulus agustus ini-sekarang kandas-lalu mendaftar pengajar muda. aku juga ingin sekali melanjutkan profesi, lalu bekerja sebagai psikolog. impian-impian jangka panjang yang pernah 'menghantuiku'. sekarang aku hanya ingin segera lulus, lalu apa? entah, gelap, tapi aku percaya ada jalan lain setelah itu. hanya saja aku belum mempunyai lentera untuk meneranginya agar aku tahu arah tujuanku.
sedih ya hidup seperti ini, semenjak kampus libur aku jadi ikut luntang-luntung. mau wawancara kepentok lebaran. setelah ini aku harus berjalan, menempuh beberapa usaha. memendekkan jarak, menggunakan dayaku untuk berpeluh. aku harus menumbuhkan percaya dan harapan. percaya pada diriku sendiri bahwa aku bisa, percaya pada orang lain bahwa mereka akan datang membantuku, percaya pada tuhan yang akan memperlancar dan menerangi jalanku. aku harus menyemai harapan, visi demi visi yang harus dituntaskan dengan langkah nyata. amin semangat!
aku juga khawatir dengan pikiranku yang menumpul. aku tidak berpikir tentang apapun. aku tidak punya keresahan. aku tidak merasa ingin tahu. ini akut. dulu, ada masanya aku bergumul dengan pemikiranku sendiri tentang agama dan tuhan. aku pernah resah dengan gender. aku mencari apa itu bahagia. bahkan di masa SMA pun aku sibuk membentuk teori tentang diriku, yang kemudian aku tahu bahwa psikologi menyebutnya sebagai konsep diri. aku tidak lagi reflektif. aku benar-benar berduka untuk itu.
tak hanya itu, aku merasa terbenam, tidak lagi berpijak dan menggapai-menggapai. aku tenggelam. rasanya aku tidak lagi mengenal apa yang ingin aku pegang sebagai prinsip hidupku. apa yang ingin aku capai di masa depan. dulu, aku pernah bermimpi punya perpustakaan dan sekolah. mimpi besar yang aku taksir bisa tercapai di usia empat atau lima puluh. aku ingin kerja di LSM yang berkutat di pendidikan anak usia dini. aku menggebu-gebu lulus agustus ini-sekarang kandas-lalu mendaftar pengajar muda. aku juga ingin sekali melanjutkan profesi, lalu bekerja sebagai psikolog. impian-impian jangka panjang yang pernah 'menghantuiku'. sekarang aku hanya ingin segera lulus, lalu apa? entah, gelap, tapi aku percaya ada jalan lain setelah itu. hanya saja aku belum mempunyai lentera untuk meneranginya agar aku tahu arah tujuanku.
sedih ya hidup seperti ini, semenjak kampus libur aku jadi ikut luntang-luntung. mau wawancara kepentok lebaran. setelah ini aku harus berjalan, menempuh beberapa usaha. memendekkan jarak, menggunakan dayaku untuk berpeluh. aku harus menumbuhkan percaya dan harapan. percaya pada diriku sendiri bahwa aku bisa, percaya pada orang lain bahwa mereka akan datang membantuku, percaya pada tuhan yang akan memperlancar dan menerangi jalanku. aku harus menyemai harapan, visi demi visi yang harus dituntaskan dengan langkah nyata. amin semangat!
Komentar
Posting Komentar