Langsung ke konten utama

we called it: procastination

14 hari untuk 2 minggu tenang, itu yang dijadwalkan oleh akademik.  tapi untuk saya, minggu tenang berlangsung selama erm 17 hari hehe. sekarang yang tersisa tinggal 4 hari. dan saya belum melakukan apapun untuk ujian.

well, sebenarnya saya bingung juga apa sih minggu tenang itu. apa tujuannya? apa yang diharapkan pihak fakultas dengan menganugerahi kami para mahasiswa 2 minggu libur panjang menjelang ujian?

minggu tenang, apa saya benar-benar tenang? keliatannya sih begitu, tapi dalam hati kebat-kebit banget.

ujian saya dimulai hari selasa besok, sebuah ujian tertulis yang saya tidak tahu pasti materinya.  dilanjutkan hari rabu, sebuah ujian tertulis yang saya tidak yakin bisa karena hobi bolos saya yang keterlaluan membuat saya melewatkan banyak materi di mata kuliah ini.  ditambah, take home berupa dua proposal penelit(a)ian. hell. saya belum menyentuh sama sekali.  kemudian hari kamis, sebuah ujian tertulis yang dosennya lebih sering mengisi mata kuliah dengan menugasi kami presentasi sementara beliau tertidur di kursi belakang lalu mencerca kami dengan pertanyaan yang sebenarnya jawabannya sudah kami jelaskan saat presentasi yang ditinggal tidur oleh beliau. hell. untuk beliau, juga kalimat yang sangat tidak efektif ini.  kemudian rehat satu minggu untuk kemudian menyongsong rabu dengan take home laporan penelitian. huah.

and i still didn't do anything!

why?

because i am lazy like felipe! ah felipe, baru tau saya seberapa frustrasinya dirimu :3

Komentar

Postingan populer dari blog ini

menghidupkan hidup

tak bisa dipungkiri, akhir-akhir ini saya benar-benar sedang mencintai dan menikmati kehidupan yang tengah berjalan. walaupun mungkin memang, saya semakin kehilangan waktu luang untuk sekedar bermain dan berkeliling. yah, seperti kehidupan saya di semester 3 kemarin sebenarnya. namun, ada yang berbeda di sini. di semester 3 saya tidak bisa menikmati semua kegiatan yang mayoritas dipenuhi dengan mengerjakan praktikum. and truly, that's suck. saya nggak rela kehilangan waktu bermain dan berkeliling yang saya gemari karena praktikum. tapi, lain dengan sekarang, karena apa yang saya jalani saat ini adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. saya semakin enjoy dengan proses kuliah di psikologi. semakin banyak hal menarik yang didapat di perkuliahan ini. rasa tertarik yang kemudian menumbuhkan motivasi intrinsik untuk belajar secara mandiri. sungguh, ini adalah sebuah pencapaian bagi saya. ketika saya menikmati proses pembelajaran, ketika saya didorong oleh keingintahuan, ketika ...

ketakutan irasional

pernahkah merasakan rasa takut sebelum mencoba sesuatu? pesimisme yang membuncah, kegamangan untuk melangkah, ketidakyakinan pada kekuatan sendiri, serasa ingin mati saja daripada menjalani sesuatu itu? orang bilang, menyerah sebelum berperang. padahal itu semua hanya karena omongan orang betapa mengerikannya medan laga yang harus dihadapi. omongan orang yang menghambatmu untuk optimis dan berbahagia dengan jalan yang akan ditempuh. begitu juga untuk urusan akademis. saya pernah mengalaminya berkali-kali, tapi yang teringat jelas dan sangat berkesan hanya ada dua. pertama, saat semester 3 di depan mata. semester paling hectic dan paling capek sepanjang perkuliahan. dua mata kuliah praktikum, dan itu errr menghabiskan waktu mainmu. saya ketakutan sekali, merasa tidak akan mampu melewatinya dengan selamat. ketakutan irasional yang membayang tak terelakkan. lalu hasilnya? saya masih hidup, selamat sampai tujuan dengan hasil memuaskan. ip melonjak cukup tinggi dibanding sem...

Berpulang Pada Kalian

Tanpa sadar aku telah merangkak keluar dari kehidupan orang-orang yang aku sayangi. Dan ketika jarak terasa semakin jauh, seandainya bisa, aku akan berlari kembali.. (salah satu status fb) Status fb dengan batasan maksimal 160 karakter, tulisan yang sangat singkat, tapi ketika digali maknanya bisa sangat dalam. Seperti status yang ak post beberapa hari yang lalu. Suatu titik kesadaranku yang dengan telaknya meninju ulu hati sampai lebam. Ya, bagaimana tidak lebam ketika merasa terasing sendiri, kehilangan konvoi sosial tanpa disadari.. Proksimitas, aku merindukanmu begitu terpendam. Jarak yang begitu jauh terasa menyesakkan, dan rutinitas semakin menambah panjang saja jarak yang tercipta. Jarak bukan lagi sekedar jarak secara fisik dan ruang, tapi juga merenggangnya kelekatan dan semakin habisnya komunikasi dilahap oleh rutinitas yang membuatku melupakan komunikasi. Dan beginilah akibatnya, aku kehilangan sekian banyak teman-teman yan...