Langsung ke konten utama

Tentang Mati Bujang Tengah Malam


Apa yang bisa aku lakukan
Jika ia memilih untuk tak tinggal
Dan semua trus berjalan

Getirnya harus tetap kutelan
Dan aku sakit harus tetap bertahan
Dan semua trus berjalan


Mau tak mau ku harus
Melanjutkan yang tersisa
Meski semua telah berbeda
Dan tak akan pernah ada yang sama

Aku bisa memeluknya
Tetapi tidak hatinya
Hooo... Menyakitkan

Semua telah dengar
Segenap hati ku merindunya
Tapi hatinya telah pergi dan telah lama mati

Mau tak mau ku harus
Melanjutkan yang tersisa

Meski semua telah berbeda
Dan tak akan pernah ada yang sama

Semoga angin berhembus
Membawakan mimpi baru
Meski ku tahu takkan pernah ada
Yang sanggup mengganti keindahannya

Sejujurnya, sudah nyaris dua minggu ini saya benar-benar menggemari lagu lawas punya Jagostu, judulnya “Mau Tak Mau”. Kenapa? Entahlah, tiba-tiba saja terngiang lalu terpikat. Dengan melodinya, juga liriknya, lalu merambah pula pada rasa ingin kembali menyimak film “Mati Bujang Tengah Malam”.  Sebuah film pendek yang salah satu soundtracknya adalah “Mau Tak Mau”, dan diperankan oleh Erros Chandra, punggawa dari Jagostu.

Ini mungkin sudah ketiga atau keempat kalinya saya menonton film ini lagi.  Sebenarnya film ini tidak spesial, saya masih menyimpannya hanya karena di film itu ada Erros, dengan muka ‘melas’, hehe.  Bahkan sebelum memutarnya lagi malam ini, saya menganggap film ini ‘rada wagu’.  Baik dari alur, penokohan, maupun akting pemainnya.  Terutama akting si bapak yang selalu membawa bola golf kuning kemana-mana.  Namun kali ini, ada kesan dan makna berbeda yang saya tangkap dari film ini.

Film ini mencoba mencapture situasi politik Indonesia yang penuh dengan korupsi.  Juga bagaimana media yang tak henti-hentinya memberitakan kasus ini lagi dan lagi.  Bukan hal yang baru, hingga sudah terbiasa dan bosan mungkin.

Lalu, ada Armand (Erros Chandra), sarjana ‘sukses’ dengan pin emas yang disematkan oleh bapak rektor serta berpredikat cum laude.  Mungkin saat ia diwisuda, ia mendapat banyak ucapan selamat, sempat mengundang decak kagum, juga menyelipkan iri hati di antara kawan-kawannya.  Mungkin saat itu ia begitu berbangga, juga
berbahagia.  Mungkin saat itu ia begitu optimis, tidak pernah berpikir akan mereguk masa depan yang suram.  Segala mungkin di saat itu yang tidak terjelaskan di film ini.  Tapi apa mau dikata, seperti banyak kisah klise yang beredar di sekitar kita, tak pelak Armand yang sarjana unggul juga harus menghadapi masa luntang-luntung mencari kerja.

Dia bilang, prioritasnya sekarang adalah mencari makan, serta membuat keluarganya bahagia.  Surat-surat yang secara bergiliran datang dari kampungnya, dari keluarganya, yang petani, yang semakin miskin dan berharap banyak padanya agar segera memperoleh kerja dan membantu keluarga, membuat Armand semakin kalut menghadapi masa luntang-luntung yang tak kunjung berbuah ini.  Apalagi ketika bapaknya menyuruhnya pulang, dan mendaftar menjadi kelompok orang miskin saja.  Ia menjadi merasa tidak berguna, mempertanyakan apa guna pin emas dan predikat cum laude itu.  Mungkin ia sedang galau eksistensial mehehe.

Scene ini memotret realitas sosial di Indonesia.  Tentang keluarga petani yang miskin.  Tentang kebijakan BLT bagi orang miskin, yang nampaknya berimbas pada mental beberapa orang untuk tak segan mengaku dirinya miskin.  Armand bilang ia tak mau ‘mengemis’.  Tentang jomplangnya prestasi akademis dengan peluang memperoleh pekerjaan, hal yang terus saja didengungkan di telinga mahasiswa agar mau belajar softskill.  Sekaligus alasan yang acap dijadikan tameng bagi beberapa dari mereka dengan IP pas-pasan atau yang di bawah rata-rata. Tentang budaya kolektivis masyarakat Indonesia, yang memandang keluarga sebagai hal yang penting, bahkan utama.

Saya berkaca tentang semangat kolektivisme di Indonesia lewat tutur Armand.  Keresahannya terhadap keadaan keluarganya.  Keinginan besarnya supaya lekas mendapat pekerjaan agar membuat keluarganya bahagia.  Euforia dan sorak sorainya mendapati surat dari adiknya yang dengan penuh terimakasih mengabarkan keadaan keluarganya di kampung yang lebih baik setelah mendapat uang.  Pun kebulatan tekadnya untuk melakukan apa saja untuk kebahagiaan keluarga.


Di sini pula saya mendapati bagaimana Armand dan keluarganya masih mengasosiasikan uang dengan kebahagiaan.  Ketika uang didapat, adiknya bisa kembali bersekolah, ibunya bisa berobat ke dokter, keluarganya tak jadi mendaftar jadi orang miskin.  Armand bilang ia bahagia bisa berguna dan membahagiakan keluarganya.  Saya jadi teringat dengan sebuah penelitian tentang kebahagiaan yang menyatakan bahwa uang memang bukanlah faktor penentu utama dalam mencapai kebahagiaan.  Di satu titik, bagi orang-orang miskin, uang memang bisa membuatnya lebih bahagia.  Tapi bagi orang kaya, bertambahnya uang yang dimiliki tidak mejadi faktor yang signifikan untuk membuatnya lebih berbahagia.  Jadi mungkin benar juga Armand dan keluarganya berbahagia karena memiliki uang yang lebih dari biasanya.

Film ini juga berkisah tentang pengalihan isu yang sengaja dilakukan untuk membelokkan fokus media.  Tonton sendiri kalau ingin tahu apa mengalihkan apa.

Oya, sebenarnya fakta ini agak membuat saya takjub.  Tadi saat adegan Armand berlari-lari gembira mendapat surat dari adiknya, mata saya berkaca-kaca. Sedikit berkaca-kaca, terharu. Ah keluarga.

Gara-gara film ini ditonton malam ini, saya semakin yakin bahwa tidak cukup satu atau dua kali, butuh berkali-kali untuk memahami suatu hal.  Berkali-kali berarti membuka semakin banyak kesempatan untuk mengambil sudut pandang yang lain, memiliki kesempatan untuk memperoleh kebenaran dengan mengoreksi impresi pertama atau kedua yang didapat hanya dari sekedip mata melihat.

Tapi terlalu lama melihat juga tidak baik.  Membuat semakin terbiasa, juga lelah.  Begitu juga mata saya kali ini, dalam arti harfiah.  Mata saya sudah lelah menatap monitor nyaris dua jam, jadi selamat malam.  Saya butuh beristirahat sebelum berkendara besok subuh :)




Komentar

  1. fansnya mas eross?? sheilagank kah??

    kkaku bisaminta naskah atau cerpen inigak?? penting nih kk

    BalasHapus
  2. iya suka sheila, yp bukan sheila gank. boleh, tapi sumbernya dicantumin yah..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

menghidupkan hidup

tak bisa dipungkiri, akhir-akhir ini saya benar-benar sedang mencintai dan menikmati kehidupan yang tengah berjalan. walaupun mungkin memang, saya semakin kehilangan waktu luang untuk sekedar bermain dan berkeliling. yah, seperti kehidupan saya di semester 3 kemarin sebenarnya. namun, ada yang berbeda di sini. di semester 3 saya tidak bisa menikmati semua kegiatan yang mayoritas dipenuhi dengan mengerjakan praktikum. and truly, that's suck. saya nggak rela kehilangan waktu bermain dan berkeliling yang saya gemari karena praktikum. tapi, lain dengan sekarang, karena apa yang saya jalani saat ini adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. saya semakin enjoy dengan proses kuliah di psikologi. semakin banyak hal menarik yang didapat di perkuliahan ini. rasa tertarik yang kemudian menumbuhkan motivasi intrinsik untuk belajar secara mandiri. sungguh, ini adalah sebuah pencapaian bagi saya. ketika saya menikmati proses pembelajaran, ketika saya didorong oleh keingintahuan, ketika ...

ketakutan irasional

pernahkah merasakan rasa takut sebelum mencoba sesuatu? pesimisme yang membuncah, kegamangan untuk melangkah, ketidakyakinan pada kekuatan sendiri, serasa ingin mati saja daripada menjalani sesuatu itu? orang bilang, menyerah sebelum berperang. padahal itu semua hanya karena omongan orang betapa mengerikannya medan laga yang harus dihadapi. omongan orang yang menghambatmu untuk optimis dan berbahagia dengan jalan yang akan ditempuh. begitu juga untuk urusan akademis. saya pernah mengalaminya berkali-kali, tapi yang teringat jelas dan sangat berkesan hanya ada dua. pertama, saat semester 3 di depan mata. semester paling hectic dan paling capek sepanjang perkuliahan. dua mata kuliah praktikum, dan itu errr menghabiskan waktu mainmu. saya ketakutan sekali, merasa tidak akan mampu melewatinya dengan selamat. ketakutan irasional yang membayang tak terelakkan. lalu hasilnya? saya masih hidup, selamat sampai tujuan dengan hasil memuaskan. ip melonjak cukup tinggi dibanding sem...

Berpulang Pada Kalian

Tanpa sadar aku telah merangkak keluar dari kehidupan orang-orang yang aku sayangi. Dan ketika jarak terasa semakin jauh, seandainya bisa, aku akan berlari kembali.. (salah satu status fb) Status fb dengan batasan maksimal 160 karakter, tulisan yang sangat singkat, tapi ketika digali maknanya bisa sangat dalam. Seperti status yang ak post beberapa hari yang lalu. Suatu titik kesadaranku yang dengan telaknya meninju ulu hati sampai lebam. Ya, bagaimana tidak lebam ketika merasa terasing sendiri, kehilangan konvoi sosial tanpa disadari.. Proksimitas, aku merindukanmu begitu terpendam. Jarak yang begitu jauh terasa menyesakkan, dan rutinitas semakin menambah panjang saja jarak yang tercipta. Jarak bukan lagi sekedar jarak secara fisik dan ruang, tapi juga merenggangnya kelekatan dan semakin habisnya komunikasi dilahap oleh rutinitas yang membuatku melupakan komunikasi. Dan beginilah akibatnya, aku kehilangan sekian banyak teman-teman yan...