jujur, saya lagi kesengsem berat sama puisinya agus noor yang sajak-sajak kecil kepada m. buat yang penasaran, ini linknya:
http://agusnoorfiles.wordpress.com/2011/08/19/sajak-sajak-kecil-kepada-m/
nah, di sini ada satu bait yang euhh nonjok banget!
Ada banyak cara berbahagia; satu-satunya cara yang tak pernah kubisa ialah melupakanmu.
sebenarnya, bait ini nonjok bukan karena sesuai dengan apa yang saya rasakan saat ini, tapi karena sebenarnya ada konsep yang sama tentang berbahagia. saya selalu menggugat keadaan yang begitu miris bahwa melupakan adalah cara ampuh untuk membuat orang berbahagia setelah menempuh masa yang sulit. ketika kamu menjalani hubungan yang terlampau rumit dengan seseorang yang kamu sayangi, banyak orang berpikir semua harus segera diakhiri dengan melupakan. tidak hanya melupakan kepedihannya, tapi juga orang itu. lalu ketika kalian bertemu lagi suatu hari, canggung, sok nggak kenal. ironis bukan, seseorang yang pernah bersama kamu nyaris setiap hari, seseorang yang dengannya kamu pernah intens sekali berkomunikasi, saling sharing, bermimpi bersama, tiba-tiba saja dihilangkan sedemikian rupa. diabaikan eksistensinya. melupakan, benarkan cara untuk berbahagia?
kalau di baitnya agus noor bilang tidak bisa, tapi kalau dipaskan sama kondisi saya, akan termodifikasi seperti ini:
ada banyak cara berbahagia, satu-satunya cara yang tak pernah ku inginkan adalah melupakanmu.
*ketawa garing
ya saya ingin agar bisa berbahagia tanpa melupakan, berusaha melupakan. saya ingin mengikhlaskan saja apapun yang harus terjadi. just let it be. namun pada akhirnya, entah bagaimana caranya, saya tiba pada tahap melupakan, terlupakan, melupakan tanpa disadari. membiarkannya mengalir saja, sampai pada titik saya tersadar bahwa saya melupakan seseorang, ada penyesalan menyelusup. mengapa harus lupa? ah sudahlah, saya gubah lagi saja baitnya:
ada banyak cara berbahagia, satu-satunya cara yang tak pernah ku inginkan adalah melupakanmu dengan penuh kesadaran.
random.
http://agusnoorfiles.wordpress.com/2011/08/19/sajak-sajak-kecil-kepada-m/
nah, di sini ada satu bait yang euhh nonjok banget!
Ada banyak cara berbahagia; satu-satunya cara yang tak pernah kubisa ialah melupakanmu.
sebenarnya, bait ini nonjok bukan karena sesuai dengan apa yang saya rasakan saat ini, tapi karena sebenarnya ada konsep yang sama tentang berbahagia. saya selalu menggugat keadaan yang begitu miris bahwa melupakan adalah cara ampuh untuk membuat orang berbahagia setelah menempuh masa yang sulit. ketika kamu menjalani hubungan yang terlampau rumit dengan seseorang yang kamu sayangi, banyak orang berpikir semua harus segera diakhiri dengan melupakan. tidak hanya melupakan kepedihannya, tapi juga orang itu. lalu ketika kalian bertemu lagi suatu hari, canggung, sok nggak kenal. ironis bukan, seseorang yang pernah bersama kamu nyaris setiap hari, seseorang yang dengannya kamu pernah intens sekali berkomunikasi, saling sharing, bermimpi bersama, tiba-tiba saja dihilangkan sedemikian rupa. diabaikan eksistensinya. melupakan, benarkan cara untuk berbahagia?
kalau di baitnya agus noor bilang tidak bisa, tapi kalau dipaskan sama kondisi saya, akan termodifikasi seperti ini:
ada banyak cara berbahagia, satu-satunya cara yang tak pernah ku inginkan adalah melupakanmu.
*ketawa garing
ya saya ingin agar bisa berbahagia tanpa melupakan, berusaha melupakan. saya ingin mengikhlaskan saja apapun yang harus terjadi. just let it be. namun pada akhirnya, entah bagaimana caranya, saya tiba pada tahap melupakan, terlupakan, melupakan tanpa disadari. membiarkannya mengalir saja, sampai pada titik saya tersadar bahwa saya melupakan seseorang, ada penyesalan menyelusup. mengapa harus lupa? ah sudahlah, saya gubah lagi saja baitnya:
ada banyak cara berbahagia, satu-satunya cara yang tak pernah ku inginkan adalah melupakanmu dengan penuh kesadaran.
random.
Komentar
Posting Komentar