Langsung ke konten utama

Fiksi

Fiksi. Sebuah tulisan yang menceritakan sesuatu, sesuatu yang beralur, berirama, bertokoh. Ia tidak gamblang dalam menyampaikan ide. Ia menggunakan simbol-simbol dalam pralambang karakter, maupun kejadian. Fiksi, tataran menulis yang tinggi, susah, tapi indah. Ketidakgamblangannya inilah yang memukau, memungkinkan multi tafsir pembacanya; membebaskan pembacanya untuk mengembara dalam lautan persepsinya, dalam kerangka pikirnya sendiri-sendiri. Fiksi, yah fiksi, jenis bacaan yang paling saya sukai.

Fiksi itu bentuk seni sebuah tulisan. Seperti seni pula, ia sangat subjektif. Subjektifnya ide dan gagasan pembuatnya, subjektifnya para penikmat dan penghayatnya dalam memberi makna. Fiksi yang ditulis dengan berbagai simbol atas ide sang pembuat, dengan kedalaman makna atas simbol dan metafornya, kadang hanya dibaca permukaan, kadang dimaknai sedalam yang ditorehkan pembuat, kadang pulai dimaknai lebih mendalam dari yang ingin disampaikan pembuatnya.

Hmm, saya jadi berandai-andai, jangan-jangan begitu pula Tuhan bekerja dalam menciptakan. Seperti sebuah fiksi yang sangat kompleks, yang kemudian dibebaskan maknanya pada penghayatnya. Mungkin seperti itukah Tuhan menuntun manusia memaknai hidupnya? 

Saya menyukai fiksi yang berfilsafat, maupun yang dihidupkan melalui spiritualitas. Salah satunya adalah Perang karangan Putu Wijaya, sebuah fiksi yang memukau dengan filsafat dan spiritualitas jawanya. Dari sini lah saya berkenalan dengan sosok Semar yang telah digubah oleh Putu Wijaya. Fiksi yang membuat saya mengagumi Semar yang penuh tuah kebijaksanaan, yang tidak terasa basi dan kering, yang berbeda dengan para motivator yang sedang menjadi tren akhir-akhir ini. Semar, saya belum begitu mengenalnya. Ketika diminta menjelaskan pun saya akan langsung tergagap. Bingung sendiri apa yang ingin diungkapkan, karena pada nyatanya saya tidak begitu mengenalnya, tapi terlanjur jatuh cinta. Semar yang filosofis itu, dari fiksilah saya berkenalan.

Fiksi lain adalah Misteri soliter dari Jostein gaarder. Meskipun banyak orang menggemborkan Dunia Sophie sebagai karya terjeniusnya, saya lebih terpesona dengan Misteri Soliter. Sebab, Misteri Soliter berfilsafat sekaligus sangat imajinatif, melebihi imajinasi yang terbangun dalam Dunia Sophie. Namun, mungkin juga karena ia lebih ringan, dan saya jadi lebih paham ketimbang Dunia Sophie. Ia mengajak saya bertanya tentang Tuhan, tentang kehidupan. Dari ia pula saya jatuh hati pada joker. A joker is a little fool who is different from everyone else. He's not a club, diamond, heart, or spade. He's not an eight or a nine, a king or a jack. He is an outsider. He is placed in the same pack as the other cards, but he doesn't belong there. Therefore, he can be removed without anybody missing him. Joker yang selalu bertanya, mencari hakikatnya, yang tak lekas terbiasa dengan dunia.

Lalu terakhir yang saya baca dan cukup berkesan adalah Bilangan Fu milik Ayu Utami. Yah gara-gara buku inilah saya terketuk menulis ini. Dari Bilangan Fu saya belajar memahami kepercayaan purba Jawa yang kental dengan takhayul dan mistis. Pemahaman yang lebih matang, membuat saya mengoreksi pandangan dan lebih menerimanya sebagai jalan lain untuk menjaga keseimbangan alam. 

Bilangan Fu juga menguatkan saya tentang kebenaran. Di blog terdahulu, saya membuat sebuah tulisan bertajuk kutipan yang terlupakan siapa penulisnya. Ia berbunyi: kebenaran hanyalah batasan penalaran kita, batas yang nantinya memperluas diri juga. Di sini saya belajar untuk tidak segera mengamini kebenaran yang mungkin saya peroleh hari ini sebagai kebenaran mutlak, hakiki, selalu benar. Kebenaran yang saya cecap sekarang hanyalah sekelumit kebenaran yang bisa dipahami nalar cupet ini. Masih banyak kelumit kebenaran yang masih rahasia, yang tidak terbukakan oleh nalar saat ini. Tapi mungkin dengan menangguhkan kebenaran yang saya miliki hari ini, pintu terhadap kebenaran akan terbuka lebih lebar lagi. Memungkinkan saya untuk mengintip dan mengetahuinya lebih banyak.

Di Bilangan Fu, ia mengatakan bahwa kebenaran itu akan selalu menjadi masa depan. Ia harusnya digantungkan di pundak, jangan sampai jatuh ke tanah, jangan sampai kebenaran berada pada masa kini. Sebab, ketika itu terjadi ia bukanlah kebenaran, tapi kekuasaan akan kebenaran. Kekuasaan akan kebenaran mendorong kita menjadi orang yang dogmatis, picik, sempit, fanatis. Kita menjadi tertutup terhadap kebenaran lain, yang masih di luar batas nalar kita. Dari Bilangan Fu inilah saya lebih mantap dalam meletakkan kebenaran sebagaimana mestinya, berada di masa depan. Yang boleh diletakkan di masa sekarang adalah kebaikan.

Fiksi, dari ia lah saya mendapatkan banyak hal, konsep yang terhayati dan menjelma menjadi pandangan yang saya resapi. Lalu dari sinilah saya menghormati fiksi dan mulai mencintainya. Fiksi, semoga suatu saat saya mampu menuliskannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

menghidupkan hidup

tak bisa dipungkiri, akhir-akhir ini saya benar-benar sedang mencintai dan menikmati kehidupan yang tengah berjalan. walaupun mungkin memang, saya semakin kehilangan waktu luang untuk sekedar bermain dan berkeliling. yah, seperti kehidupan saya di semester 3 kemarin sebenarnya. namun, ada yang berbeda di sini. di semester 3 saya tidak bisa menikmati semua kegiatan yang mayoritas dipenuhi dengan mengerjakan praktikum. and truly, that's suck. saya nggak rela kehilangan waktu bermain dan berkeliling yang saya gemari karena praktikum. tapi, lain dengan sekarang, karena apa yang saya jalani saat ini adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. saya semakin enjoy dengan proses kuliah di psikologi. semakin banyak hal menarik yang didapat di perkuliahan ini. rasa tertarik yang kemudian menumbuhkan motivasi intrinsik untuk belajar secara mandiri. sungguh, ini adalah sebuah pencapaian bagi saya. ketika saya menikmati proses pembelajaran, ketika saya didorong oleh keingintahuan, ketika ...

ketakutan irasional

pernahkah merasakan rasa takut sebelum mencoba sesuatu? pesimisme yang membuncah, kegamangan untuk melangkah, ketidakyakinan pada kekuatan sendiri, serasa ingin mati saja daripada menjalani sesuatu itu? orang bilang, menyerah sebelum berperang. padahal itu semua hanya karena omongan orang betapa mengerikannya medan laga yang harus dihadapi. omongan orang yang menghambatmu untuk optimis dan berbahagia dengan jalan yang akan ditempuh. begitu juga untuk urusan akademis. saya pernah mengalaminya berkali-kali, tapi yang teringat jelas dan sangat berkesan hanya ada dua. pertama, saat semester 3 di depan mata. semester paling hectic dan paling capek sepanjang perkuliahan. dua mata kuliah praktikum, dan itu errr menghabiskan waktu mainmu. saya ketakutan sekali, merasa tidak akan mampu melewatinya dengan selamat. ketakutan irasional yang membayang tak terelakkan. lalu hasilnya? saya masih hidup, selamat sampai tujuan dengan hasil memuaskan. ip melonjak cukup tinggi dibanding sem...

Berpulang Pada Kalian

Tanpa sadar aku telah merangkak keluar dari kehidupan orang-orang yang aku sayangi. Dan ketika jarak terasa semakin jauh, seandainya bisa, aku akan berlari kembali.. (salah satu status fb) Status fb dengan batasan maksimal 160 karakter, tulisan yang sangat singkat, tapi ketika digali maknanya bisa sangat dalam. Seperti status yang ak post beberapa hari yang lalu. Suatu titik kesadaranku yang dengan telaknya meninju ulu hati sampai lebam. Ya, bagaimana tidak lebam ketika merasa terasing sendiri, kehilangan konvoi sosial tanpa disadari.. Proksimitas, aku merindukanmu begitu terpendam. Jarak yang begitu jauh terasa menyesakkan, dan rutinitas semakin menambah panjang saja jarak yang tercipta. Jarak bukan lagi sekedar jarak secara fisik dan ruang, tapi juga merenggangnya kelekatan dan semakin habisnya komunikasi dilahap oleh rutinitas yang membuatku melupakan komunikasi. Dan beginilah akibatnya, aku kehilangan sekian banyak teman-teman yan...