Langsung ke konten utama

Happiness

saya akan bercerita tentang seseorang yang memperlihatkan apa itu kebahagiaan pada saya. orang ini menginspirasi saya melalui senyuman lebarnya dan cerita ringan beliau tentang keluarganya. beliau adalah seorang penjual jamu keliling yang hampir setiap hari mampir ke rumah saya untuk mengantarkan beras kencur dan kunir asem dengan sepeda motornya. kita sebut saja beliau bernama x.
sebelumnya depan rumah saya selalu sepi dari penjual keliling apapun, entah tukang sayur, bakso, mie ayam, siomay dan kawan-kawannya, tidak pernah ada satu pun penjual keliling yang mau lewat depan rumah saya. bukan karena kramat dan angker, tapi karena rumah saya terpencil dari penduduk sekitar dan butuh
perjuangan untuk mencapainya. harus melalui jalan turun menikung yang bergeronjal batu dan kerikil, apesnya lagi kalau hujan mengguyur, becek dan licin, semakin susah dilewati.
sampai suatu siang, ada penjual jamu yang rela mencapai rumah saya, ya beliau adalah bapak x. karena tidak pernah sekalipun ada jajanan lewat dan kami sudah kangen minum jamu, kami sekeluarga pesta jamu sampai mabok J Mungkin gara-gara antusiasme ini, beliau selalu datang ke rumah bada dhuhur, dengan motor tuanya, beras kencur, kunir asem, jamu paitan, dan senyuman lebar yang tulus. saya tahu benar senyuman itu bukan senyum yang dipaksakan. kita bisa melihatnya dari kerutan di sudut mata beliau. di psikologi emosi ada namanya, tapi lupa J Senyum itu yang membuat saya kagum, bagaimana bisa setiap hari, entah panas, mendung, hujan air bahkan hujan abu, entah jamu jualan beliau nyaris habis atau masih banyak, senyuman itu selalu ada, dan selalu sama. senyuman lebar dengan kerutan di sudut matanya. walaupun beliau jauh dari kategori ganteng selera saya, tapi senyuman beliau adalah senyuman terbaik yang pernah saya dapatkan. senyuman yang membuat saya penasaran setengah mati, kehidupan seperti apa yang beliau jalani hingga mampu selalu tersenyum dan terlihat sebahagia itu? ya tuhan, beliau 'hanya' penjual jamu! itu yang saya pikirkan saat itu.
belaiu ini lah yang sempat menjadi trending topic di keluarga kami, kok bisa ya senyum tiap hari, terlihat bahagia sekali, SETIAP HARI! Apalagi ketika ibu saya iseng bertanya tentang keluarga beliau dan mendapati bahwa beliau bukan orang yang termasuk kategori beruntung. dibanding dengan kami, kami merasa jauh lebih beruntung. oke, saya ceritakan sedikit tentang kehidupan yang beliau jalani:
beliau tinggal di daerah tempuran, sekitar 20menit perjalanan ke wilayah rumahku di mertoyudan. setiap hari beliau berjualan jamu keliling dengan motor tuanya. beliau mempunyai istri yang juga berprofesi sebagai penjual jamu keliling, tapi jamu gendong dan hanya berjualan di sekitar tempuran. beliau mempunyai empat orang anak. saya lupa apa semuanya masih sekolah atau tidak, tapi yang terkecil sd, lalu smp, lalu smk, nah yang paling tua saya lupa bekerja atau masih sekolah.
ketika mengetahui sekelumit cerita ini, saya tidak bisa membayangkan apa yang membuat beliau mampu mempertahankan senyuman? kalo saya mah, gak bakal mampu. bahkan dengan kehidupan saya yang lebih baik, kuliah di ugm, punya kos yang nyaman dan cukup lengkap, tidak memikirkan besok dapat duit darimana, intinya semua kenyamanan yang saya miliki, belum tentu saya tersenyum setiap hari, senyuman yang setulus itu apalagi. mimpi itu mah.
tapi sekarang saya menyadari kebahagiaan itu bukan diukur dari kehidupan apa yang kamu jalani tapi rasa nrimo ing pandum yang kamu miliki atas kehidupan ini. ikhlas, syukur, sumeleh. kehidupan lebih baik tidak menjamin kebahagiaan, mungkin hanya akses menuju kesenangan. dan semua syarat yang kita ajukan untuk lebih bahagia seperti harta lebih melimpah, pacar ganteng, ip bagus, karir puncak, itu adalah kesenangan karena kebahagiaan tidak bersyarat. ya ini konsep yang sangat absurd sebenarnya, tapi ini konsep yang saya percayai. dan pemahaman saya tentang kebahagiaan yang seperti inilah yang memotivasi saya untuk selalu selalu bersyukur dengan kehidupan apapun yang saya jalani. bahagia itu dibentuk oleh pikiranmu, persepsimu sendiri. terimakasih bapak, telah menginspirasi dengan senyuman tulus setiap hari, yang membangkitkan otak saya untuk mengkonsep kebahagiaan menjadi seperti ini, terimakasih bapak :)))

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

birthday

sekarang sudah tanggal 8 agustus. 2 hari lalu adalah 6 agustus. hari yang biasanya saya nanti sejak satu minggu sebelumnya. lalu anehnya, saya melupakannya begitu saja. lupa selupa lupanya. bahkan kalau saya nggak buka fb hari ini pun, saya yakin saya gak inget inget juga. kalo 6 agustus kamu ulang tahun. ritual tahunanku dengan mendoakanmu dalam hening tanpa kebingaran, luput juga tahun ini. semuanya terasa aneh. saya bingung. saya senang karena sepertinya saya sudah benar-benar terbebas. sekaligus sedih, kenapa terbebas itu sepertinya identik dengan melupakan. tak bisakah saya terbebas dengan tetap mengingatmu. menunjukkan betapa ikhlas saya tentang kamu, apapun itu. ah ikhlas, bukankah itu adalah tahap yang sangat sulit untuk dicengkeram, bahkan sekedar digenggam ataupun diletakkan di atas telapak tangan?

Berpulang Pada Kalian

Tanpa sadar aku telah merangkak keluar dari kehidupan orang-orang yang aku sayangi. Dan ketika jarak terasa semakin jauh, seandainya bisa, aku akan berlari kembali.. (salah satu status fb) Status fb dengan batasan maksimal 160 karakter, tulisan yang sangat singkat, tapi ketika digali maknanya bisa sangat dalam. Seperti status yang ak post beberapa hari yang lalu. Suatu titik kesadaranku yang dengan telaknya meninju ulu hati sampai lebam. Ya, bagaimana tidak lebam ketika merasa terasing sendiri, kehilangan konvoi sosial tanpa disadari.. Proksimitas, aku merindukanmu begitu terpendam. Jarak yang begitu jauh terasa menyesakkan, dan rutinitas semakin menambah panjang saja jarak yang tercipta. Jarak bukan lagi sekedar jarak secara fisik dan ruang, tapi juga merenggangnya kelekatan dan semakin habisnya komunikasi dilahap oleh rutinitas yang membuatku melupakan komunikasi. Dan beginilah akibatnya, aku kehilangan sekian banyak teman-teman yan...

menghidupkan hidup

tak bisa dipungkiri, akhir-akhir ini saya benar-benar sedang mencintai dan menikmati kehidupan yang tengah berjalan. walaupun mungkin memang, saya semakin kehilangan waktu luang untuk sekedar bermain dan berkeliling. yah, seperti kehidupan saya di semester 3 kemarin sebenarnya. namun, ada yang berbeda di sini. di semester 3 saya tidak bisa menikmati semua kegiatan yang mayoritas dipenuhi dengan mengerjakan praktikum. and truly, that's suck. saya nggak rela kehilangan waktu bermain dan berkeliling yang saya gemari karena praktikum. tapi, lain dengan sekarang, karena apa yang saya jalani saat ini adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. saya semakin enjoy dengan proses kuliah di psikologi. semakin banyak hal menarik yang didapat di perkuliahan ini. rasa tertarik yang kemudian menumbuhkan motivasi intrinsik untuk belajar secara mandiri. sungguh, ini adalah sebuah pencapaian bagi saya. ketika saya menikmati proses pembelajaran, ketika saya didorong oleh keingintahuan, ketika ...