Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2013

another grrrr

sudah semangat ke perpus, sesampai di perpus sudah mengisi buku tamu, lalu si ibuk berkata: "mbak, perpus tutup jam setengah 12." saya melongo banget, menengok jam sudah pukul 11. "ah ya sudah buk. nggak jadi aja." kata saya kecewa. bingung akan mengerjakan dimana. akhirnya memutuskan makan terlebih dahulu. lalu opsi-opsi bermunculan: perpus pusat, perpus kota, djendelo. saya memutuskan ke djendelo saja. tapi karena udara sangat panas dan djendelo tiada ber ac, maka saya memutuskan pulang dulu. mengerjakan di kost yang adem dengan kipas angin yang setia menyemilirkan anginnya. baru nanti selepas sholat dhuhur, sekitar jam 2 saya akan berangkat ke djendelo, sudah terbayang-bayang es coklatnya dan lezatnya pukis mang tosir. itu yang ada di benak saya. sampai sudah di kos. kopi memang pahit tuan, tapi tidak lebih pahit dari siang ini. lampu kos mati saudara-saudara. hell!

grateful

i feel so grateful today because i've done some simple thing completely i woke up at 05.45 and prayed, something which is i've already passed since a week ago. then, i went to bed again hehe i woke up (again) at 09.00 and started to read "sampar" for 3 chapters. then, i could stand to iron my clothes even this morning was very hot. i enjoyed to do my thesis in semesta, with a cup of coffee and a nice breakfast lunch. i didn't miss to pray, both dhuhur and ashar.  i also had a quality praying this afternoon. i feel so bless! i went to pusman ugm to take my fourth level certificate, and i'm so proud to my self for i got 89! now, i am at perpus pusat ugm,  writing this post, and able to thank for everything i've through this day. thanks god, give me another please :)

don't ever erase me please. at least we've learned!

jadi malam ini sebagai salah satu jeda dalam usaha saya menuntaskan authentic happiness -nya Seligman, saya memutuskan untuk menonton eternal sunshine of the spotless mind lagi.   ah entah sudah berapa kali saya memutar film ini lagi dan lagi.  Film ini pas sekali untuk orang-orang yang ingin melepaskan diri dari masa lalunya.   kalau kata mbak raisa ya orang-orang yang terjebak dalam ruang nostalgia, eah! dan sepertinya banyak orang yang berharap if only lacuna inc. does exist.   yap entah seberapa besar luka di hati mereka sampai ingin menendang keluar seseorang dari kotak memorinya. hmm sesuatu yang merongrong di hati, harusnya diselesaikan di hati sih, bukan di otak. well hati apaan emang? itu kan cuma istilah konotatif karena sebenarnya apa yang ada di hati itu diprosesnya ya di otak.   dan lacuna inc. memahami itu, jadi dalam rangka menghapus memori, yang diserang adalah pusat emosi di otak. walaupun kemudian pada kenyataannya, hal ini tidak be...

damn it's true!

seligman (2002) said: we do not have a vehicle in our culture for telling the people who mean the most to us how thankful we are that they are on the planet - and even we are moved to do so, we shrink in embarassament. first thing that comes to my mind is: i have to thank to my mom as soon!

it means i'm not

T: kayaknya kamu lagi bahagia ya nop S: hah aku hari ini lagi gloomy malah T: kamu gloomy kenapa emang? S: nggak papa hell. i hate those words: nggak papa. karena itu seringnya berarti ada apa-apa yang tidak bisa dikatakan. sedihnya nggak papa adalah jawaban yang sudah otomatis terlontarkan, kenapa sih nov susah banget untuk mengakui bahwa ada hal yang buat kamu nggak enak, dan bisa bilang kalo memang ada hal yang bikin kamu gloomy. berhentilah berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, karena kamu sendiri tau bahwa kamu tidak sedang baik-baik saja!

gloomy evening

halo misteri yang tak kunjung tersibak tirainya murung ini melekat erat seperti mendung yang tak kunjung usai dari langit sore murung ini terlanjur tercerap dan aku tak bisa serta merta memerasnya mungkin aku ini adalah finladia, bukan indonesia finlandia yang dirundung pekat merindukan matahari bukan indonesia yang sering dibuai hangatnya hingga  abai akan hadirnya bahkan bila aku menggantungkan, menanam ribuan lampu berkerlip cahaya akankah aku lebih cerah? seandainya aku diberi peluit hanya dengan satu tiupannya aku bisa menyuruh mendung berarak pergi aku tetap memilih untuk menggantungkan, menanam ribuan lampu berkerlip cahaya karena hidup yang baik bukan tentang merasa baik saja tapi juga melakukan hal baik