Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2011

ketakutan irasional

pernahkah merasakan rasa takut sebelum mencoba sesuatu? pesimisme yang membuncah, kegamangan untuk melangkah, ketidakyakinan pada kekuatan sendiri, serasa ingin mati saja daripada menjalani sesuatu itu? orang bilang, menyerah sebelum berperang. padahal itu semua hanya karena omongan orang betapa mengerikannya medan laga yang harus dihadapi. omongan orang yang menghambatmu untuk optimis dan berbahagia dengan jalan yang akan ditempuh. begitu juga untuk urusan akademis. saya pernah mengalaminya berkali-kali, tapi yang teringat jelas dan sangat berkesan hanya ada dua. pertama, saat semester 3 di depan mata. semester paling hectic dan paling capek sepanjang perkuliahan. dua mata kuliah praktikum, dan itu errr menghabiskan waktu mainmu. saya ketakutan sekali, merasa tidak akan mampu melewatinya dengan selamat. ketakutan irasional yang membayang tak terelakkan. lalu hasilnya? saya masih hidup, selamat sampai tujuan dengan hasil memuaskan. ip melonjak cukup tinggi dibanding sem...

Rama Wirawan - Perang

Aku adalah orang aneh di tengah dunia yang penuh anomali. untuk tidak terhegemoni, aku rela bertahan dengan pikiran absurd sendiri. Aku adalah baju kusut di antara yang rapi . tak melambai bersama lainnya,karna debu dan kotoran melekat padaku terlalu tebal untuk dicuci. Ak adalah sebutir debu. terlalul kecil menjadi pengganggu. terlalu tak berarti di bawah kaki-kaki yang sedang berdansa itu. Aku adalah penyakit menular. terlalu berbahaya bagi dunia mapan untuk didengar. bahkan sekalipun diri ini kubakar, ini tak akan pernah membuat mereka sadar. Dunia ini adalah sekumpulan orang tuli, tak pernah tahu mereka tlah kehilangan kicau burung bernyanyi. tak mampu mendengar jeritan saudara-saudaranya yg menderita terinjak mereka punya kaki. Dunia ini adalah sekumpulan orang buta, tak bisa melihat ketidakadilan terjadi di hadapannya. tak pernah sadar bahwa mereka sedang berputar-putar pada tempat yg sama. Dunia ini sedang berpesta. dan aku adalah seorang tamu yg sengaja alpa ...

kepada tuhan yang esa

untuk mencintaimu sungguh-sungguh aku tak perlu lantang mengelukanmu aku tak perlu menjadi ksatria lalu membelamu untuk mencintaimu sungguh-sungguh aku hanya ingin selalu bisa mengingatmu menghirupmu merasakanmu mencecapmu aku hanya ingin selalu seperti itu pada setiap partikel hidupku untuk mencintaimu sungguh-sungguh aku akan menghidupi hidupku menghidupkanmu dalam hidupku untuk mencintaimu sungguh-sungguh aku hanya ingin luruh dalam kebesaranmu menerima keterbatasanku *nikmatnya yang manakah yang kan kau dustakan bila engkau hidup dengan udaranya

Fiksi

Fiksi. Sebuah tulisan yang menceritakan sesuatu, sesuatu yang beralur, berirama, bertokoh. Ia tidak gamblang dalam menyampaikan ide. Ia menggunakan simbol-simbol dalam pralambang karakter, maupun kejadian. Fiksi, tataran menulis yang tinggi, susah, tapi indah. Ketidakgamblangannya inilah yang memukau, memungkinkan multi tafsir pembacanya; membebaskan pembacanya untuk mengembara dalam lautan persepsinya, dalam kerangka pikirnya sendiri-sendiri. Fiksi, yah fiksi, jenis bacaan yang paling saya sukai. Fiksi itu bentuk seni sebuah tulisan. Seperti seni pula, ia sangat subjektif. Subjektifnya ide dan gagasan pembuatnya, subjektifnya para penikmat dan penghayatnya dalam memberi makna. Fiksi yang ditulis dengan berbagai simbol atas ide sang pembuat, dengan kedalaman makna atas simbol dan metafornya, kadang hanya dibaca permukaan, kadang dimaknai sedalam yang ditorehkan pembuat, kadang pulai dimaknai lebih mendalam dari yang ingin disampaikan pembuatnya. Hmm, saya jadi berandai-andai, ja...

waktu terbelah

periode begitu kah labelnya untuk sang waktu yang diberi batas yang kemudian masih harus dibelah semu ganjil genap begitu ku sebut dua periode dua nasib yang berbeda merentang jauh melebihi rentangan tanganku yang mencoba merengkuh ganjil periode ganjil membuatku ganjil jengah mencaci makinya merutukinya meyerapahinya berpeluh darah ganjil pun berakhir ganjil ganjil mengulas senyum genap optimisme menjalar di awal senang rileks gembira sepanjang hari genap ah genap tak menggenapkan menoreh miris di akhir perjalanan ganjil genap berbeda benarkah? ah aku saja yang memaknainya berbeda ganjil genap berlalulah sebentar sekarang adalah waktu antara biarkan aku melega tanpa cemas akan akhir antara untuk menjemput salah satu dari kalian ganjil genap

tanpa kalian

pohon rimbun telah menahun dedaunnya menjatuhkan diri atau dibawa angin mengembara jauh